MALANG KOTA - Peragaan busana di Kajoetangan Heritage kemarin siang (20/4) berbeda dari yang lainnya.
Bila biasanya model berjalan di atas catwalk, kemarin mereka melakukannya di koridor Kajoetangan.
Ada ratusan perempuan yang kompak mengenakan kebaya.
Mereka yang berasal dari berbagai komunitas sengaja berkumpul untuk ikut meramaikan event bertajuk Kartinian Nang Kajoetangan.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat turut hadir dan mengapresiasi kegiatan tersebut.
Selain untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari ini (21/4), Wahyu menyebut bahwa event itu juga menjadi bagian dari perayaan HUT Kota Malang ke 111.
”Ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa perempuan bisa sejajar dengan laki-laki, dan turut berkiprah dalam pembangunan Kota Malang,” tutur dia.
Wahyu juga mengatakan bahwa kegiatan tersebut penting untuk melestarikan budaya lokal melalui busana.
”Kegiatan ini juga mempromosikan batik, kebaya, dan produk dalam negeri lainnya. Apalagi batik kini telah diakui UNESCO,” imbuh Wahyu.
Dia juga menyebut bahwa event tersebut selaras dengan nuansa heritage di kawasan Kajoetangan.
”Banyak bangunan cagar budaya di sini, dan kebaya serta batik menjadi pelengkap visual yang pas.
Ini juga bagian dari membudayakan kembali pakaian sopan di ruang publik,” papar dia.
Antusias peserta dan warga terlihat cukup tinggi.
Sempat diguyur hujan, mereka tetap bertahan di lokasi event.
Melihat itu, Wahyu berjanji bakal mengemas kegiatan tersebut lebih rapi pada tahun depan.
Penggagas kegiatan tersebut Isa Wahyudi atau Ki Demang menyebut, acara tersebut diikuti sekitar 80 perajin batik dari Malang.
”Kami ingin menggugah kembali semangat memakai busana tradisional seperti kebaya, batik, dan jarik. Tidak hanya untuk ritual atau pesta, tapi juga sebagai gaya hidup yang sopan," kata dia (dur/by)
Editor : A. Nugroho