Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Waspadai Kenaikan Harga Komoditas di Kota Malang hingga Maret

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 9 Januari 2025 | 21:00 WIB
RIO/ RADAR MALANG
RIO/ RADAR MALANG

Imbas Nataru yang Berdekatan dengan Ramadan dan Idul Fitri 

MALANG KOTA – Momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berdekatan dengan Ramadan menuntut pemerintah mewaspadai inflasi. 

Harga-harga masih relatif tinggi pada Januari, dan diperkirakan kembali naik pada Februari. 

Kelompok makanan dan minuman bakal menjadi penyumbang tertinggi inflasi seperti akhir 2024. 

Photo
Photo

Berdasar rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Desember 2024 mengalami inflasi sebesar 1,36 persen year on year.

Sementara secara month to month, inflasi Kota Malang tercatat sebesar 0,46 persen. 

Komoditas penyumbang inflasi paling besar Desember lalu merupakan kelompok makanan dan minuman. 

Diantaranya telur ayam ras yang mengalami kenaikan harga sebesar 10,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

Kemudian bawang merah naik 26,37 persen, cabai merah naik 60,97 persen, cabai rawit naik 31,89 persen, dan minyak goreng naik sekitar 2,20 persen. 

Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan, kelompok makanan dan minuman rutin menyumbang inflasi selama lima bulan terakhir. 

”Itu karena tingginya permintaan. Meskipun stok nya banyak, tetap saja terjadi perubahan harga,” tuturnya. 

Disisi lain, emas yang selama 11 bulan berturut-turut mengalami inflasi (sejak Januari sampai November), justru mengalami deflasi sebesar 0,60 persen pada Desember 2024. 

Tapi, karena sebelumnya terus menerus mengalami kenaikan harga, emas menjadi penyumbang inflasi utama selama 2024. 

Total kenaikan harga emas selama satu tahun sebesar 34,10 persen. 

Umar tidak bisa memperkirakan besaran inflasi pada Januari 2025. 

Namun, jika melihat kecenderungan sejak 2020 sampai 2023, bulan Januari selalu mengalami inflasi. 

Kecuali tahun 2024 yang mengalami deflasi. 

Tapi Umar yakin inflasi Januari 2025 tidak akan setinggi Desember 2024. 

”Karena permintaan pada Januari tidak sebanyak Desember,” terangnya. 

Inflasi diperkirakan meningkat lagi saat Februari karena mendekati Ramadan. 

Begitu juga bulan Maret, saat permintaan barang meningkat karena mendekati Hari Raya Idul Fitri. 

Pantauan Jawa Pos Radar Malang di sejumlah pasar, beberapa komoditas mengalami kenaikan dan penurunan harga pada awal Januari. 

Harga cabai rawit mengalami kenaikan, sementara harga bawang merah dan telur ayam cenderung turun, meski masih lebih tinggi dibanding kondisi normal. 

Sementara minyak goreng cenderung stagnan di harga tinggi (lihat grafis). 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Febrina menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab kenaikan harga komoditas pada Desember lalu. 

Seperti harga telur ayam ras yang didorong peningkatan permintaan pada momen Nataru. 

Sementara kenaikan harga bawang merah terjadi seiring dengan telah selesainya masa panen dan mempengaruhi jumlah pasokan. 

Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit lebih disebabkan oleh tingginya curah hujan sehingga banyak petani gagal panen. 

Akibatnya, pasokan ke pasar berkurang di tengah tingginya permintaan. 

Di sisi lain, kenaikan harga minyak goreng dipicu peningkatan harga Crude Palm Oil (CPO) dunia serta berakhirnya Domestic Market Obligation (DMO) yang berdampak pada kenaikan harga minyak curah. 

”Tapi, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada komoditas alpukat, daging ayam ras, emas perhiasan, beras, dan kentang,” tuturnya. 

Untuk mengendalikan inflasi, sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). 

Juga penguatan program 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi efektif). 

Berbagai upaya itu ditujukan untuk menjaga level inflasi tahun 2025 dalam rentang 2,5 ± 1 persen year on year. program pengendalian.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian, Infrastruktur, dan Sumber Daya Alam (PISDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Malang Eny Handayani mengatakan, sebagai antisipasi untuk mengendalikan kondisi pasar, pihaknya akan melakukan sejumlah upaya. 

Pertama membuka Warung Tekan Inflasi. 

Lokasinya di Pasar Dinoyo, Pasar Blimbing, dan Pasar Besar Malang. 

Warung Tekan Inflasi di tiga pasar tidak akan menyaingi harga komoditas di pasaran. 

Sebab, komoditas yang dijual disesuaikan dengan komoditas yang memiliki andil dalam inflasi. 

Harganya juga sesuai harga eceran tertinggi (HET). 

Pemkot Malang juga melaksanakan program pangan murah, operasi pasar di pasar tradisional hingga modern, serta bantuan sosial terpadu. 

“Bahkan untuk bantuan sosial terpadu kami mendapat bantuan dari CSR,” terang Eny. 

Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Pemkot Malang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 

Salah satunya adalah Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas). 

Direktur Utama Perumda Tunas Dodot Tri Widodo mengatakan, setiap hari pihaknya rutin membuka penjualan sembako melalui Tunas Grosir. 

Hal itu juga bisa mendukung pemkot untuk pengendalian inflasi jika terjadi gejolak harga saat Ramadhan. 

“Biasanya memang ada peningkatan volume permintaan bahan pokok sekitar 20 persen menjelang Ramadan,” ungkapnya. 

Ada beberapa jenis bahan pokok yang dijual dalam program tersebut. 

Mulai dari beras, gula, minyak, tepung, dan telur. 

Untuk mendukung penjualan sembako-sembako tersebut, Perumda Tunas pihaknya biasanya menyiapkan dana sebesar Rp 80 juta. (dur/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Naik #makanan dan minuman #Ramadan #Kota Malang #kenaikan harga #Natal dan tahun baru (nataru) #inflasi