MALANG KOTA – Co Kong Tik atau tradisi menghormati leluhur masih dilakukan warga Tionghoa penganut agama Buddha hingga sekarang.
Tak hanya saat mendekati Imlek, tapi disesuaikan dengan permintaan keluarga.
Contohnya yang dilakukan di Kelenteng Eng An Kiong kemarin (17/1).
Warga yang kemarin melaksanakan ritual itu adalah Puspita.
Perempuan berusia 60 tahun tersebut datang bersama salah satu kerabat perempuannya.
Dia melakukan penghormatan untuk almarhum kakak lelakinya yang sudah meninggal enam tahun lalu.
“Saya melakukannya karena didatangi kakak lewat mimpi. Dia bilang sedang kesakitan,” ungkapnya.
Karena mendapat mimpi, Puspita akhirnya menggelar Co Kong Tik.
Dia memesan miniatur rumah tradisional Tionghoa.
Rumah itu memadukan warna merah, biru, dan kuning dengan beberapa hiasan.
Lalu ada foto kakak laki lakinya di bagian tengah.
Di sekeliling rumah juga terdapat sajian berupa buahbuahan.
“Untuk miniatur rumah dan sajian yang dipersembahkan saya sesuaikan dengan kelenteng,” terang Puspita.
Acara dimulai pada pukul 11.00.
Diawali dengan serangkaian doa yang dipimpin oleh Bhante atau Dharmaduta (agamawan Buddha).
Setelah itu, seluruh sajian dan miniatur rumah dimasukkan ke ruangan khusus untuk dibakar.
Pembakaran dilakukan sendiri oleh Puspita dan kerabat perempuannya.
Bhante Fredi Kurniawan menjelaskan, kebanyakan warga melakukan Co Kong Tik setelah mendapat mimpi dari leluhur.
Bisa jadi leluhur yang kehujanan, kesakitan, atau kondisi-kondisi tertentu di alam mereka, sehingga datang ke mimpi.
“Dari sana, pihak keluarga memberi persembahan kepada leluhur,” jelasnya.
Persembahan itu kemudian dibakar.
Meskipun dibakar, Co Kong Tik tidak memiliki makna buruk.
Justru bermakna agar semua karma buruk yang pernah dilakukan almarhum semasa hidup ikut terbakar.
Bisa juga dimaknai melepas rasa keduniawian, sehingga saat Buddha menjemput ada keikhlasan untuk menuju tanah suci.
Karena itu, lanjut Fredi, Co Kong Tik tidak hanya digelar saat menjelang Imlek.
Ada yang melaksanakan Co Kong Tik saat peringatan 49 hari, 2 tahun, bahkan 3 tahun kematian.
Tapi tidak semua keluarga melakukan tradisi itu.
”Kadang ada keluarga yang sudah menganut agama lain, seperti Kristen, Islam, atau Hindu. Kita tidak akan memaksakan karena akan menimbulkan pertentangan,” tegas Fredi.
Setelah upacara selesai, terkadang ada sisasisa persembahan dari Co Kong Tik yang dibawa pulang keluarga.
Misalnya saja sajian buahbuahan atau makanan.
Dengan sisasisa barang yang dibawa harapannya bisa memberi berkah, rezeki, dan kesehatan. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana