Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kreasi Arik Dwi Asmara, Seniman asal Malang, Temukan Ide Kreatif Melukis Tanpa Cat saat tak Sengaja Menggores Mobil

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 4 November 2024 | 18:44 WIB
INOVASI: Arik Dwi Asmara menunjukkan dua kaus yang telah selesai dilukis menggunakan formula khusus.
INOVASI: Arik Dwi Asmara menunjukkan dua kaus yang telah selesai dilukis menggunakan formula khusus.

RUANG kerja Arik Dwi Asmara tampak selalu rapi untuk seorang seniman.

Di mejanya terdapat satu komputer dan satu kotak kuning berisi perlengkapan lukis.

Sama sekali tidak terlihat tumpahan cat atau tinta di mana-mana.

Laki-laki berusia 37 tahun tak keberatan untuk menunjukkan keahliannya dalam melukis.

Tangan kanannya segera mengambil sebuah kuas.

Sesaat kemudian dia membentangkan satu lembar kaus hitam pada sebuah papan.

Kemudian tangan kirinya mengambil wadah kecil berisi cairan putih yang diracik khusus untuk merusak warna kaus hingga memunculkan warna aslinya.

Perlahan, goresan-goresan kuas Arik membentuk pola menyerupai kepala singa.

Ternyata Arik menggambar karakter yang sangat familiar dengan sebutan Singo Edan di kalangan warga Malang.

Meski hanya memunculkan satu warna oranye kecokelatan (sesuai warna asli kaus), karakter raja hutan itu tampak tegas dan garang.

Biasanya, untuk kaus dengan gambar singa yang sedikit rumit diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga jam.

Namun untuk gambar yang lebih rumit bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Arik pernah melukis kaus dengan motif garuda yang dikerjakannya hingga tujuh jam.

Ide melukis kaus tanpa cat didapatkan Arik saat bekerja di sebuah bengkel cat mobil pada 2014 lalu.

Kala itu dia sedang mengecat sebuah mobil pesanan pelanggan.

Tanpa sengaja, Arik menggores hasil pengecatan, sehingga terlihat garis asli warna mobil.

Justru dari kesalahan yang tak disengaja itulah muncul ide tak biasa.

Yakni mengaplikasikannya pada objek lain, seperti kaus.

Perlahan dia membuat konsep, memilih bahan kaus yang cocok, hingga menemukan cairan pelarut warna kaus selama dua tahun.

“Sudah berjutajuta rupiah uang yang saya habiskan untuk riset,” ungkap Arik saat ditemui wartawan koran ini di rumah sekaligus tempat kerjanya di Kecamatan Bantur.

Arik harus membeli berbagai kaus dari macam-macam bahan untuk menemukan bahan terbaik yang bisa dimunculkan warna aslinya.

Setelah dua tahun baru ditemukan jenis yang cocok.

Yakni kaus berbahan katun bambu yang memiliki kualitas 10 kali lebih baik dari katun combed biasanya.

Pria kelahiran Pakisaji, Kabupaten Malang itu juga berkali-kali mencoba membuat formula cairan penghancur warna kaus.

Saat ini sudah ditemukan formula cairan yang bisa mengeluarkan warna asli kaus dalam waktu tiga detik saja.

Kuas yang digunakan juga didesain secara khusus agar lebih muda digunakan untuk melukis.

Terutama pada detail-detail kecil, seperti bulu burung garuda atau bulu singa.

Pada 2016, Arik baru berani mengenalkan temuannya pada khalayak umum. Inovasi melukis kaus tanpa cat itu pun menarik perhatian banyak seniman.

Hingga pada 2019, dia bisa mewakili Indonesia dalam sebuah pameran seni di Malaysia.

“Konsep yang saya bawa sejak awal hingga saat ini memang tentang kebudayaan dan kesenian daerah. Jadi semakin berkarakter dan banyak menarik minat,” ujarnya.

Saat ini Arik banyak melayani permintaan dari berbagai pelanggan di seluruh penjuru Indonesia.

Dia juga sibuk bergerilya mengajari anak-anak muda di kawasan Malang Raya untuk melukis kaus tanpa cat.

Terkadang Arik menggelar workshop gratis untuk memacu anak muda di daerahnya mengembangkan bisnis serupa.

Baca Juga: Semarak Kemerdekaan, Lima Ide Lomba untuk Memperingati HUT ke-79 Indonesia

“Karena saya dulu sempat mengalami masa kelam Sekarang saya ingin anakanak muda sekitar saya tidak sampai merasakan itu,” lanjut Arik sembari mengenang masa mudanya.

Arik memang sudah terbiasa mencari uang sejak berusia delapan tahun.

Kala itu dia berjualan koran dan kerja serabutan untuk membiayai pendidikannya.

Arik juga harus hidup bersama neneknya sejak kecil lantaran kedua orang tuanya berpisah.

Dari pengalaman bertahan hidup di jalanan itu, mental Arik terbentuk untuk selalu mandiri dan mengembangkan usaha.

Berkali-kali dia lolos dari ujian, termasuk saat terjadi pandemi Covid-19.

Saat itu omzet penjualan karyanya justru semakin meningkat. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#seniman #melukis #Arik Dwi Asmara #Tanpa cat #malang #ide kreatif