Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Peninggalan Islam di Malang Raya (24): Dakwah Kiai Tamin Dilanjutkan Lima Kiai di Masjid Noor

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 24 Maret 2025 | 20:05 WIB
MEGAH: Masjid Noor di Jalan Prof moh. yamin (Kidul Pasar) kini memiliki luas sekitar 200 meter persegi. Dulu hanya merupakan langgar kecil di kawasan Pasar Besar Malang. (NABILA AMELIA/RADAR MALANG)
MEGAH: Masjid Noor di Jalan Prof moh. yamin (Kidul Pasar) kini memiliki luas sekitar 200 meter persegi. Dulu hanya merupakan langgar kecil di kawasan Pasar Besar Malang. (NABILA AMELIA/RADAR MALANG)

Aktivitas penyebaran Islam di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, semakin hidup setelah berdirinya Masjid Noor di Gang Masjid. Ditambah peran lima kiai, kawasan yang dulu dikenal kumuh dan lekat dengan pergaulan bebas itu kini menjadi religius.

NABILA AMELIA

SEBELUM Indonesia merdeka, Masjid Noor berada di dalam kawasan Pasar Besar Malang (PBM).

Bukan di kawasan Kidul Pasar seperti saat ini.

Bentuknya pun hanya langgar kecil yang dibangun dari kombinasi antara tembok dengan gedek.

Baca Juga: Mudik Lebaran 2025: BKM dan Kemenag Instruksikan Masjid Sepanjang Jalur Mudik Buka 24 Jam

Meski ukurannya tidak besar, aktivitas keagamaan di dalamnya berjalan lancar.

Salah satu penggerak aktivitas keagamaan di langgar itu adalah Kiai Tamin.

Dia merupakan putra ulama dari Pasuruan bernama KH Ghofur dengan istri ketiganya, yakni Hj Maryam.

Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro

Semasa hidup, Kiai Tamin kerap berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu agama.

Para santri yang belajar pun mendapat ijazah.

Sosok Kiai Tamin juga dikenal sangat religius dan memiliki akidah yang teguh.

Pada tahun 1943, Pemerintah Jepang meminta masyarakat untuk menyembah matahari.

Namun Kiai Tamin menolak permintaan tersebut.

Penolakan itu membuat dia dijebloskan ke tahanan milik Jepang.

Sekitar 1948, langgar di dalam PBM dirobohkan.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (15): Berawal dari Langgar, Masjid Agung Jami Dibangun Dua Tahap

Sebab, aktivitas yang berkaitan dengan perkotaan disana sudah semakin banyak. ]

Belum lagi pengembangan Kabupaten Malang dan Kota Malang.

Sebagai penggantinya, masyarakat berinisiatif melakukan pembangunan ulang langgar di kawasan Kidul Pasar.

Baca Juga: Nikmati Kebersamaan Berbuka Puasa: 10 Masjid di Malang yang Sediakan Takjil Gratis

Tepatnya di dalam Gang Masjid (Jalan Prof Moh. Yamin Gang 4), Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen.

Tapi ukurannya malah lebih kecil.

Hanya sekitar 50 meter persegi.

Baca Juga: Masjid Al-Muhajirin PBI Araya: Berbagi 180 Porsi Buka Puasa Setiap Hari di Bulan Ramadan

Pintu masuk untuk jamaah laki-laki dan perempuan menjadi satu.

Letaknya berada di sebelah utara.

Sejak dipindah ke Gang Masjid, aktivitas keagamaan jadi terfasilitasi.

Bahkan ada kiai kiai yang berperan besar dalam melakukan syiar Islam di sana.

Mulai dari Kiai Noor, KH Hamid Umar, KH Imam Asfali, Kiai Amak, hingga Kiai Hambali.

Lima generasi kiai itu berkiprah antara tahun 1940 an sampai 1900an.

Baca Juga: Masjid Baiturrahmah Malang Rutin Adakan Buka Puasa Bersama Gratis untuk Masyarakat Umum

”Tapi, sosok yang melakukan babat alas sekaligus menyebarkan Islam adalah Kiai Noor. Karena itu namanya diabadikan menjadi nama masjid,” terang Ketua RW 7 Kelurahan Suko harjo, Ahmad Zakaria.

Dari cerita yang didengar Zakaria secara turun temurun, Kiai Noor lahir di Kelurahan Sukoharjo.

Semasa hidup, Kiai Noor memiliki mata pencaharian sebagai pedagang.

Baca Juga: Masjid Baiturrahmah Malang Rutin Adakan Buka Puasa Bersama Gratis untuk Masyarakat Umum

Saat kecil beliau juga menuntut ilmu agama di pondok pesantren hingga bisa ikut berdak wah di Gang Masjid.

Demikian pula dengan kiai lain nya.

Sebagian ada yang mondok di Pondok Pesantren PPAI Ketapang yang didirikan KH Moh.

Baca Juga: Jamaah Terawih Masjid Al Ilyas Malang Membeludak

Said hingga pesan tren di Jombang.

”KH Imam Asfali dulu mondok di Ponpes PPAI KeTapang dan menyebarkan Islam hingga ke Malang Selatan. Bahkan beliau juga wafat di sana, meski di Gang Masjid sebenarnya juga memiliki pesantren bernama Ponpes Al Islam,” sebut Zakaria.

Sementara untuk Kiai Hambali, dulu sempat menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren PPAI Ketapang dan Jombang.

Lalu, KH Hamid Umar tidak hanya pendakwah, tetapi juga berprofesi sebagai modin di Kantor Urusan Agama (KUA) Mergosono.

Peran lima pemuka agama dalam penyebaran Islam itu membuat wajah Gang Masjid perlahan-lahan berubah.

Semula, kawasan tersebut di kenal dengan kawasan kumuh dekat Comboran atau tempat parkir kuda.

Baca Juga: Masjid Baiturrahmah Malang Rutin Adakan Buka Puasa Bersama Gratis untuk Masyarakat Umum

Selain itu, banyak orang-orang yang mengonsumsi zat adiktif, seperti ganja dan morfin.

”Sekarang, kondisi kawasan Gang Masjid berubah. Banyak aktivitas keagamaan yang di lakukan,” ucap Zakaria.

Dia mencontohkan pengajian rutin untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Baca Juga: Jamaah Terawih Masjid Al Ilyas Malang Membeludak

Pengajian tersebut dilakukan selepas salat asar, magrib, dan isya.

Kitab yang dipelajari juga bermacam-macam.

Mulai dari Al quran, Kitab Riyadhus Shalihin, serta Kitab Tahrim.

Baca Juga: Dapat Jadi Inspirasi! Kupon Takjil Masjid Sabilillah Malang: Ikhtiar Berbagi Sambil Mengajak Jamaah Aktif Ikuti Kajian

Zakaria menambahkan, orangorang asli Gang Masjid yang pindah keluar daerah banyak diminta untuk menjadi pengurus masjid di daerah masing-masing.

Itu menunjukkan bahwa Gang Masjid juga melahirkan orang-orang yang berperan dalam penyebaran ilmu agama Islam di tempat lain.

Pada 1990, warga memutuskan melakukan renovasi kedua Masjid Noor.

Perluasan masjid perlu dilakukan untuk menampung kegiatan yang lebih besar.

Akhirnya Masyarakat patungan dan menghasilkan dana sebesar Rp 110 juta untuk membebaskan lahan dan rumah warga yang terdampak perluasan, Setelah melakukan pembe basan lahan, masyarakat mulai membuat rancangan untuk masjid yang baru.

Mereka bahkan melakukan survei hingga ke Jawa Tengah.

Baca Juga: Menyusuri Keindahan dan Kisah Masjid Bersejarah di Malang yang Menjadi Destinasi Ramadan

”Konsep masjid sebenarnya tidak ada yang khusus. Tapi untuk kubah. kami mengambil dari Pasuruan,” ungkap Zakaria.

Saat ini, kondisi Masjid Noor sudah jauh lebih besar.

Luas nya mencapai 600 meter persegi.

Baca Juga: Ramadan Lebih Bermakna dengan Mengikuti Kajian Dhuha di Masjid Al Maghfirah Sentani Timur Malang

Bagian depannya bersentuhan langsung dengan Jalan Prof Moh. Yamin.

Fasilitasnya pun juga lebih banyak.

Ada toilet yang lebih mendukung, tempat penitipan untuk kurban, basement, dan kantor.

Ketua Takmir Masjid Noor Musta’in menjelaskan, renovasi selanjutnya dilakukan pada 2020.

Untuk sampai pada bentuk yang seperti sekarang, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 6 miliar.

Agar legalitas masjid resmi, pengurus juga mengurus sertifikat masjid.

”Jumlah sertifikatnya sampai 11 surat,” imbuhnya. (*/fat)

Editor : A. Nugroho
#Penyebaran Islam #Kota Malang #jejak #Masjid Noor Islam