Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Malang Siap Songsong Kota Kreatif Dunia 2025

Aditya Novrian • Sabtu, 9 November 2024 | 02:20 WIB
Dwi Rahayu Kepala Bappeda Kota Malang
Dwi Rahayu Kepala Bappeda Kota Malang

Bappeda Gelar Rembuk Ekonomi Kreatif Keempat

MALANG KOTA – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang menggelar Rembuk Ekonomi Kreatif (Ekraf) Ke-4 kemarin (7/11).

Bertempat di Ijen Suites Resort & Convention Malang, kegiatan itu dihadiri 150 orang yang merupakan perwakilan dari 17 subsektor ekonomi kreatif.

Kepala Bappeda Kota Malang Dwi Rahayu menjelaskan, Kota Malang saat ini terpilih menjadi anggota jaringan kota kreatif dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Tepatnya di bidang seni media tingkat nasional. Bersanding dengan Kota Ponorogo dengan kesenian reog.

Kedua daerah akan tampil di kancah internasional pada 2025.

”Sebagai persiapan, kami menggelar rembuk ekraf secara rutin. Ini rembuk yang keempat,” kata Dwi.

Dwi melanjutkan, dalam ekraf pihaknya mengundang Ketua Tim Panselnas Kemenparekraf Harry Waluyo.

Itu karena Harry sudah lama berkecimpung di UNESCO.

Dia juga merupakan Fasilitator ICH-UNESCO untuk Asia Pasifik.

Selain Harry, ada Wakil Ketua Komite Ekraf Vicky Arief dan brand developer yang juga founder Utero Indonesia Dadik Wahyu Chang.

Seluruh perwakilan diajak berdiskusi bersama beberapa narasumber yang menjadi undangan.

Tujuannya agar tercipta sinergisitas sekaligus pengisian dossier agar sesuai dengan kondisi di lapangan.

”Kalau menurut Pak Harry, potensi yang ada di Kota Malang saat ini sudah luar biasa,” terang Dwi.

Misalnya saja keberadaan Kajoetangan Heritage dan Malang Creative Center (MCC).

Sementara itu, Harry Waluyo menjelaskan kalau pihaknya sudah melakukan visitasi ke lapangan.

Visitasi berlangsung mulai tanggal 25-26 September lalu.

Lokasinya ke Kajoetangan Heritage, Balaikota Malang, Candi Badut, SMP Insan Amanah, Museum MPU Purwo, Startup Majoo, KEK Singhasari, MCC, Kampung Warna-Warni, dan kawasan kreatif lainnya.

Harry memberi contoh, di Kajoetangan kondisinya sudah tertata.

Hal itu selaras dengan kondisi warga yang juga memiliki kesadaran untuk menjaga aset yang ada.

”Ini menjadi multiplier effect,” ucapnya.

Kemudian MCC yang di bangun untuk mendorong masyarakat agar lebih mandiri.

Selain memberi manfaat bagi masyarakat, MCC juga memberi dampak kepada lingkungan.

Salah satunya dengan keberadaan ventilasi yang membantu mengurangi penggunaan AC yang bisa mempengaruhi global warming.

“Jadi kalau bicara ekonomi kreatif, juga bisa memberi manfaat bagi global,” tandasnya. (mel/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kota kreatif #Unesco Creative Cities Network #Bappeda Kota Malang #malang kota