RADAR MALANG - Tim Pengabdian Masyarakat dari Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) berhasil mengembangkan sumber makanan baru berbahan dasar pisang raja awak di Malang Selatan. Dalam pengembangannya mereka menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupatan Malang.
Komoditas pisang raja awak dari Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang berhasil disulap menjadi produk turunan yang unik dan menyehatkan. Jika selama ini tiwul berasal dari singkong, tim pengabdian masyarakat dari Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) memanfaatkan pisang tersebut sebgai bahan bakunya.
Dengan inovasi tersebut pisang raja awak kini punya nilai jual yang tinggi. Pisang tersebut kaya serat sehingga baik untuk kesehatan pencernaan dan lambung. Sayangnya, sejauh ini pisang raja awak belum banyak dijadikan objek dalam program pemberdayaan berkelanjutan. Potensi itulah yang membuat Slamet Fauzan SPd MPd dan Dra Wiwik Wahyuni MPd serta lima mahasiswa Prodi Pendidikan Akuntansi FEB UM meliriknya sebagai pengganti nasi.
Fauzan membuat pisang raja awak sebagai bahan baku inovasi olahan pisang tiwol (Sangtiwol) yang kemudian menjadi nama komersil untuk produk tersebut. Sangtiwol diproduksi dengan tiga varian lauk. Yakni ikan asin atau teri, lodeh, dan urap-urap. Itu menjadi alternatif makanan pokok yang lebih sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan. Ada pula Sangtiwol sebagai camilan.
Olahan camilan dilengkapi topping original berupa parutan kelapa dan aneka rasa lainnya. Fauzan kini tengah mengembang produk turunan lainnya. Seperti egg roll, brownies, hingga banana cake. Dia memperkirakan pisang raja awak bisa menghasilkan 1.000 produk turunan. ”Kami menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sidodadi. Desa tersebut dipilih karena KWT memiliki semangat tinggi dan sudah terbiasa bekerja sama,” jelasnya.
Selain mengajarkan proses produksi, Fauzan dan tim juga membantu warga dalam proses pemasaran. Baik secara offline maupun online. Mereka turut didorong dalam penguatan legalitas branding, ekspansi bisnis, diversifikasi produk, hingga optimalisa digital. ”Saat ini, produk tiwul sudah dipasarkan ke luar desa melalui bazar, UMKM, online, hingga car free day (CFD) di Kota Malang,” imbuhnya.
Produksinya kini mencapai 150-200 kemasan per bulan. Bergantung jumlah pesanan dan ketersediaan bahan baku. Untuk tiwol pisang siap makan dengan topping dibanderol harga Rp 15 ribu. Sementara, untuk yang belum matang seharga Rp 10 ribu. Fauzan berharap Sangtiwol bisa merambah pasar Internasional. Untuk itu, dia kini sedang menyusun ekspansi bisnis melalui ekspor. (adv/mel/dre)
Editor : A. Nugroho