MALANG KOTA- Mahalnya biaya operasional menyebabkan pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilakukan bertahap.
Rata-rata satu SPPG membutuhkan dana Rp 25 juta hingga Rp 50 juta dalam sehari untuk menyediakan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Karena itu, di Malang Raya baru ada 9 SPPG yang sudah berjalan dan 1 SPPG dalam tahap pembangunan dapur umum.
Anggaran yang dibutuhkan masing-masing SPPG berbeda.
Misalnya di SPPG Bahrul Maghfirah, Kecamatan Lowokwaru yang menyuplai makanan untuk 3.367 siswa.
Dalam satu bulan mereka menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 miliar.
Rata-rata per hari mencapai Rp 50 juta (20 hari kerja).
Kepala SPPG Bahrul Maghfiroh Alief Sella Fitri Nava Nabilla menerangkan, anggaran MBG per anak Rp 15 ribu.
Itu sudah termasuk bahan baku makanan, biaya operasional untuk memasak, dan sewa tempat SPPG.
”Biaya operasional itu dibayar di muka. Kami ditransfer dulu dari BGN (Badan Gizi Nasional) untuk keperluan selama dua minggu ke depan,” terang Sella.
Selama ini pembayaran dari BGN tergolong lancar. Kalau pun terlambat, maksimal hanya satu atau dua hari saja.
Tidak pernah sampai berbulanbulan, seperti kasus keterlambatan pembayaran kepada mitra SPPG di Jakarta.
”Di Bahrul Maghfiroh, yayasan dan dapur SPPG jadi satu tempat. Kami tidak menggunakan mitra, sehingga tidak ada kendala telat membayar,” tutur dia.
Menu makanan sudah diatur oleh ahli gizi setiap bulannya.
Yang pasti harus memenuhi syarat empat sehat lima sempurna serta mempertimbangkan ketersediaan bahan baku di sekitar SPPG.
”Kami juga menampung permintaan dari siswa maupun guru, asalkan makanannya sehat. Kalau minta seperti gorengan tentu tidak disetujui,” kata Sella.
Dia menambahkan, sejak SPPG Bahrul Maghfirah berdiri belum ada kasus keracunan.
Sebagai antisipasi, pihaknya selalu menggunakan telur dan daging yang berstandar Nomor Kendali Farm (NKF).
Hasil peternakan itu sudah tersertifikasi pemerintah sehingga dipastikan aman.
”Seluruh karyawan kami juga sudah mendapatkan pelatihan dari dinas kesehatan untuk menjadi penjamah makanan (food handler). Dalam memasak sudah ada standarnya sendiri, seperti tingkat kematangan harus sempurna,” jelasnya.
Harga Porsi Berbeda Di Kabupaten Malang, ratarata satu SPPG membutuhkan anggaran sekitar Rp 500 juta per bulan.
Dengan total tujuh SPPG yang ada saat ini, maka jumlah dana yang terserap untuk MBG di Kabupaten Malang sudah mencapai Rp 3,5 miliar per bulan.
Kepala SPPG Yayasan Annur 1 Bululawang Fidia Mafrurosari menjelaskan, pihaknya menghabiskan dana Rp 25 juta per hari untuk menyediakan sekitar 3.000 porsi MBG per hari.
Artinya, dalam sebulan dibutuhkan dana Rp 500 juta dengan rata-rata 20 hari produksi.
”Alokasi anggaran sebenarnya menyesuaikan jumlah porsi yang dilayani. Karena kadangkadang ada siswa yang tidak masuk,” ujar Fidia.
Harga per porsinya pun menyesuaikan jenjang.
Untuk PAUD, TK, dan SD kelas 1-3 dibanderol Rp 8.000 per porsi.
Sedangkan untuk SD kelas 4-6 diberi harga Rp 10.000.
Dalam satu porsi terdapat nasi sebagai sumber karbohidrat, lauk pauk sebagai sumber protein, buah dan sayur sebagai sumber serat dan vitamin, serta susu sebagai pelengkap.
“Sebelumnya, susu diletakkan di dispenser, kemudian anak-anak membawa Satu SPPG Butuh Rp 25 Juta hingga Rp 50 Juta Per Hari gelas sebagai wadah. Tapi itu kurang efektif. Akhirnya kami pakai cup,” imbuh Fidia.
Bahan-bahan untuk MBG dipasok dari peternak maupun petani di Malang Raya.
Khusus susu dan telur dipasok dari koperasi.
Misalnya, suplai susu didapat dari kerja sama dengan Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung.
Begitu bahan-bahan datang, yang pertama dilakukan pihak SPPG adalah kondisinya bagus.
Jika ada bahan yang rusak segera diganti oleh supplier.
Misalnya untuk sayur, kondisinya harus masih segar saat tiba di SPPG.
Hal senada dijelaskan Kepala SPPG Kuwolu Salsa Billa Novitasari.
Tiap hari mereka menghabiskan dana Rp 25 juta untuk menyuplai MBG sekitar 3.000 siswa.
Porsinya juga menyesuaikan jenjang.
Menu yang disajikan bervariasi.
Sebagai contoh, Selasa lalu (29/4) SPPG Kuwolu menyajikan menu nasi putih, telur rebus asam manis, cap cay pentol, melon, dan susu ukuran 115 milliliter.
”Kami menggunakan siklus menu 20 hari. Dalam satu bulan hari kerja menunya berbeda-beda. Pada tanggal 1 kembali ke menu awal lagi,” ucap Salsa.
Quality control (QC) dilakukan setiap hari. Bahkan sebelum dibagikan, pihak SPPG mengambil sampel untuk diperiksa.
”Kalau misalnya anak muntah-muntah, sampel tadi bisa diuji di laboratorium untuk membuktikan bahwa sakitnya anak tersebut bukan karena makanan dari kami,” pungkasnya.
Start Tahun Ajaran Baru Sementara itu, pembangunan dapur umum SPPG di Kota Batu masih berjalan.
Kendati begitu, pengelola SPPG telah memetakan kebutuhan anggaran dan suplai bahan makanan.
Rencananya, realisasi program MBG akan dimulai pada tahun ajaran baru 2025/2026.
SPPG yang sedang dibangun itu terletak di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Proyek tersebut dikerjakan Yayasan Berkah Saudara Abadi.
Target mereka melayani 3.690 siswa dari 45 satuan pendidikan di Desa Beji.
Penanggung jawab SPPG Yayasan Berkah Saudara Abadi Ibnu Sriwawan mengatakan, seluruh pasokan bahan pangan berasal dari produk lokal.
Yakni menggunakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi di wilayah Desa Beji.
Dengan cara itu, pemantauan kualitas bahan baku bisa lebih cepat.
”Bahan baku itu meliputi beras, sayur hingga buah,” ujarnya.
Dalam sehari beras yang dibutuhkan mencapai 30 kilogram.
Sementara kebutuhan telur bisa mencapai 4 ribu butir, sayur mayur memerlukan sekitar 20 kilogram per komoditas.
“Tergantung jenis sayur yang akan dimasak hari itu. Menunya berbeda setiap hari,” tuturnya.
Pemilihan menu MBG disesuaikan dengan jenjang satuan pendidikan.
Jika berkaca dengan aturan Badan Gizi Nasional (BGN), PAUD dan SD kelas 1-3 mendapatkan asupan 20-25 persen kebutuhan gizi, sementara SD kelas 4-6, SMP, dan SMA mendapat 30-35 persen kebutuhan gizi.
“Untuk harga per porsi kami targetkan Rp 10 ribu,” ungkapnya. Dengan estimasi produksi harian mencapai 4.000 porsi, maka biaya operasional yang diperlukan mencapai Rp 40 juta per hari. (adk/yun/ori/fat)
Editor : A. Nugroho