Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Desainer dari Kota Malang Utamakan Kenyamanan, Sesuaikan Kebaya dengan Karakter Pengguna

Bayu Mulya Putra • Minggu, 15 Desember 2024 | 17:00 WIB
KOMBINASI GAYA MUSIK ROCK: Dian Likos Amelia (depan) membawakan koleksi bertema Funky Kebaya dalam event Malang Fashion Week 2024, November lalu. DIAN LIKOS AMELIA FOR RADAR MALANG
KOMBINASI GAYA MUSIK ROCK: Dian Likos Amelia (depan) membawakan koleksi bertema Funky Kebaya dalam event Malang Fashion Week 2024, November lalu. DIAN LIKOS AMELIA FOR RADAR MALANG

Bawahan untuk kebaya tak harus dengan jarik atau kain batik. 

Bisa juga dengan kain polos atau celana. 

Tren itu mulai banyak berkembang di Kota Malang. 

Menjadikan kebaya tak hanya identik dengan acara formal.

Bisa juga dikenakan untuk acara-acara non-formal.

Dian Likos Amelia, salah satu desainer dari Kota Malang mengakui bahwa kreativitas jadi poin penting agar kebaya dapat tetap diterima semua kalangan. 

”Tidak harus sama persis dengan pakem. Pakem digunakan sebagai acuan utamanya, namun tetap dimodifikasi,” tutur dia. 

Dia mencontohkan kebaya kutu baru, dengan desain di bagian dada yang tetap sesuai pakem. 

Namun di bagian lengan yang biasanya hanya lurus dikombinasikan dengan lengan balon. 

Begitu juga dengan kebaya Kartini, dengan kerahnya yang sama, namun bagian bawah maupun lengannya dikombinasikan. 

Sejak 2018 berkecimpung di dunia fashion kebaya, Dian melihat berbagai model dan gaya terus bermunculan. 

Sebagai desainer, dia harus banyak membaca dan mencari referensi tren terbaru. 

Selain model, tren warna kebaya juga berubah setiap tahunnya.  

”Seperti 2024 ini, warna yang banyak muncul adalah warna tanah,” tutur perempuan yang juga menjabat sebagai Kabid Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang itu. 

Karena itu, banyak bermunculan kebaya dengan warna cokelat, merah maroon, dan burgundy. 

Meski desain terus berkembang, Dian tetap menekankan pentingnya kenyamanan dan karakter yang sesuai dengan pemakainya.  

Seperti kebaya yang dikenakan saat kerja. 

Saat ini, Pemkot Malang mewajibkan ASN untuk memakai baju khas UMKM Malang setiap hari Kamis. 

”Nah itu bagus pakai kebaya. Lalu bawahnya celana kulot polos, lebih simple,” kaya pemilik brand Lycoz Kebaya tersebut.  

Sehingga, kebaya tidak melulu dipasangkan dengan jarik atau kain batik saja. 

Namun juga bisa dikombinasikan dengan bawahan lainnya. 

Jika karakter pemakainya girly, bisa memakai rok. 

Sementara jika pemakainya punya mobilitas tinggi, bisa mengenakan celana. 

”Yang terpenting nyaman,” imbuhnya.  

Dalam event Malang Fashion Week 2024, November lalu, Dian membawakan koleksinya yang bertema Funky Kebaya. 

Dia memadukan kebaya dengan gaya musik rock. 

Warna hitam paling dominan. 

Senada dengannya, desainer kebaya pernikahan Rangga P. Soekarto juga mengatakan hal serupa. 

Dia menyebut bila saat ini jarang orang yang mau memakai kebaya pakem saat pernikahan.

”Mereka umumnya memilih kebaya gaun,” tutur pemilik brand Keraton Jawi Kebaya tersebut. 

Sebab, kebaya pakem memiliki potongan yang standar atau dianggap biasa. 

Sedangkan transformasi kebaya modern saat ini lebih beraneka ragam. 

”Jadi tidak selalu kebaya dengan kancing di bagian depan, ada juga yang di belakang,” tuturnya. 

Selain itu, desain saat ini lebih banyak bermain di bagian ekor. 

Karena untuk pernikahan, banyak yang suka memakai kebaya gaun dengan ekor panjang ke belakang. (dur/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Desainer #Kebaya #Kota Malang #semua kalangan