MALANG KOTA - Dari sekian proyek strategis Pemkot Malang yang tidak dibiayai APBD, baru proyek drainase di Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) yang berprogres. Pemkot menyebut bahwa pengerjaan proyek itu bakal dimulai bulan depan. Seperti diberitakan, pendanaannya bersumber dari APBD Pemprov Jawa Timur.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menjelaskan, saat ini proyek itu masih dalam tahap lelang. Tepatnya masih memasuki masa sanggah. Sebagai informasi, masa sanggah adalah tahapan untuk peserta yang keberatan dengan hasil lelang.
Mereka bisa mengajukan sanggahan secara tertulis kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau panitia lelang. ”Setelah masa sanggah, pemenang lelang sudah fixed. Dari pemprov, perkiraannya dimulai awal Juli,” tutur Dandung. Seperti sudah disetujui pada tahun lalu, anggaran untuk proyek itu senilai Rp 32 miliar.
Panjang drainase yang bakal dibangun mencapai 1,3 kilometer. Dimulai dari Jalan Candi Panggung dan berakhir di Jembatan Soehat, atau di sebelah Politeknik Negeri Malang (Polinema). Panjang itu menyusut dari perencanaan awal yang disusun pada 2023 lalu. Saat itu, pemkot merancang drainase sepanjang 1,8 kilometer. Keterbatasan dana disebut-sebut jadi penyebab desain drainase berubah (selengkapnya baca grafis).
Pada desain baru, Dandung menyebut bahwa drainase bakal memiliki lebar dan kedalaman 2,5 meter. Meski ada spesifikasi baru, dia meyakini problem banjir di Soehat akan teratasi 100 persen. ”Tak hanya di Soehat, drainase ini akan berdampak juga ke wilayah sekitar. Seperti di Kedawung,” jelas dia. Berdasar estimasi pemkot, genangan di wilayah itu bisa berkurang 80 persen bila drainase Soehat berfungsi.
Secara teknis, Dandung menuturkan bahwa aliran air akan dibalik. Sebelumnya, aliran air dari Soehat mengarah ke patung pesawat, atau Jalan Sudimoro. Setelah ada drainase baru, alirannya bakal ditujukan ke Sungai Brantas di dekat Polinema. ”Pembangunan diperkirakan memakan waktu selama lima bulan. Jadi estimasinya selesai bulan November,” imbuh dia.
Selain beberapa pohon, ada beberapa bangunan yang bakal terdampak pembangunan drainase tersebut. Seperti tiang listrik hingga pipa PDAM. ”Tiang listrik, provider, reklame, hingga pipa air PDAM yang ada di bawah tanah juga harus dibongkar,” imbuh Dandung.
Di tempat lain, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat juga membenarkan bahwa pengerjaan drainase bisa dimulai Juli. Dia mengaku sudah mendapat informasi itu dari Pemprov Jatim. Dalam prosesnya, dia memastikan bahwa jumlah pohon yang ditebang tidak sampai ratusan.
Diperkirakan hanya 20 persen dari angka itu. Sebab, poin itu juga mendapat perhatian dari Pemprov Jatim. ”Instruksi Pak Emil (wakil gubernur) tidak boleh sampai ratusan pohon. Jadi, yang di sisi barat saja yang dirapikan. Pohon yang di tengah (median jalan) tidak akan ditebang, tidak sampai 20 pohon (yang terdampak),” papar orang nomor satu di Pemkot Malang itu.
Senada dengan Dandung, Guru Besar Teknik Perairan Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Muhammad Bisri mengatakan bahwa keberadaan drainase baru di Jalan Soehat bisa mencegah luapan air dari barat. Seperti Jalan Kedawung, Jalan Letjen Sutoyo, dan Jalan Borobudur. Juga aliran air ke timur seperti ke Jalan Candi Panggung.
Luapan air yang bisa dikurangi mencapai 50 persen. Adanya drainase itu, lanjut Bisri, bisa menjadi semacam parit. Dengan demikian, air bisa mengalir ke selatan atau Sungai Brantas. Bisri menyebut kalau semula drainase yang dibangun mulai dari Monumen MiG-17 Fresco sampai Jembatan Soehat. ”Namun yang akan direalisasikan baru bisa dari RS Universitas Brawijaya sampai Jembatan Soehat. Sehingga genangan yang terurai baru sekitar 45 persen dulu,” ucap dia.
Untuk model drainase yang dibangun nanti menggunakan box culvert. Tujuannya agar memudahkan proses pembersihan sampah dan sedimen secara rutin. Bisri mengaku sudah melihat desain untuk drainase di Jalan Soehat. Secara umum, dia menilai tidak ada masalah dan tinggal pelaksanaannya saja.
Untuk mengintegrasikan saluran baru di sana, pemkot juga sudah membangun sudetan baru di Jalan Candi Panggung. Sudetan tersebut memiliki panjang sekitar 700 meter dari Kantor RRI Malang hingga mendekati Perumahan Permata Jingga. Sama seperti di Jalan Soehat, sudetan di Jalan Candi Panggung juga berfungsi untuk mengurai banjir.
Terutama banjir dari kawasan Sengkaling, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Luapan air dari kawasan itu biasanya bisa membuat Jalan Akordion, Tunggulwulung, hingga Tulusrejo tergenang. Upaya lainnya adalah pembangunan drainase di Jalan Letjen Sutoyo sampai Jalan Jaksa Agung Suprapto. ”Nanti akan dibangun di dekat Hotel Savana. Tujuannya untuk mengurangi banjir di sekitar sana,” tandas Bisri.
Bila benar-benar terealisasi dan berdampak, proyek itu bakal menjadi salah satu lompatan pemkot dalam mengatasi problem banjir. Selanjutnya, mereka bisa fokus menuntaskan proyek strategis lainnya.
Seperti revitalisasi Pasar Besar Malang (PBM), yang hingga bulan Juni ini belum mendapat kepastian dari pemerintah pusat. Juga renovasi Alun-Alun Merdeka, yang dana CSR dari Bank Jatim tak kunjung turun.
(adk/mel/by)
Editor : A. Nugroho