Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kilas Balik Gedung Bioskop Garuda sejak Tahun 1950; Awalnya Sekolah Warga Tionghoa, Kini Jadi Gedung Olah Raga

Bayu Mulya Putra • Kamis, 6 Februari 2025 | 18:40 WIB

JADI LAPANGAN BADMINTON: Bangunan Garuda Sport Center (GSC) sempat direnovasi Pemkot Malang pada 2022 lalu. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO / RADAR MALANG)
JADI LAPANGAN BADMINTON: Bangunan Garuda Sport Center (GSC) sempat direnovasi Pemkot Malang pada 2022 lalu. (BIYAN MUDZAKY HANINDITO / RADAR MALANG)

"Gedung di Jalan Laksamana Martadinata, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen itu punya cerita panjang. Sebelum kini menjadi gedung olah raga badminton, tempat itu pernah difungsikan sebagai sekolah mulai tahun 1950. Sejak 1965 sampai 1990-an awal, tempat itu difungsikan sebagai gedung bioskop."

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

ADA beberapa gedung bioskop di Kota Malang yang tenar pada masa jayanya.

Sebut saja Ria, Merdeka, Kelud, Tenun, dan lain-lain.

Bioskop Garuda menjadi salah satu di antaranya.

Mengutip akun Instagram pegiat sejarah @ayodya_han, gedung di sana mulai dibangun pada 1950.

Peruntukan awalnya bukan untuk bioskop.

Melainkan sekolah untuk warga Tionghoa.

Awalnya diberi nama Tja Zhung atau ditulis Ta Tjung.

Dalam satu foto juga disebutkan bahwa di depan gedung itu ditulis nama yayasannya, yang bernama Giok Yong Kong Hwee.

Sekolah tersebut beroperasi sampai 1965.

”Kala itu suhu politik memanas, akhirnya berhenti operasi. Kemudian beralih fungsi menjadi bioskop sampai sekitar tahun 1994,” terang Pemerhati Sejarah Kota Malang Agung Harjaya Buana.

Itu turut memperbanyak jumlah bioskop di Kota Malang.

Bioskop Garuda menjadi salah satu pusat hiburan warga Kota Malang di sisi timur.

Menjadi rujukan warga yang berasal dari kawasan Ciptomulyo, Kotalama, Kuthobedah, dan Muharto.

Kebanyakan, yang menonton di sana adalah warga keturunan Tionghoa.

Ada juga warga lokal.

DOKUMENTASI INSTAGRAM @AYODYA_HAN
DOKUMENTASI INSTAGRAM @AYODYA_HAN

”Awalnya memang banyak film berbahasa mandarin yang diputar. Seperti Angels Stricks Again dan The Sword And The Lute tahun 1969. Tapi seiring booming-nya film Indonesia tahun 1980-an, makin banyak variasi film yang diputar di sana,” tambah Agung.

Dalam ingatan seorang pemerhati sejarah Malang Tjahjanta Indra Kusuma, pada masa jayanya antara 1980 sampai 1990, Bioskop Garuda adalah tempat yang tergolong ramai.

Itu terjadi berkat trik pengaturan jadwal film.

”Kalau hari biasa atau pas sepi diputar film-film yang bertema seronok atau horor. Akhir pekan film-film hits seperti pada tahun 1985 ada film Warkop DKI,” kata dia.

Setiap pemutaran film, mulai pagi hingga malam, satu ruang teater bisa memuat antara 200 sampai 250 orang.

Kisah gedung Garuda sebagai bioskop berakhir pada era 1990-an.

Ketika industri bioskop mengalami monopoli pasar.

Menyebabkan bioskop-bioskop kecil bubar.

Kini, sebagian besar gedung bioskop lama tersebut sudah rata dengan tanah atau berubah bentuk dan fungsinya.

Khusus bioskop Garuda, dalam pengamatan Jawa Pos Radar Malang kemarin (5/2), bentuk bangunannya tidak banyak berubah.

Kini, bekas gedung pemutaran film tersebut sudah beralih fungsi menjadi lapangan bulu tangkis dengan tiga lapangan.

”Tahun 2022 kami renovasi menjadi gedung olah raga dan diberi nama Garuda Sport Center (GSC). Asal gedung dulu milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kota Malang,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olah raga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi.

Ciri khas menara tiga lantai di kiri bangunan dan pintu masuk khas bioskop tetap dipertahankan.

Kusen-kusen peninggalan zaman dulu juga terlihat di jendela gedung.

Tampak depan, cat asli warna kuning dan kusen kayu jati sudah banyak berubah.

Tapi melangkah ke belakang, ke samping SDN 1 Sukoharjo, masih terlihat ciri bangunan lamanya.

Dengan cat kuning dan kusen kayu lama yang tak tersentuh renovasi.

Berikut atap seng, dan ventilasi berbentuk bulat pipa berjumlah 20 masih terlihat.

Melangkah ke dalam dan melihat ke arah kiri, ada musala.

Dulu, tempat itu merupakan loket pembelian karcis film.

”Tempat yang sekarang jadi lapangan itu dulunya teater pertunjukan film. Bilik mesin proyektor juga masih ada tapi sudah ditembok,” kata Supriyanto, Koordinator Pengelola GSC.

Letak bilik operator film tersebut berada tepat di atas pintu masuk lapangan.

Untuk naik ke atas, harus pakai tangga panjat yang terbuat dari baja.

Sayang bilik tersebut sudah kosong, dan lubang untuk mengarahkan proyektor ke layar juga sudah ditembok.

Supriyanto membenarkan bahwa gedung tersebut merupakan sekolah warga Tionghoa.

”Dulu jadi sekolah dan lapangannya itu ada panggung pertunjukan juga di bekas layarnya, kemungkinan untuk pentas seni,” sebut dia.

Pada 1965 menjadi masa-masa sulit bagi warga etnis Tionghoa.

Imbasnya, kala itu warga sekitar mengusir orang-orang dalam yayasan Giok Yong Kong Hwee.

Setelah terjadi kekosongan, Kodim 0833 Kota Malang menjadi pengelola gedung.

”Pas jadi bioskop itu, status gedung itu milik Kodim.

Makanya di karcis film dulu ada tulisannya Kodim,” ujar dia. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#gedung olahraga #Gedung Bioskop #kilas balik #Kota Malang