MALANG RAYA – Ratusan umat Hindu memadati Lapangan Rampal kemarin (28/3).
Mereka datang untuk mengikuti prosesi Tawur Agung Kesanga atau ritual menyucikan alam semesta.
Ritual itu biasanya digelar sebelum Hari Raya Nyepi.
Semarak prosesi itu sudah terasa di Lapangan Rampal sejak pukul 12.00.
Umat Hindu yang datang tampak kompak mengenakan baju adat.
Para perempuan yang menggunakan payas alit, sementara laki-laki mengenakan baju safari dan udeng.
Lima ogoh-ogoh turut melengkapi prosesi tersebut.
Simbol energi negatif itu diarak sekitar pukul 13.00.
Start di Lapangan Rampal, umat Hindume ngarak ogoh-ogoh menuju Jalan Urip Sumoharjo, kemudian ke Jalan Terusan Ksatrian, Jalan Hamid Rusdi, Jalan Ronggolawe, dan kembali lagi ke Lapangan Rampal pada pukul 15.00.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang I Made Wartana mengatakan, Tawur Agung Kesanga merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan setelah Melastiatau penyucian dengan air di pantai atau laut.
Ritual itu mencerminkan rasa syukur umat Hindu kepada pencipta karena sudah menyediakan alam semesta beserta isinya.
”Tujuannya untuk menjaga harmonisasi antara Tuhan, makhluk hidup, dan alam semesta,” jelasnya.
Made berharap Tawur Agung Kesanga menjadi pengingat manusia untuk menjaga alam semesta.
Sekaligus bertujuan menetralisir energi negatif selama satu tahun.
Karena itu, Tawur Agung Kesanga identik dengan pembakaran ogoh ogoh yang disimbolkan sebagai hal negatif.
Setelah Tawur Agung Kesanga, umat Hindu akan melaksanakan catur brata penyepian selama 24 jam, Mereka tidak menyalakan api, tidak bepergian, menghindari hiburan, dan murni menjalankan aktivitas spiritual.
”Rangkaian Nyepi ditutup dengan Ngembak Geni atau silaturahmi antar umat Hindu,” imbuh Made.
Sementara itu, mantan Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian diana Kartika mengapresiasi Tawur Agung Kesanga yang rutin dilakukan di Kota Malang.
Dia juga salut dengan panitia yang rela menggeser agenda kegiatan dari yang biasanya di Balai Kota Malang ke Lapangan Rampal untuk menghargai umat muslim yang sedang berpuasa.
Pemandangan serupa juga terlihat di Kota Batu kemarin.
Sekitar 350 umat Hindu memadati lapangan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, untuk mengikuti Tawur Agung Kesanga.
Ketua Parisada Hindu Dhar ma Kota Batu Pariyanto mengatakan, rangkaian menuju Hari Raya Nyepi didahului be berapa prosesi.
Seperti Melasti atau penyucian, memanjatkan doa, penampilan tari, hingga arak ogoh-ogoh.
“Tahun ini kami mengangkat tema Manawasewa yang berarti melayani. Sama dengan melayani Tuhan,” terangnya.
Menurut Pariyanto Tawur Agung Kesanga merupakan wujud untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan.
Roh jahat disimbolkan dengan butakala atau ogoh-ogoh.
Maka, saat perayaan Nyepi nantinya tidak ada gangguan dari segala kejahatan.
Melalui kegiatan tersebut, dia berharap masyarakat Hin du semakin berpikir positif dan semakin dituntun ke jalan Dharma.
Khususnya dalam mempererat tali per saudaraan sesama umat dan orang lain.
“Intinya adalah Basudewa Kutum Bakam yang artinya kami semua ada lah saudara,” tegas dia.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman mengatakan bahwa keberagaman agama memberikan warna terhadap kebijakan di Kota Batu.
Maka, Cak Nur menekankan pentingnya saling menghormati dan menjunjung toleransi terhadap umat beragama.
“Kami berikan pengawalan dan pengamanan agar proses ibadah dapat tenang dan nyaman,” pungkasnya. (mel/ori/fat)
Editor : A. Nugroho