Di tengah gempuran coffee shop di Kota Malang, sejumlah kedai teh tetap eksis.
Eksperimen dari berbagai bahan menjadi daya tariknya.
Khasiat dari setiap resep banyak diburu berbagai kalangan.
AROMA teh langsung tercium saat memasuki ruangan Kafe Pop Mason 52 di Jalan Arif Munandar, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Kedai teh yang berdiri sejak 2023 itu menyajikan puluhan kotak berisi ragam jenis teh yang berbeda.
Mulai dari teh lokal hingga teh racikan mancanegara.
Juga ada meja khusus untuk menyeduh teh.
Selain mencicipi berbagai jenis teh, pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan teh secara langsung.
Mulai dari memilih teh, menyeduh, dan mencicipinya melalui gelas kecil.
Berbeda jenis teh, sensasi yang dirasakan juga berbeda.
Misalnya teh guan yin yang memiliki sensasi rasa seperti minum kopi robusta.
Atau konings tema, yang merupakan campuran teh hitam, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan jinten.
”Kalau totalnya di sini kami koleksi sekitar 77 jenis teh,” kata Septian Alex, Master Tea Pop Mason 52.
Mayoritas jenis tehnya merupakan hasil eksperimen dari pemilik kedai.
Mulai dari percampuran berbagai jenis teh, bunga, buah, dan rempah.
Beberapa di antaranya juga di datangkan dari mancanegara.
Seperti Jepang, China dan Taiwan.
Sebab, budaya minum teh mula nya berasal dari negara-negara itu.
Ketika ada pengunjung yang datang, Septian biasanya akan menanyakan mood customer-nya.
Itu dilakukan karena teh bisa dijadikan metode stress release dan melegakan badan.
”Misalnya saja teh berempah yang dapat merelaksasi tubuh,” tambahnya.
Selera teh juga dapat dideteksi dari usia dan gender pengunjung.
Misalnya saja pengunjung perempuan muda, Septian akan menawarkan jenis teh yang lebih manis dan sedikit asam.
”Campuran teh dan berry atau teh bunga banyak disukai perempuan,” kata dia.
Sementara itu, pengunjung yang sudah berumur rata-rata memilih teh rempah dan tak banyak rasa.
Mereka lebih ingin menikmati teh sebagai minuman yang melegakan badan.
Kualitas teh yang beragam membuat khasiatnya juga turut bervariasi.
Misalnya saja, aged phu erl yang telah difermentasi selama 10 tahun.
Semakin lama tersimpan, harganya semakin fantastis karena khasiatnya.
Karena itu, Septian membanderol harga teh cukup beragam.
Mulai dari nominal Rp 20 sampai Rp 40 ribu per gelas.
Tak hanya berbentuk minuman, olahan makanan berbahan baku teh juga disediakan.
Seperti ramen atau gyoza dengan kuah yang dicampur dengan teh.
”Ampas tehnya bisa langsung dimakan bersama olahannya, dan itu banyak khasiatnya,” paparnya.
Tidak ada rasa yang aneh ketika dimakan.
Seperti makan sayur biasa.
Harganya mulai dari Rp 20 sampai Rp 60 ribu untuk sajian masakan.
Selain menyediakan dine-in, Septian juga mengaku banyak wisatawan yang tertarik membawa pulang teh untuk diseduh sendiri di rumah.
Untuk satu kotak teh, harganya beragam.
Mulai dari Rp 60 ribu untuk ukuran 15 gram.
Hingga yang termahal dibanderol dengan harga Rp 1,2 juta dengan berat 350 gram. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana