MALANG KOTA - Penyaluran kredit di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tugu Artha mencapai Rp 8,864 miliar. Angka itu terhitung sampai bulan Mei lalu. Sebanyak 87 persen penyaluran didominasi kredit umum.
Dari jumlah 87 persen itu, dikerucutkan lagi ada 62 persen yang disalurkan kepada pelaku UMKM. Totalnya senilai Rp 5,481 miliar. Sebanyak 25 persennya, atau Rp 2,216 miliar disalurkan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Malang.
”Rata-rata debitur dari ASN menjaminkan Surat Keputusan (SK) ASN-nya,” ujar Kepala BPR Tugu Artha Nyimas Nunin Anisah. Jumlah kredit yang diambil rata-rata berada di kisaran Rp 60 juta. Pengajuan kredit didasari kebutuhan konsumsi seperti pembayaran anak sekolah dan renovasi rumah.
Biasanya, pengajuan kredit oleh ASN bakal ramai sesaat setelah pengangkatan. Baik ASN dari golongan I hingga IV. Namun, Nyimas belum mendata mayoritas dari ASN golongan berapa yang mengajukan kredit ke tempatnya. Yang jelas, rata-rata mereka mengambil tenor kredit dua sampai tiga tahun.
BPR Tugu Artha menyebut bahwa Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah untuk ASN cenderung rendah. ”Gaji sudah tetap, rata-rata juga sudah paham risiko cicilannya dan membayar tepat waktu,” lanjut Nyimas. Sebab, mengajukan kredit kepada BPR Tugu Artha saat ini persyaratannya lebih ketat.
Meskipun sudah memiliki SK ASN, tetap ada syarat lain yang harus terpenuhi. Syarat paling berpengaruh yakni riwayat BI Checking. Yaitu Informasi Debitur Individual (IDI) Historis yang mencatat lancar atau macetnya pembayaran kredit seorang debitur. Apabila BI Checking sudah merah, BPR Tugu Artha tidak akan berani memberikan kredit.
Saat ini, aset BPR Tugu Artha sudah mencapai pertumbuhan Rp 53 miliar hingga bulan Mei 2025 dari modal awal senilai Rp 15 miliar. Kini muncul wacana pertambahan modal untuk menstimulus perekonomian daerah dari Pemkot Malang sebesar Rp 50 miliar. ”Perencanaan sudah kami tuntaskan, tinggal menunggu disahkan,” pungkas Nyimas. (aff/by)
Editor : A. Nugroho