MALANG KOTA - Meski mengalami kenaikan, inflasi di Kota Malang pada bulan November masih terkendali.
Bank Indonesia (BI) Malang menyebut kondisi itu disebabkan sinergi kolaboratif dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang.
Sehingga mampu menekan inflasi dan tidak melewati batas sasaran.
Kepala Perwakilan BI Malang Febrina mengatakan, sinergi itu dijabarkan dengan pelaksanaan beberapa kegiatan.
Seperti sidak pasar dan distributor untuk memantau harga dan stok bahan pokok menjelang Pilkada dan Nataru.
Kegiatan tersebut sudah dilaksanakan pada 26 November lalu.
”Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah juga sudah digelar selama bulan November,” tuturnya.
Selain itu, juga ada tindak lanjut dari rapat koordinasi (rakor) rutin mingguan pengendalian inflasi bersama Kemendagri.
Berdasar rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada bulan November mengalami inflasi bulanan sebesar 0,24 persen month to month (mtm).
Angka itu meningkat dibanding bulan sebelumnya, yang mengalami inflasi 0,20 persen (mtm).
Dengan capaian tersebut, Kota Malang tercatat mengalami inflasi tahunan sebesar 1,22 persen (yoy), atau 0,89 persen year to date (ytd).
Inflasi periode November 2024 didorong kenaikan harga di kelompok makanan, minuman dan tembakau, dengan andil 0,17 persen (mtm).
Berdasar komoditas penyebabnya, inflasi terbesar di Kota Malang didorong kenaikan harga komoditas bawang merah, emas perhiasan, daging ayam ras, tomat, dan minyak goreng.
”Kenaikan harga bawang merah dan tomat terjadi seiring masa panen holtikultura yang telah usai, sehingga memengaruhi jumlah pasokannya,” tambah Febrina.
Sementara kenaikan harga daging ayam ras disebabkan meningkatnya banderol harga pakan unggas.
Sejauh ini, inflasi masih tertahan deflasi pada sejumlah komoditas.
Seperti beras, cabai rawit, kentang, cabai merah, dan pisang. (dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana