Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

BI Malang Optimistis Perekenomian 2025 Membaik

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 8 Januari 2025 | 18:00 WIB
RIO/ RADAR MALANG
RIO/ RADAR MALANG

Pertumbuhan Diprediksi Melebihi Tahun 2024 

MALANG KOTA – Sepanjang 2024, pertumbuhan ekonomi di Wilayah Kerja (Wilker) Bank Indonesia (BI) Malang diperkirakan berada di kisaran 5,1 persen. 

Angka tersebut lebih lambat jika dibandingkan tahun 2023 yang tumbuh sebesar 5,36 persen. 

Untuk tahun ini, BI memprediksi terjadi peningkatan dibanding tahun lalu.

Photo
Photo

Salah satu indikasi perlambatan pada 2024 adalah pertumbuhan kredit yang hanya 13,49 persen year on year (yoy) pada posisi November 2024. 

Lebih rendah dibandingkan posisi Desember 2023 yang mencapai 16,01 persen. 

Pada hal Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,20 persen, lebih tinggi dibanding 2023 yang sebesar 6,33 persen. 

Rilis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kinerja ekonomi di Wilker BI Malang pada Triwulan ke III 2024 juga menunjukkan pertumbuhan 5,14 persen yoy. 

Melambat jika dibandingkan dengan triwulan II yang tumbuh sebesar 5,21 persen. 

Angka tersebut bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dan Nasional yang masing-masing sebesar 4,91 persen dan 4,95 persen. 

Kepala Wilker BI Malang Febrina menyebutkan, perlambatan terjadi pada konsumsi akhir rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto. 

Perlambatan tersebut masih tertahan oleh konsumsi pemerintah selama periode Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. 

Meskipun begitu, secara umum perekonomian di WIl ker BI Malang masih tumbuh positif. 

Terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, pertanian, penyediaan akomodasi, dan makanan-minuman. 

Untuk tahun ini, Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding 2024. 

Optimisme itu didorong sektor-sektor kunci. 

Seperti pariwisata, industri manufaktur, pertanian, perdagangan, penyediaan akomodasi, dan makanan-minuman. 

“Sektor tersebut akan meningkatkan kegiatan ekonomi secara keseluruhan,” tuturnya. 

Berdasarkan hasil liaison BI Malang, kinerja ekspor tahun 2025 diproyeksikan tumbuh. 

Itu bisa terjadi seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. 

Juga karena peluang pembukaan pasar baru di negara mitra dagang, khususnya di ASEAN. 

”Pendapatan masyarakat di Wilker BI Malang diperkirakan ikut meningkat. Itu sejalan dengan hasil survei konsumen BI Malang pada posisi Desember,” ungkap perempuan kelahiran Palembang tersebut. 

Indeks Prakiraan Kegiatan Usaha, Indeks Prakiraan Penghasilan dan Ketersediaan Lapangan Kerja pada 6 bulan mendatang diyakini berada pada level optimistis. 

Febrina menambahkan, pembangunan infrastruktur oleh swasta dan pemerintah akan turut mendorong aktivitas perekonomian. 

Misalnya. pengembangan Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) yang terus berlangsung tahun ini. 

Nilai investasinya cukup besar di bidang pariwisata, ekonomi digital, pendidikan, dan juga industri kreatif. 

Begitu pula dengan proyek infrastruktur di Jatim, seperti pembangunan jalan tol, pelabuhan, hingga perumahan yang dapat memperbesar kebutuhan uang tunai untuk membayar kontraktor, pekerja, dan penyedia bahan baku. 

Yang tak kalah penting, program-program sosial pada 2025 ikut mendorong peningkatan outflow uang. 

“Misal nya program makan bergizi gratis di sekolah-sekolah,” ungkap Febrina. 

Optimisme lain muncul dari sektor pariwisata. 

Beberapa pengusaha bidang perhotelan sudah yakin tahun ini bisa pulih mendekati kondisi normal seperti sebelum pandemi. 

Yang terakhir adalah peningkatan hasil produksi pertanian, khususnya pada komoditas tebu, kopi dan tembakau. 

“Ini dipengaruhi kondisi iklim yang kondusif setelah terjadinya El Nino beberapa tahun terakhir,” terangnya. 

Antisipasi Tantangan 

Meski demikian, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi pada awal tahun ini. 

Diantaranya perubahan kebijakan moneter global yang diterapkan bank-bank sentral besar. 

”Perubahan suku bunga, kebijakan stimulus, pengaturan mata uang dapat menambah ketidakpastian bagi ekonomi dunia. Itu bisa berimplikasi pada perekonomian domestik yang turut mempengaruhi investasi di daerah,” terangnya. 

Tantangan lain bisa berupa kenaikan harga komoditas, terutama energi dan bahan baku yang berpotensi mengalami kenaikan akibat memanasnya kembali tensi geopolitik. 

Jika itu terjadi, biaya produksi bisa naik dan berpotensi menurunkan produksi pada sektor industri pengolahan. 

Bahkan, iklim atau cuaca masih dikhawatirkan mempengaruhi kinerja sektor pertanian. 

BMKG memperkirakan cuaca pada Januari sampai Maret 2024 berada pada fase La Nina lemah. 

Kondisi itu berpotensi menahan kinerja panen hortikultura. 

”Tapi secara umum kondisi iklim sepanjang 2025 diprediksi lebih stabil dan kondusif dibanding 2024,” tandasnya. 

Hal senada dikhawatirkan Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Santoso. 

Menurutnya, awal tahun ini terdapat tantangan gejolak harga beberapa komoditas karena peningkatan permintaan maupun keterbatasan pasokan karena produksi terganggu oleh cuaca. 

”Kenaikan harga karena penyesuaian upah minimum dan PPN 12 persen dapat mendorong inflasi dan Menggerus Daya beli masyarakat,” tuturnya. 

Karena itu, penurunan daya beli masyarakat perlu diantisipasi lebih dini dengan berbagai stimulus. 

Misalnya stimulus fiskal untuk mengurangi beban pengusaha, seperti relaksasi perpajakan,” tuturnya. 

Menurutnya, yang tak kalah penting adalah mereview kembali pemberlakuan PPN 12 persen agar dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan kemajuan sektor ekonomi. 

Sementara Pemerintah Daerah harus fokus pada stabilisasi harga. 

Di sisi lain, belanja daerah jangan sampai melempem di awal tahun seperti yang terjadi selama ini. 

”Idealnya harus di genjot sejak awal tahun anggaran agar efektif menstimulasi perekonomian daerah,” imbuhnya. 

Pantauan di Kota Malang, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) menunjukkan beberapa organisasi perangkat daerah mulai melakukan belanja jasa konsultasi untuk tender sejak triwulan pertama. 

Misalnya jasa konsultasi untuk rehabilitasi Stadion Gajayana dan belanja konsultasi dalam rangka pengerjaan drainase di beberapa lokasi. 

“Memang sekarang Pj Wali Kota Malang dan Sekda Kota Malang sedang mendorong OPD agar melakukan belanja lebih awal,” kata Kabag Perekonomian, Infrastruktur, dan Sumber Daya Alam (PISDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang Eny Handayani Eny. 

Belanja yang dilakukan pemkot pada awal tahun akan sangat membantu pertumbuhan ekonomi. 

Penjualan barang dan jasa jadi meningkat, sehingga berpengaruh terhadap peredaran uang. (dur/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#pertumbuhan ekonomi #bank indonesia (bi) #malang