Rutin berjaga di pos pantau kebersihan Jembatan Gadang, M. Zainullah, 45, dan Andi, 37, sampai hafal bentuk-bentuk kantong yang berisi sampah. Misi mulia mereka belum mendapat support berarti dari pihak-pihak terkait. Jangankan untuk konsumsi, usulan agar PJU di jembatan diperbaiki saja masih belum direspons.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
Pos pantau kebersihan yang berada di RW 5, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang itu hanya berupa tenda sederhana.
Dua kursi panjang, satu meja, dan satu lampu menjadi pelengkapnya.
Lokasinya berada di sebelah timur Jembatan Gadang.
Tepatnya ada di sisi selatan.
”Untuk kelistrikan di dalam tenda menyambung dari meteran listrik di belakang pos. Kesepakatannya adalah saya yang membayar pulsa listriknya,” kata Mochamad Zainullah, pelopor berdirinya pos pantau itu ketika ditemui pada Selasa malam (11/2).
Sejak didirikan pada 24 Januari lalu, Zainullah dan satu warga di sana yang bernama Andi lah yang rutin berjaga.
Belum ada warga lain yang menyatakan minatnya untuk dalam ikut jadwal jaga.
”Kadang kami sambi dengan main domino dan ngopi,” kelakar dia.
Pos pantau itu sengaja didirikan di sebelah selatan jembatan karena banyak yang membuang sampah di sana.
Selain itu, penerangan di sisi selatan jembatan juga masih kurang.
Di sisi utara, ada lima tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) yang menerangi.
Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan sisi satunya, yang bergantung pada lampu kendaraan yang lewat.
Selain gelap, di sisi selatan juga lebih banyak truk dan pikap yang parkir.
Saat Jawa Pos Radar Malang memantau di sana mulai pukul 20.30 sampai 22.00, ada tujuh kendaraan yang terparkir.
Jumlahnya bakal lebih banyak menjelang pagi.
Pada jam-jam itulah para oknum pembuang sampah sembarangan biasa beroperasi.
Seperti terjadi pada pukul 20.50 saat wartawan koran ini asyik mengobrol dengan Zainullah dkk.
Sebuah mobil Daihatsu Ayla warna putih tiba-tiba berhenti di tengah jembatan.
Pengemudi mobil dengan nomor polisi (nopol) N 1280 MN itu langsung membuka bagasi belakangnya dan membuang empat kardus isi sampah kayu dan kertas.
Mengetahui itu, senter langsung diarahkan ke mobil.
Zainullah dan Andi segera bergerak menuju mobil tersebut.
Zainullah sudah mempersiapkan ponselnya untuk merekam aksi itu, dibuat berjaga-jaga apabila pengemudinya melakukan perlawanan.
Mereka berdua langsung menegur pengemudi mobil tersebut.
”Sampean gak moco iki a? (Anda tidak membaca ini kah?),” kata Zainullah sambil menunjuk banner di dalam pos pantau.
Setelah itu, mereka meminta pengemudi mobil mengangkut kembali semua sampah itu.
Karena pengemudi bersikap kooperatif, tak ada perdebatan sengit yang tersaji.
Itu berbeda dengan awal awal pos pantau kebersihan di sana beroperasi.
”Dua hari setelah dibuka pos pantau, kami sempat diancam mau dibacok orang yang buang sampah sembarangan,” cerita Zainullah.
Dia menyebut bahwa orang itu tidak berasal dari wilayah Kelurahan Bumiayu.
”Dia bawa motor, tidak terima kami tegur,” tambahnya.
Sejak saat itu, mereka selalu membekali diri dengan ponsel untuk merekam.
”Kalau ngeyel siap-siap saya viralkan. Bisa ke Facebook atau Instagram,” ucap dia.
Keteguhan Zainullah melakukan pantauan itu dilandasi sikap geram dengan tumpukan sampah di sekitar Pasar Gadang.
Sebab, problem itu tidak pernah terselesaikan selama bertahun tahun.
Seakan buang sampah di sana menjadi hal lumrah bagi banyak orang.
”Segala macam sampah sempat dibuang di sini. Dari sampah plastikan, kertas, isi jeroan sampai kotoran hewan peliharaan,” sebut dia.
Bau busuk sering menyeruak.
Masalah lebih besar bakal terjadi saat turun hujan.
Air hujan akan membawa limbah sampah ke sungai.
Pemkot Malang terkesan angkat tangan dengan problem itu.
”Satu kali itu saya ikut acara rapat dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) di sebuah hotel. Ketika saya tanya apakah ada solusi terkait sampah di sini, mereka bilang tidak ada solusi,” kata Zainullah.
Jawaban itu lah yang membuat dia membulatkan tekad untuk membuat pos pemantauan sampah.
Dengan bantuan dari lurah Bumiayu, tenda yang menjadi tempat nongkrongnya setiap hari itu pun diberikan.
Awal mula pembentukannya, hanya dia dan Andi saja yang berjaga dari malam sampai menjelang subuh.
”Saya sampai hafal bentuk bentuk kantong isi sampah atau barang lain. Kalau isi sampah, biasanya saya diamkan dulu, begitu sudah menepi, baru saya datangi,” ucap Andi, rekan Zainullah.
Ambon-sapaan akrabnya juga merasa miris dengan kebiasaan warga yang seenaknya membuang sampah di sana.
Di lokasi tersebut memang ada petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang ditugaskan mengambil sampah di sana.
Namun volume sampah yang diambil tidak banyak.
Dan, hanya ada satu petugas dengan satu motor roda tiga saja yang bertugas.
”Kasihan mereka juga. Kalau di sini (sebenarnya) truk (sampah) itu bisa bolak-balik Gadang - Supit Urang dua atau tiga kali. Kalau pakai tossa (motor roda tiga) pasti tidak sanggup,” imbuh dia.
Sejauh ini, upaya Zainullah dan Andi belum mendapat support dari pihak-pihak terkait.
Mereka sempat mengusulkan ke pemkot agar PJU di sebelah selatan jembatan diperbaiki.
”Kami dilempar-lempar, katanya itu kewenangan DLH,” kata Ambon.
Untuk konsumsi, keduanya lebih sering memenuhi kebutuhannya sendiri. Beberapa kali warga di sana juga memberi bantuan. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana