Dulu Stasiun Kereta Api (KA) Jagalan atau Malang Jagalan menjadi tempat naik dan turunnya orang beserta barang.
Lengkap dengan beragam fasilitasnya.
Kini hanya menjadi jalur langsir atau jalur maju mundur gerbong ketel BBM.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
STASIUN KA legendaris itu terletak di RT 9/RW 6, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Mulai dibangun sekitar tahun 1897.
Dalam buku berjudul ’De Stoomtractie Op Java en Sumatra’ karya J.J.G Oegema tahun 1982, disebutkan bahwa Stasiun Jagalan dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur trem dari Malang menuju Gondanglegi.
Periodenya bertepatan dengan konsesi yang diperoleh Malang Stoomtram Maatschappij (MS) dari pemerintah kolonial Belanda untuk pembangunan jaringan rel trem tahun 1894.
Jaringan kereta api berbeban ganda ringan itu kemudian dikembangkan lagi.
Dengan pembangunan yang mengarah ke wilayah utara.
Tepatnya menuju Blimbing, lewat Alun-Alun Merdeka dan Kajoetangan.
Pembangunan rel di tengah kota itu untuk menghubungkan antara Jalan dengan jalur trem menuju Blimbing, Tumpang, dan Singosari.
Proses pembangunannya rampung pada 1901.
Layanan trem di stasiun tersebut masih ada sampai tahun 1978.
Sementara jalur ke Kajoetangan tidak bersisa.
Hanya rel menuju stasiun Malang Kotalama dan Depo Pertamina saja yang masih tampak.
Dulu, Stasiun Jagalan dipakai untuk naik dan turunnya penumpang.
Kini menjadi jalur langsir atau maju mundur gerbong ketel BBM dari Depo Pertamina menuju ke Stasiun Malang Kotalama.
”Kalau malam ada tujuh kali langsiran. Kalau pagi sampai pukul 11.00 ada empat kali,” kata Lamsari, 92, salah satu warga yang ada di sana.
Bangunan utama Stasiun Jagalan masih berdiri kokoh.
Dengan atap lama dan beberapa ornamen ukiran kayu yang masih terlihat.
Bila dilihat dari Jalan Halmahera, akan terlihat deretan lapak PKL penjual buah.
Di balik itu, deretan rumah bedeng dengan lebar dua meter memenuhi bangunan utama.
Saat masih aktif, bagian depan yang menjadi deretan PKL itu menjadi tempat perhentian angkudes atau bemo jurusan Jagalan-Dampit.
Juga menjadi pangkalan dokar.
Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, kini terdapat sekitar 20 rumah warga.
Baik di bagian depan, maupun di belakang pinggir rel.
Bagian utara stasiun, yang bersebelahan dengan gang masuk di Jalan Kyai Tamin Gang 1 dulunya adalah ruang tunggu.
Tempat di mana orang bisa melihat ornamen tinggalan Belanda.
Sekitar 10 meter ke selatan, dulunya ada loket, ruang kepala stasiun, dan ruang petugas Pengatur Perjalanan KA (PPKA).
Sayangnya, dua ruangan itu sudah tidak terlihat.
Berubah menjadi rumah warga, yang kebanyakan merupakan pendatang.
Berdasar data Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) tahun 1965, dulu ada enam jalur kereta di sana.
Jelang penutupan, tersisa hanya empat saja.
Kini menyusut menjadi satu jalur.
Lamsari masih ingat betul bahwa dulu Stasiun Jagalan cukup ramai.
Dengan KA silih berganti datang dan pergi menuju ke Alun-Alun dan ke Gondanglegi.
”Orang dan barang naik dari sini semua, memang dulu ramai sekali,” kata dia.
Aktivitas naik turun orang dan penumpang itu berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Keterangan itu juga tertuang dalam buku ’Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobiel diensten op Java en Madoera’ terbitan N.V Sie Dhian Ho, Solo, tahun 1926.
Perjalanan pulang pergi dari Jagalan menuju Kota lama dan Gondanglegi punya delapan pemberangkatan KA.
Satu menuju Bululawang.
Sedangkan ke arah Kajoetangan dan Blimbing ada tujuh per jalanan.
Empat diantaranya meneruskan ke Singosari.
Selain ramai, fasilitas di sana juga lengkap.
Di seberang rel ke arah barat ada tandon air untuk isi ulang lokomotif uap.
”Sekarang sudah jadi rumah. Dibongkarnya setelah penutupan,” ucap lansia yang bekerja sebagai pengepul barang bekas di area bekas stasiun tersebut.
Dalam sejumlah referensi, disebutkan bahwa Stasiun Jagalan juga mempunyai fasilitas Balai Yasa atau bengkel lokomotif dan gerbong.
Terdata, MS memiliki sekitar 24 unit lokomotif tipe B17, B24, dan D11 buatan pabrik Aktiengesellschaft für Lokomotivbau Hohenzollern asal Jerman.
Kini bekas balai yasa itu sudah tidak bersisa.
Banyak pula yang menyebut bahwa Balai Yasa itu diratakan dengan tanah jelang masa kemerdekaan.
”Kalau kata sesepuh di sini, letak bengkel (Balai Yasa) itu ada di sebelah timur tandon air, agak jauh dari rel sekarang,” imbuhnya.
Sekarang, jalur lama sudah banyak yang tertimbun.
Di depan stasiun itu dulu juga dijadikan lapangan olahraga warga. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana