Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemkot Malang akan Ubah Angkot Jadi Feeder Trans Jatim

Aditya Novrian • Rabu, 11 Juni 2025 | 18:04 WIB
BAKAL JADI FEEDER: Seorang penumpang turun dari angkot di kawasan Pasar Gadang kemarin siang.
BAKAL JADI FEEDER: Seorang penumpang turun dari angkot di kawasan Pasar Gadang kemarin siang.

 

MALANG KOTA - Realisasi bus Trans Jatim tinggal menunggu waktu. Kabarnya, transportasi publik yang disediakan Pemprov Jatim itu mengaspal mulai Oktober mendatang.

Sebagai persiapan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mengusulkan angkotan kota (angkot) sebagai feeder. Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra menuturkan, sampai awal Juni, belum ada sosialisasi dari Pemprov terkait operasional Trans Jatim.  Meskipun belum ada hilalnya, dishub mulai mengkaji penyediaan feeder.

Sebab, Trans Jatim tidak akan melewati seluruh titik di Kota Malang. Sehingga, perlu ada transportasi khusus sebagai feeder. Dishub akan menggandeng angkot sebagai penyedia feeder. ”Kalau dari pembicaraan terakhir, dua opsi jalur Trans Jatim," terang Jaya.

Konsep pertama, yakni melewati jalur tengah kota. Dimulai dari Jalan Tlogomas, Jalan Soekarno- Hatta dan Jalan Ahmad Yani, di Kecamatan Blimbing. Kelemahan konsep pertama itu meningkatkan potensi kemacetan karena melewati pusat kota dan kawasan kampus.

Sementara konsep kedua menyasar jalur pinggir kota. Mulai dari Karanglo masuk ke Jalan Raden Intan, Arjosari, Jalan S. Temenggung, Jalan Sulfat, hingga Jalan Kyai Ageng Gribig di Kedungkandang. Kemudian masuk ke Terminal Hamid Rusdi dan selanjutnya ke wilayah Kabupaten Malang.

”Kalau lewat pinggir maka diperlukan feeder. Jadi dari pusat kota, angkot akan mengantarkan ke Terminal Madyopuro atau Terminal Hamid Rusdi," jelas Jaya. Saat ini, Dishub Kota Malang telah menyusun kajian mengenai titik-titik lokasi pemberhentian dan keberangkatan feeder.

Menurut Jaya, konsep feeder bukan sekadar pendukung Trans Jatim. Melainkan mempertimbangkan nasib para sopir angkot yang selama ini bagaikan hidup segan mati tak mau. ”Saat ini keadaan angkot semakin sulit, dulu bisa terisi 70 persen, sekarang hanya mampu 30 persen," ucapnya. (adk/adn)

Editor : A. Nugroho
#feeder #Angkot #dishub #malang #Pemkot