Bayu Mulya Putra• Jumat, 21 Maret 2025 | 18:13 WIB
TERSUMBAT SAMPAH: Sejumlah pengendara melintas di ruas Jalan Soehat yang kebanjiran, siang kemarin. (Aditya Novrian/Radar Malang)
Butuh Sinergi Antardaerah, Wahyu Usulkan Jadi Proyek Nasional
MALANG KOTA - Setelah mendapat bantuan dari pemprov, Pemkot Malang bakal melakukan terobosan baru untuk penanganan banjir Jalan Soekarno-Hatta (Soehat).
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengusulkan agar penanganan di kawasan itu masuk dalam proyek nasional.
Sebab, perlu sinergi atau kerja sama antar pemerintah daerah Malang Raya untuk mengatasinya.
Wahyu menyebut, setelah nanti dilakukan pembangunan drainase, itu tidak akan langsung menjadi jawaban penanganan banjir di kawasan tersebut.
Peningkatan gorong-gorong hanya bisa mengurangi genangan di Jalan Soehat.
Agar penanganan banjir bisa tuntas 100 persen, Wahyu menyinggung perlunya penyesuaian tata ruang.
Itu bisa dimulai dari Kota Batu.
”Banjir di Soehat karena intensitas hujan di atas (Kota Batu) juga tinggi, sehingga kita terdampak. Ke depan harus duduk bersama untuk penyelesaian masalah tersebut,” tutur Wahyu.
Banjir kiriman dari wilayah yang lebih tinggi dibuktikan dengan keadaan Bozem (waduk mini) Tunggulwulung.
Pada 15 Maret lalu, sebelum hujan deras melanda Kota Malang, kapasitas dari bozem tersebut sudah penuh.
Padahal waduk mini itu mampu menampung 3.800 meter kubik air.
Menurut pemkot, air yang memenuhi Bozem Tunggulwulung berasal dari limpahan Kota Batu dan wilayah Sengkaling.
Dengan kondisi itu, Wahyu menekankan perlunya perubahan dari kawasan atas.
”Tata ruang Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu harus seimbang. Harus duduk bersama dan punya tanggung jawab bersama. Tidak bisa hanya diatur di Kota Malang saja,” jelas dia.
Langkah konkret yang akan dilakukan orang nomor satu di Pemkot Malang itu yakni menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat maupun provinsi.
Dia meminta ada perhatian ekstra, agar penanganan banjir di Soehat menjadi proyek nasional.
Komunikasi sudah dilakukan dengan Menteri ATR/BPN RI bersama gubernur Jawa Timur dan kepala daerah lain.
Itu dilakukan saat retret beberapa waktu lalu.
”Saya usulkan ke Menteri ATR/BPN rencana tata ruang kita masuk dalam rencana strategis nasional. Supaya tidak terulang kejadian banjir seperti di Bekasi dan Tangerang,” imbuhnya.
Untuk diketahui, banjir Bekasi dan Tangerang terjadi karena limpahan air dari daerah yang lebih tinggi, yaitu Kota Bogor.