Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Museum Pendidikan Hadirkan Tampilan Baru

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 15 November 2024 | 19:20 WIB

 

LAWAS: Salah satu sudut Museum Pendidikan menyajikan mesin ketik tahun 1930-1980.
LAWAS: Salah satu sudut Museum Pendidikan menyajikan mesin ketik tahun 1930-1980.

MALANG KOTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang melakukan penataan Museum Pendidikan sepanjang Oktober lalu.

Saat ini, museum di Jalan Raya Tlogowaru itu memiliki tampilan baru. Yakni Ditata berdasarkan periodisasi sejarah di Kota Malang.

Mulai masa kerajaan, perang dunia pertama, perang dunia kedua, hingga saat Kota Malang dijadikan kota pendidikan tahun 1969.

Menurut Koordinator Museum Pendidikan Adini Nur Rahmiza, setiap masa menampilkan pesan moral masing masing. Misalnya pada masa kerajaan yang menampilkan bagaimana rakyat tunduk ke raja.

”Lalu untuk masa perang, kami memperlihatkan tampilan seorang anak yang menggunakan masker. Karena saat perang identik dengan senjata dan sisa sisa bom, sehingga anak harus melindungi pernapasan dengan masker,” jelas dia.

Sudut sudut museum lain juga menampilkan edukasi dan pembelajaran. Salah satu nya pembelajaran biologi yang menyajikan koleksi hewan darat, udara, dan air. Organ tubuh hewan hewan itu diambil lalu diawetkan.

“Koleksi hewan sebenarnya sudah lama. Tapi kami putar penempatannya agar pengunjung tidak bosan,” imbuh perempuan yang akrab disapa Rara tersebut.

Koleksi lain yang ditampilkan adalah perkembangan alat pembelajaran. Dari yang sebelum nya berupa bangku bangku tua, berkembang menjadi sarana pembelajaran modern berupa peralatan laboratorium.

Ada pula lonceng atau bel hingga mesin ketik dari hibah sekolah sekolah di Kota Malang. Pengunjung juga diajak mengenal para pahlawan melalui koleksi poster maupun patung.

Misalnya Abdul Rachman Saleh dan Ki Hajar Dewantoro. Agar tidak bosan, di Museum Pendidikan juga terdapat movie room. Kapasitas nya bisa untuk 30 orang.

”Kalau datangnya rombongan besar bisa masuk bergiliran. Ada yang kami bawa berkeliling, ada yang menonton film,” tuturnya. (mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#penataan ulang #Kota Malang #museum pendidikan malang