MALANG KOTA – Dinas Perhubungan (Dishub) sempat melakukan rekayasa lalu lintas di Jalan Semeru pada libur Lebaran hingga pekan lalu.
Rekayasa yang dilakukan berupa penambahan water barrier.
Tepatnya di depan kafe Lafayette hingga Pia Cap Mangkok.
Dishub beralasan penambahan water barrier untuk mengurai kepadatan lalu lintas di sana.
Kepala Dishub Kota Malang R Widjaja Saleh Putra mengatakan, rekayasa tersebut bersifat opsional.
Artinya pada kondisi-kondisi tertentu bisa dihilangkan atau dikurangi jumlahnya.
”Tujuannya untuk mencegah pengguna jalan crossing dari arah Jalan Basuki Rahmat maupun Kajoetangan Heritage,” kata dia kemarin kepada Jawa Pos Radar Malang.
Seperti saat libur Lebaran lalu, Dishub menambah water barrier hingga Tugu Adipura.
Sebab, kendaraan yang melintas cukup padat dan butuh rekayasa lalu lintas.
Untuk mengurangi hal itu, water barrier dipasang.
Kemudian pada 9 April water barrier dihilangkan secara bertahap.
Hingga pada 11 April lalu pembatas jalan hanya sampai depan toko Pia Cap Mangkok.
Ditanya terkait apakah water barrier akan menjadi permanen, Jaya menegaskan tidak akan terjadi.
”Saya rasa tidak perlu dipermanenkan. Karena akan membuat jalan semakin sempit. Itu kami taruh saja untuk mencegah kendaraan crossing,” tegas pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Meski demikian, saat jam-jam tertentu kepadatan kendaraan masih terlihat di sana.
Khususnya ketika pagi dan sore hari.
Masih banyak kendaraan dari arah Kajoetangan Heritage berpindah jalur.
Baik itu ke Jalan Arjuno atau Jalan Semeru. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho