Aktif Angkat Budaya Lokal Malang di Pameran Internasional
Sejumlah seniman di Kota Malang mulai merambah ke teknologi immersive. Karya seni para member ditampilkan dalam layar panel dan dilengkapi efek suara. Adalah Komunitas Story of Karana yang memeloporinya. Mereka sudah beberapa kali ambil bagian di pameran internasional.
RORI DINANDA BESTARI RUANGAN berukuran 16 x 7 meter di lantai dua Latar Ijen Resto and Cafe disulap menjadi ruang pameran karya visual, Sabtu sore (24/5). Layar panel besar dipasang di empat sisi ruangan kafe yang berada di Kecamatan Klojen, Kota Malang tersebut. Itu dilakukan untuk menciptakan pengalaman menikmati karya seni audio visual Istilah familiarnya yakni immersive experience.
Total ada 34 karya seniman dari Indonesia, Malaysia, hingga Vietnam yang ditampilkan bergantian dalam durasi sekitar 17 menit. Karya visual yang disuguhkan bergerak di panel layar, berpadu dengan efek suara yang membuat gambargambar yang ditampilkan tampak nyata. Sejumlah pengunjung tak ketinggalan mengabadikan momen yang memanjakan mata itu.
”Kapasitasnya kami batasi 15 orang dalam sekali pertunjukan,” kata Digi Arafah, Co-Founder Story of Karana.
Digi bersama 15 anggota Story of Karana sering unjuk bakat menghasilkan new media art berbasis teknologi immersive. Tak hanya tampil di Indonesia, Digi dan kawan-kawan juga kerap menggelar pameran di luar negeri. Mulai dari Malaysia, Bulgaria, Jepang, dan Korea Selatan.
Para member kerap ikut serta menampilkan motion graphic animation di gedung gedung ikonik di berbagai belahan dunia. Salah satu karyanya bertajuk Murup yang sempat tampil di European Parliament, Bulgaria pada 2024 lalu. Karya itu terinspirasi dari kesenian Bantengan.
Story of Karana berhasil menyabet posisi ketiga dan menampilkan karyanya di sana. Melihat peluang itu, Digi memang sengaja mengajak para seniman potensial lainnya yang fokus pada new media art. Seniman itu diajak untuk bergabung dalam sebuah pameran perdana yang berkonsep immersive di Kota Malang.
”Animonya benar-benar luar biasa, pertama open call, banyak seniman luar negeri yang masuk seperti dari Prancis, Italia, Vietnam dan sebagainya,” kata pria yang kini berusia 27 tahun itu.
Sebenarnya, pameran yang digelar Story of Karana pertama di-launching di Seoul, Korea Selatan. Pameran itu digelar selama satu bulan penuh di dinding sebuah perpustakaan bernama Donuimun Museum Village. Sehingga, pameran perdananya di Indonesia diharapkan membawa animo yang sama.
Dalam pamerannya yang terbaru, Digi mengusung room vision. Yang berarti gambaran ruang di masa depan. Para penikmat seni sekaligus seniman diajak untuk maju seiring berkembangnya era digital.
”Kami juga ajak mahasiswa seni dari beberapa kampus yang potensial di Kota Malang,” jelas Director Swarnaloka Journey itu.
Persiapan yang dilakukan memakan waktu yang cukup panjang. Sejak bulan Maret lalu, ada proses pemilihan tema, kurasi, hingga layouting lokasi pameran. Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu menyebut jika biaya yang dikeluarkan dalam menggelar pameran perdananya juga tidak sedikit.
Setidaknya nilai proyek yang dia buat mencapai Rp 150 sampai Rp 200 juta. Beruntung, pameran itu mendapat support dari beberapa sponsor.
”Kalau kalkulasi modal pamerannya full dari swadaya member,” bebernya.
Menariknya, pameran kali ini juga tidak menarik biaya bagi pengunjung yang ingin datang. Mereka hanya bias Datang dengan reservasi melalui web resmi Swarnaloka Journey.
”Kami buka reservasi pada 19 Mei, satu hari tike sudah ludes,” imbuhnya.
Dalam pameran tersebut juga digelar beberapa panel diskusi yang menyedot animo para pebisnis di Kota Malang. Maraknya penggunaan new media art di beberapa destinasi wisata di Malang Raya membua para pelaku seni bercita-cita ikut andil di dalam proses kreatifnya. Tak hanya diterapkan dalam objek wisata, namun konsep seni berbasis teknologi bias memberikan warna baru bagi kafe maupun restoran.
”Tentu ini menjadi kesempatan besar untuk kami menampilkan karya agar menyentuh pasar yang lebih luas,” sambung pria asli Bumi Kanjuruhan itu.
Pada saat yang sama berjalannya pameran tersebut, Story of Karana juga tengah mengikuti pameran di Osaka Expo. Pameran itu langsung dihandle Projection Mapping Association of Japan (PMAOJ)
Sejak 13 Mei hingga 12 Juni mendatang.
”Kami berharap makin banyak seniman local yang melirik new media art ini agar kami bisa membuat pameran lebih besar ke depannya,” imbuh dia.
Story of Karana sendiri berdiri sejak 2023 lalu. Digawangi langsung oleh Digi Arafah. Sebelum membentuk Story of Karana, Digi berkiprah menjadi digital artist showcase beberapa band ternama dari Indonesia.
Dia juga kerap membuat beberapa ilustrasi visual stage. Dari sana, dia mulai menggandeng beberapa seniman digital lainnya untuk bergabung dalam Story of Karana. Nama Karana berasal dari Bahasa Bali ’Tri Harta Karana’, yang berarti tiga penyebab kesejahteraan.
”Dalam agama Hindu, filosofi itu diyakini membawa harmonisasi hubungan antara manusia, alam dan Tuhan,” tuturnya.
Dalam setiap karyanya, para member Story of Karana banyak mengangkat budaya lokal. Seperti topeng khas Malang, Candi Singhasari, tradisi Bantengan hingga masih banyak lagi. Mahakarya para member komunitas itu berhasil menembus pameran internasional.
”Karya kami lebih banyak tampil di luar negeri,” ujarnya.
Sebagai contoh, bulan Mei 2024 lalu mereka tampil di Bulgaria dalam ajang Lunar Festival of Lights. Lalu pada bulan Januari 2025, Story of Karana berhasil lolos kurasi di Vina Del Mar, Chile. Karya mereka ditampilkan pada gedung Palacio Vergara.
Editor : A. Nugroho