MALANG KOTA - Di RW 18, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, daun bukan sekadar penghias halaman. Namun sudah menjadi peluang bisnis, ruang belajar, sekaligus simbol perubahan. Lewat bimbingan tim dosen Manajemen Universitas Brawijaya (UB), RW 18 disiapkan menjadi kampung tanaman hias.
Ada lima keluarga di sana yang memang sudah lebih dulu menekuni dunia tanaman. Kegiatan ibu-ibu PKK pun turut mewarnai kegiatan tersebut. Karena itulah, sejak 2023 kawasan itu dirancang menjadi sentra budi daya tanaman hias di tengah kota.
Program itu digagas oleh Bayu Ilham Pradana, dosen Manajemen UB, bersama dua alumni dan satu mahasiswi S3. Tahun ini pengembangan berlanjut dengan cara unik, yakni studi banding ke pegiat tanaman hias Semi Abadi di Kota Batu.
”Warga kami ajak melihat langsung bagaimana budi daya tanaman daun seperti sukulen, bromelia, dan pakis. Tanaman ini punya nilai jual, tapi juga mudah dirawat,” ujar Bayu.
Lebih dari sekadar bisnis, Bayu menyebut pendekatan itu bersifat wirausaha sosial. Artinya, nilai utamanya bukan cuma cuan, tetapi juga keberdayaan warga dan pelestarian lingkungan kota.
”Selain menambah penghasilan, ini bisa jadi cara warga menghijaukan kawasan permukiman,” imbuhnya.
Bayu juga berharap ke depan para warga bisa memahami pemasaran yang tepat. Baik melalui marketplace hingga pameran dan penjualan langsung di lokasi. Dengan begitu, daun-daun kecil dari RW 18 bisa menjalar luas ke berbagai penjuru kota. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho