MALANG KOTA – Peringatan bulan Muharram atau Suro 1446 H masih berlangsung dibeberapa kawasan hingga kemarin (13/7). Salah satunya Festival Budaya bertajuk Mupuh Ulan Suro Sesi 2: Kelurahan Oro-Oro Dowo Mbangun Kayangan di Kecamatan Klojen. Pawai itu dimeriahkan kirab tumpeng hingga iring-iringan motor antik.
Festival dimulai pukul 13.00 dengan diawali kirab sekitar 700 peserta yang merupakan perwakilan warga dari Kelurahan Oro-Oro Dowo. Rute kirab mulai dari Jalan Tampomas, kemudian bergerak menuju Pasar Oro-Oro Dowo, Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Jalan Buring, Jalan Merbabu, Jalan Guntur, Jalan Baluran, dan berakhir di Jalan Kunir.
Sepanjang kirab, para peserta menampilkan berbagai macam kebudayaan. Seperti cucuk lampah atau upacara pemberangkatan yang ditampilkan Jowo Line Dance. Setelah itu, anggota karang taruna yang berada di barisan terdepan berjalan dengan membawa kembar mayang. Mereka mengenakan busana tradisional.
Di belakangnya terdapat arak-arakan kereta yang berisi kelompok tari anak-anak. Berikutnya terdapat 25 tumpeng yang melambangkan tahun 2025. ”Tapi jumlah tumpeng yang disediakan lebih dari itu karena sisanya dititipkan di Kantor Kelurahan Oro-oro Dowo untuk acara santap bersama,” kata Lurah Oro-Oro Dowo Solikin.
Ada pula seni hadrah yang ditampilkan perwakilan 7 RW. Kirab semakin meriah dengan penampilan flash mob dari karang taruna sambil mengenakan busana Jawa, 60 anak yang memainkan angklung, hingga voorijder dari komunitas Motor Antique Club Indonesia (MACI). ”Para peserta diberangkatkan langsung oleh Pak Camat, Cak Sonny selaku anggota DPRD Kota Malang, dan saya,” sambung Solikin.
Selain kirab, Solikin menyebut ada rangkaian kegiatan lain yang berlangsung di kantor kelurahan. Misalnya, pentas tari tradisional, santunan untuk anak yatim, doa lintas agama, pelepasan burung, pemberian sayur, jamas pusaka, hingga suguhan seperti jenang suro dan tumpeng.
Menurut Solikin, animo warga sangat tinggi pada penyelenggaraan festival tahun ini. Terutama di kawasan Kelurahan Oro-oro Dowo yang termasuk pusat kota. Tahun lalu, pihaknya juga menggelar festival untuk kali pertama, tapi tidak sampai melakukan kirab. ”Saya berharap Festival Budaya tahun 2025 bisa dirasakan oleh seluruh warga. Sebab kegiatannya bukan hanya milik saya, tapi warga,” tandasnya. (mel/fat)
Editor : A. Nugroho