Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Transformasi Angkot di Kota Malang dari Era Kolonial sampai Sekarang

Aditya Novrian • Kamis, 21 Agustus 2025 | 18:10 WIB
TETAP EKSIS: Angkot trayek Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Pasar Besar kemarin. Foto kiri, wujud transportasi demmo yang mengaspal di Kota Malang pada 1931 silam.
TETAP EKSIS: Angkot trayek Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Pasar Besar kemarin. Foto kiri, wujud transportasi demmo yang mengaspal di Kota Malang pada 1931 silam.

Sempat Berjaya Jadi Pilihan Masyarakat pada 1990-an

Angkot di Kota Malang menyimpan cerita panjang. Dari demmo kayu yang hadir pada 1931, oplet dan bemo yang meramaikan jalanan, hingga angkot yang pernah berjaya pada 1990-an. Semua meninggalkan jejak nostalgia sebelum perlahan tergeser oleh perubahan zaman.

TETAP EKSIS: Angkot trayek Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Pasar Besar kemarin. Foto kiri, wujud transportasi demmo yang mengaspal di Kota Malang pada 1931 silam.
TETAP EKSIS: Angkot trayek Arjosari-Mergosono-Gadang (AMG) melintas di Jalan Pasar Besar kemarin. Foto kiri, wujud transportasi demmo yang mengaspal di Kota Malang pada 1931 silam.

SEJARAH angkutan kota (angkot) di Kota Malang jejaknya bisa ditarik mulai 1931. Kala itu, dua perempuan Belanda bernama Johanna Alida Elisabeth Land dan Martha Catharina Kranenburg, mendirikan perusahaan demmo dengan modal 150 ribu gulden. Dari situlah, roda transportasi publik Malang berputar.

Saat itu, demmo hadir sebagai moda murah meriah. Wujudnya unik, sepeda motor bekas yang dipasangi bodi kotak dari kayu dengan mesin dua tak buatan Jerman. Bagian belakangnya difungsikan untuk mengangkut barang atau penumpang.

Semua kisah itu sempat ditulis surat kabar De Indische Courant edisi 26 Oktober 1931. Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe menuliskan, demmo muncul di saat Malang sedang bertumbuh pesat. Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Gula tahun 1870 membuat banyak perusahaan swasta masuk ke Jawa. Migrasi penduduk meningkat, Malang butuh moda transportasi yang cepat dan terjangkau.

Demmo pun jadi jawaban. Meski sederhana, moda ini membawa banyak orang bepergian ke pusat kota, pasar, hingga stasiun. Hingga 1935, jumlah angkutan publik di Malang makin beragam.

Oplet dan fortolette muncul dengan kapasitas 6–7 kursi. Berbeda dengan demmo, kendaraan ini lebih nyaman karena berdinding logam dan bertenaga mesin lebih kuat. Sopir bebas menentukan jam kerja, rute pun belum diatur ketat.

Oplet biasanya bisa ditemukan di pangkalan besar seperti Jalan Pegadaian, Jagalan, Boldi, Comboran, hingga Jalan Kabupaten. Setiap pagi, suasana pangkalan ramai. Surat kabar Soerabaiasch Handelsblad edisi 2 Februari 1935 bahkan menuliskan lebih dari 20 kendaraan menunggu penumpang di Stasiun Malang.

Namun, banyaknya kendaraan kecil ini menimbulkan persaingan dengan perusahaan bus dan trem. Beberapa operator trem uap terpaksa mengurangi perjalanan harian karena kalah saing dengan moda kecil yang lebih fleksibel.

Memasuki 1960-an, demmo dan oplet mulai tergeser oleh bemo. Moda ini adalah kendaraan niaga keluaran Daihatsu. Depannya ada yang lancip seperti moncong tikus, ada pula yang bulat. Bagian belakang dilapisi kanvas agar penumpang tak kehujanan. Tidak hanya fungsional, bemo juga tampil mencolok. Banyak sopir mengecat bodi dengan warna cerah, bahkan dihias lukisan.

Mawaddah dalam tulisannya berjudul Bemo di Kota Malang 1968–1977 menyebutkan, bemo awalnya beroperasi di empat rute dari Pasar Besar. Salah satunya Blimbing–Comboran. Hari Wahono, mantan sopir bemo asal Blimbing, mengenang masa jayanya. ”Kalau bubaran bioskop jam 9 malam, penumpang bisa sampai 10 orang. Padahal kapasitas ideal cuma 6,” ujarnya.

Bemo miliknya biasa melintasi PLN, Bioskop Ria (kini Ramayana), Bioskop Merdeka, hingga Alun-Alun Merdeka. Hadi Slamet, sopir lainnya menyebut selain trayek Blimbing–Comboran, ada juga rute Dinoyo–Comboran, Kawi–Comboran, Kebonsari–Comboran, hingga Dinoyo–Pattimura. Tarifnya sekitar Rp 250.

Dia masih teringat beberapa jenis kendaraan yang digunakan para sopir. Mulai dari Hijet 55, Hijet 1000, hingga Suzuki Carry.

Eksistensi bemo bahkan sampai ke Batu dan Selecta. Surat kabar Imburs Agblad (24 Juni 1978) menulis, jenis mobil yang dipakai antara lain Oldsmobile, Chevrolet, dan Opel Kapitan. Namun, seiring waktu, bemo dianggap makin ketinggalan zaman. Mesinnya berpolusi, suku cadang sulit, kapasitas terbatas.

Akhir 1980-an, Wali Kota Malang H M. Soesamto meresmikan program peremajaan bemo menjadi angkot. Proses ini berlangsung 1989–1992. Ada 1.089 armada baru, sementara 811 bemo lama hanya boleh beroperasi di pinggiran.

Namun, peralihan itu memicu protes sopir. Setoran harian melonjak dari Rp 5 ribu menjadi Rp 25 ribu. Sopir harus mengangsur kendaraan ke dealer sekitar Rp 1,3 juta untuk New Suzuki Carry, Rp 1,4 juta untuk Daihatsu Zebra. Cicilannya berjalan 4–5 tahun.

”Kalau dulu bawa bemo bisa bawa pulang uang bersih. Setelah jadi angkot, setoran lebih berat,” kenang Slamet.

Meski begitu, angkot sempat berjaya. Tahun 1990-an hingga awal 2000-an, angkot menjadi tulang punggung transportasi warga. Sopir bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, bahkan membeli rumah dari hasil narik angkot.

Hari ini, wajah angkot tak lagi sama. Penumpang jauh berkurang. Transportasi daring dan kendaraan pribadi membuat sopir kehilangan setoran. Pemerintah mencoba menjawab lewat skema buy the service (BTS).

Armada akan diganti baru, trayek ditata ulang, sopir mendapat gaji tetap. Harapannya, angkot bisa bertransformasi seperti bus modern di kota besar. Namun, bayang-bayang sejarah peremajaan bemo dulu masih menghantui. Sopir khawatir perubahan justru makin menekan.

Di sisi lain, masyarakat butuh transportasi yang nyaman, aman, dan ramah lingkungan. Kini, masa depan angkot berada di persimpangan. Akan menjadi kisah sukses peremajaan seperti diharapkan Pemkot atau perlahan-lahan menyusul demmo, oplet, dan bemo yang tinggal sejarah. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#oplet #Angkot #Kota Malang #bemo