Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Begini Aspirasi Sopir Angkot di Malang Soal Feeder Trans Jatim

Aditya Novrian • Senin, 16 Juni 2025 | 17:08 WIB
BUTUH KEPASTIAN: Angkot jurusan Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Kolonel Sugiono kemarin sore.
BUTUH KEPASTIAN: Angkot jurusan Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Kolonel Sugiono kemarin sore.

MALANG KOTA – Wacana menjadikan angkutan kota (angkot) sebagai feeder Bus Trans Jatim jadi kabar bahagia bagi para sopir. Namun, mereka justru merasa bingung dan belum mendapat kejelasan. Mereka meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang untuk meningkatkan sosialisasi dan komunikasi secara menyeluruh.

Ketua Jalur Landungsari-Dinoyo-Gadang (LDG) Stefanus Hari Wahyudi mengungkapkan, para sopir merasa hanya dijejali wacana tanpa ada realisasi konkret di lapangan. ”Tahun lalu wacana BTS (Buy The Service) saja belum jalan, sekarang muncul lagi wacana feeder. Kami seperti diberi harapan palsu," ujarnya, kemarin.

Hari mengaku bahwa memang pernah ada sosialisasi mengenai skema feeder. Namun, itu terjadi tahun lalu dan hingga kini belum ada tindak lanjut. ”Wacana baru muncul lagi, tapi sopir belum pernah diajak diskusi lagi. Kami berharap komunikasi diperbaiki dan segera ada kejelasan," tegasnya.

Ia khawatir jika Dishub Kota Malang tidak melibatkan sopir angkot dalam perencanaan dan pelaksanaan bisa menimbulkan gesekan. Terutama saat Trans Jatim benar-benar beroperasi.

Menurutnya, kondisi infrastruktur di Kota Malang yang sempit tidak ideal untuk operasional bus ukuran medium. Diperlukan kajian lebih matang agar transportasi umum bisa berjalan tanpa saling menyingkirkan.

”Jangan sampai kehadiran Trans Jatim mematikan angkot, seperti yang terjadi dengan Bus Halokes. Banyak sopir kehilangan penumpang karena siswa semua naik bus gratis," keluhnya.

Sebelumnya, Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra menuturkan, sampai awal Juni, belum ada sosialisasi dari Pemprov Jawa Timur terkait operasional Trans Jatim.  Meskipun belum ada hilalnya, dishub mulai mengkaji penyediaan feeder.

”Saat ini keadaan angkot semakin sulit, dulu bisa terisi 70 persen, sekarang hanya mampu 30 persen. Dengan menjadi feeder, harapan kami bisa mengubah nasib mereka,” ujar dia. (adk/adn)

Editor : A. Nugroho
#feeder #Angkot #Buy The Service (BTS) #bus Trans Jatim