30 Kelurahan Masuk Daerah Rawan Bencana
MALANG KOTA – Banjir masih mendominasi kejadian bencana selama Januari hingga Februari 2025.
BPBD mencatat ada 46 kejadian banjir dalam kurun waktu tersebut (selengkapnya baca grafis).
Analis Data Bencana Daerah BPBD Kota Malang Rian Agustian menjelaskan, pihaknya telah memetakan kelurahan yang masuk daerah rawan bencana.
Baca Juga: Kena Banjir, Jembatan Sepanjang 2 Meter di Desa Banjarsari Sidoarjo Ambles
Totalnya mencapai 30 kelurahan.
Dampak dari bencana selama dua bulan terakhir juga beragam.
Seperti pada Januari, BPBD mencatat ada 38 warga yang terdampak.
Mereka harus mengungsi, tapi tidak ada yang mengalami luka ringan, luka berat, luka sedang, atau meninggal.
Baca Juga: Lobi Pusat Tangani Banjir Soehat Malang
Kemudian pada Februari, ada 10 orang yang terdampak.
Meliputi sebanyak sembilan orang yang harus mengungsi.
”Kemudian satu orang meninggal dunia,” imbuh Rian.
Juga pada Februari.
Ada sebanyak 20 titik yang mengalami kerusakan.
Didominasi titik yang rusak berat dan rusak ringan masing-masing sejumlah delapan titik.
”Selain kerusakan di sejumlah titik, selama dua bulan terakhir juga ada kerugian material. Total kerugian material yang ditimbulkan mencapai lebih dari Rp 390 juta,” ungkap Rian.
Di tempat lain, Pakar Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya (UB) Prof Adi Susilo PhD menjelaskan, terjadinya bencana alam di Kota Malang dipengaruhi perubahan kondisi alam yang sangat masif.
Salah satunya berkurangnya resapan yang berakibat pada bencana banjir.
Baca Juga: Banjir Genangi 13 Titik di Kota Malang Akibat Hujan Lebat dan Drainase Tersumbat
”Dulu mungkin terjadi banjir, tapi tidak separah sekarang karena resapannya masih bagus dan masih ada saluran drainase berupa sungai yang berukuran besar,” ucapnya.
Namun sekarang banyak drainase yangt tertutup.
Sebagai contoh di sekitar Jalan Soekarno-Hatta dekat patung pesawat.
Di sana terdapat sungai besar, tapi sekarang sudah tertutup permukiman.
Untuk mengurangi dampak banjir, Adi mengimbau agar pemerintah maupun masyarakat rutin melakukan normalisasi saluran.
Sebab, untuk membuat drainase baru seperti di Jalan Soekarno-Hatta juga membutuhkan proses yang panjang.
”Belum lagi jika membutuhkan pembebasan lahan,” tandas dia. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho