MALANG KOTA – Belum semua kampung tematik di Kota Malang bangkit pasca-pandemi.
Beberapa kampung masih vakum dari kegiatan.
Salah satunya Kampung Topeng di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang.
Sebelum pandemi, kampung itu kerap dikunjungi wisatawan.
Apalagi di sana ada dua topeng raksasa yang menjadi ikonnya.
Yakni topeng karakter Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji.
Dua topeng itu masing-masing memiliki lebar 5 meter dan tinggi 7,5 meter.
Selain itu, ada topeng-topeng kecil yang ditempel di dinding rumah warga maupun dinding kampung.
Karena banyak topeng, wisatawan kerap menjadikan lokasi itu sebagai spot foto.
Namun, sejak 2020 kunjungan ke Kampung Topeng semakin surut.
Warga pun ingin ke depan pemerintah daerah kembali memberi perhatian.
”Kami berharap ada kerja sama lagi dengan dinas agar kampung bisa bangkit kembali,” kata salah satu warga bernama Andi, kemarin (5/11).
Pria yang sehari-hari bekerja mencari barang bekas itu bercerita kalau dia sudah tinggal di Kampung Topeng sejak peletakan batu pertama.
Tepatnya tahun 2016.
Saat itu, Pemkot Malang mendapat bantuan dari Kementerian Sosial.
Bantuan yang diberikan yakni pembangunan permukiman melalui program Desaku Menanti di atas lahan seluas 5.000 meter persegi.
Sebelum menjadi Kampung Topeng, kawasan itu menjadi tempat penampungan para gelandangan dan pengemis.
Karena termasuk tempat bagi gepeng, Andi sempat menolak saat dirinya mendapat tawaran untuk pindah dari pemkot.
”Tapi kemudian saya diberi modal usaha dan rumah. Kemudian kampung juga dikembangkan, sehingga tidak hanya untuk gepeng saja”, terang pria yang sebelumnya tinggal di Jalan Muharto tersebut.
Selain berharap ada kegiatan, Andi juga berharap agar rumah-rumah yang ditempati sekarang mendapat SHM.
”Sejak dulu kami hanya mendapat hak guna bangunan. Jadi kalau mau mengubah atap atau membangun fasilitas lain seperti toilet tidak berani,” tandasnya. (mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana