Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Melihat Proses Pencarian dan Pembentukan Talent Film di Kota Malang, Latihan Skil Terbagi dalamTiga Kelompok Umur

Bayu Mulya Putra • Minggu, 20 April 2025 | 20:33 WIB

PRODUKSI KARYA: Leo Zainy (dua dari kiri) bersama talent lain beradu akting dalam produksi film bertajuk Kepaten Obor di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), November 2024 lalu.
PRODUKSI KARYA: Leo Zainy (dua dari kiri) bersama talent lain beradu akting dalam produksi film bertajuk Kepaten Obor di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), November 2024 lalu.

Beberapa program kelas akting telah diluncurkan para pegiat seni peran di Kota Malang. Pesertanya diajari berbagai ilmu basic hingga tahapan mengikuti casting. Seperti dilakukan Act School Malang (ASM) di Malang Creative Center (MCC).

”Kami buka kelas untuk tiga cluster dengan kelompok umur berbeda,” kata Founder Act School Malang Leo Zainy.

Menurut dia, setiap kelompok umur akan berbeda cara dalam penguasaan seni peran. Pada cluster 1, pesertanya berusia 8 sampai 12 tahun. Sementara di cluster 2, pesertanya usia 13 sampai 17 tahun. Sedangkan di cluster 3 untuk usia 18 sampai 40 tahun. Act School Malang kini memiliki sekitar 90 talent binaan.

Secara rutin mereka mendapat materi seputar akting. Mulai gerak tubuh hingga olah vokal dan rasa. Dalam seni peran, kemampuan seseorang dalam mendalami peran dan karakter sangat diperlukan. Mereka akan dibekali beberapa metode penguasaan teknik hingga strategi dalam mendalami karakter yang hendak dimainkan.

Baca Juga: Talent Film Horor Banyak Dicari di Amoura Management

”Misalnya bagaimana metode mendalami peran sedih, bahagia, hingga menangis. Itu semua ada tekniknya tersendiri,” imbuh Leo.

Menurut dia, riset menjadi salah satu penunjang penting ketika seseorang hendak memainkan karakter tertentu. Itu mengapa, talent di bidang akting tidak dapat dikuasai secara instan. Sebab, rasa percaya diri tampil di depan kamera saja tidak cukup.

”Kami m e n g a j a r k a n b a g a i m a n a m e r e k a menyamp a i k a n ekspresi wajah lewat koordinasi pancaindra,” imbuh kata pria yang juga personel Band Tani Maju itu.

Leo mengingatkan bahwa produser dan film maker umumnya tidak ingin bergantung kepada aktor yang belum sepenuhnya matang secara bakat maupun mental. Karena itu, sekolah akting memiliki peran penting sebagai rujukan produser dalam merekrut talent baru.

Baca Juga: Film Animasi Indonesia Jumbo Tembus 5 Juta Penonton dalam 20 Hari, Kalahkan Frozen II

”Para produser banyak yang menghubungi kelas akting hingga manajemen untuk memilih talent yang sudah memiliki ilmu,” tambah pria yang juga dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Salah seorang sutradara asal Kota Malang Sudjane Kenken menyebut, calon talent harus memahami persyaratan yang mendasar sebelum memulai casting. Mulai dari portofolio foto hingga pengalaman yang pernah digeluti di dunia akting.

”Jika tidak memiliki basic skill dan pengalaman yang cukup, kemungkinan diterima juga akan kecil,” tutur Founder Kampung Film Malang itu.

Beranjak dari itu, kelas akting memiliki peran penting dalam membangun skill. Biasanya, pesertanya bakal dilibatkan dalam proses pembuatan film pendek. Itu dilakukan untuk melatih kemampuannya. Dari produksi film kecil itu, mereka akan terbiasa akting di depan kamera dan mampu memainkan sejumlah karakter. Menurut Ken, para talent juga harus bisa membedakan production house yang resmi atau tidak. Umumnya, production house tidak akan mematok sepeser pun biaya alias gratis saat open casting. Justru, mereka akan membayar para talent jika dinyatakan lolos untuk bergabung dalam produksi film. (ori/by)

Editor : A. Nugroho
#Talent #Pembentukan #pencarian #latihan #film #Kota Malang #skill