Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Inovasi Terbaru dari Universitas Negeri Malang: Tim Pengabdian Masyarakat Berdayakan Kelompok Wanita Tani Lewat Tiwul Pisang

A. Nugroho • Sabtu, 26 Juli 2025 | 19:15 WIB

 

PERLUAS PEMASARAN: Tim dari Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM memasarkan produk Sangtiwol hingga ke luar Desa Sidodadi seperti di Car Free Day (CFD) Ijen
PERLUAS PEMASARAN: Tim dari Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM memasarkan produk Sangtiwol hingga ke luar Desa Sidodadi seperti di Car Free Day (CFD) Ijen

RADAR MALANG - Tim Pengabdian Masyarakat dari Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) berhasil mengembangkan sumber makanan baru berbahan dasar pisang raja awak di Malang Selatan. Dalam pengembangannya mereka menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupatan Malang.

 

Komoditas pisang raja awak dari Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang berhasil disulap menjadi produk turunan yang unik dan menyehatkan. Jika selama ini tiwul berasal dari singkong, tim pengabdian masyarakat dari Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) memanfaatkan pisang tersebut sebgai bahan bakunya.

 

TERUS BERBENAH: Tim dari Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM terus mengembangkan berbagai produk berbahan dasar pisang raja awak
TERUS BERBENAH: Tim dari Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM terus mengembangkan berbagai produk berbahan dasar pisang raja awak

Dengan inovasi tersebut pisang raja awak kini punya nilai jual yang tinggi. Pisang tersebut kaya serat sehingga baik untuk kesehatan pencernaan dan lambung. Sayangnya, sejauh ini pisang raja awak belum banyak dijadikan objek dalam program pemberdayaan berkelanjutan. Potensi itulah yang membuat Slamet Fauzan SPd MPd dan  Dra Wiwik Wahyuni MPd serta lima mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM meliriknya sebagai pengganti nasi.

 

Fauzan membuat pisang raja awak sebagai bahan baku inovasi olahan pisang tiwol (Sangtiwol) yang kemudian menjadi nama komersil untuk produk tersebut. Sangtiwol diproduksi dengan tiga varian lauk. Yakni ikan asin atau teri, lodeh, dan urap-urap. Itu menjadi alternatif makanan pokok yang lebih sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan. Ada pula Sangtiwol sebagai camilan.

 

SASAR GEN-Z: Produk Sangtiwol diolah dengan aneka rasa untuk menyesuaikan tren di kalangan anak muda
SASAR GEN-Z: Produk Sangtiwol diolah dengan aneka rasa untuk menyesuaikan tren di kalangan anak muda

 

Olahan camilan dilengkapi topping original berupa parutan kelapa dan aneka rasa lainnya.  Fauzan kini tengah mengembang produk turunan lainnya. Seperti egg roll, brownies, hingga banana cake. Dia memperkirakan pisang raja awak bisa menghasilkan 1.000 produk turunan. ”Kami menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sidodadi. Desa tersebut dipilih karena KWT memiliki semangat tinggi dan sudah terbiasa bekerja sama,” jelasnya.

MENCOBA INOVASI TIWUL: Seorang pengunjung car free day mencoba sangtiwol rasa cokelat yang dijual di stan Museum Brawijaya.
MENCOBA INOVASI TIWUL: Seorang pengunjung car free day mencoba sangtiwol rasa cokelat yang dijual di stan Museum Brawijaya.
 

Selain mengajarkan proses produksi, Fauzan dan tim juga membantu warga dalam proses pemasaran. Baik secara offline maupun online. Mereka turut didorong dalam penguatan legalitas branding, ekspansi bisnis, diversifikasi produk, hingga optimalisa digital. ”Saat ini, produk tiwul sudah dipasarkan ke luar desa melalui bazar, UMKM, online, hingga car free day (CFD) di Kota Malang,” imbuhnya.

 

INOVASI TIWUL: Produk Sangtiwol punya berbagai macam topping seperti cokelat dengan taburan kelapa
INOVASI TIWUL: Produk Sangtiwol punya berbagai macam topping seperti cokelat dengan taburan kelapa

Produksinya kini mencapai 150-200 kemasan per bulan. Bergantung jumlah pesanan dan ketersediaan bahan baku. Untuk tiwol pisang siap makan dengan topping dibanderol harga Rp 15 ribu. Sementara, untuk yang belum matang seharga Rp 10 ribu. Fauzan berharap Sangtiwol bisa merambah pasar Internasional. Untuk itu, dia kini sedang menyusun ekspansi bisnis melalui ekspor. (adv/mel/dre)

Editor : A. Nugroho
#UMKM #Universitas Negeri Malang #kelompok tani #inovasi baru #malang