Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menengok Perjalanan Gedung Pembangkit Listrik di Jalan Aries Munandar, Klojen, Kota Malang

Aditya Novrian • Kamis, 4 September 2025 | 17:15 WIB
AWAL BERDIRI: Bangunan pembangkit listrik milik ANIEM di Jalan Aries Munandar, Klojen, Kota Malang pada 1911 silam.
AWAL BERDIRI: Bangunan pembangkit listrik milik ANIEM di Jalan Aries Munandar, Klojen, Kota Malang pada 1911 silam.

Dulu Terangi Kota, Kini Jadi Gudang Perlengkapan PLN

Bangunan tua di Jalan Aries Munandar pernah menjadi jantung listrik Kota Malang. Mesin diesel di dalamnya sampai mengguncang tanah ketika dihidupkan. Sejak 1911 hingga kini, gedung itu menjadi saksi bisu perubahan kota. 

TETAP KOKOH: Kondisi bangunan pembangkit listrik peninggalan ANIEM yang digunakan PLN sebagai gudang perlengkapan.
TETAP KOKOH: Kondisi bangunan pembangkit listrik peninggalan ANIEM yang digunakan PLN sebagai gudang perlengkapan.

SUARA gemuruh mesin diesel pernah menggema di tepian Jalan Aries Munandar, Kecamatan Klojen, Kota Malang, lebih dari seabad silam. Dari sebuah bangunan berdinding kokoh, cahaya listrik pertama kali lahir di kota pendidikan.

Tak banyak orang yang tahu, gedung sederhana itu bukan sekadar pembangkit listrik, melainkan penanda perubahan besar. Yakni masuknya listrik ke Kota Malang pada 1911. Dua tahun setelah Belanda melalui Algemene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij (ANIEM) memperkenalkan tenaga listrik di Jawa Timur.

Sejarah itu tercatat dalam buku Jelajah Listrik di Tanah Raja, Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901–1957 karya Eko Sulistyo (2021). Disebutkan, ANIEM atau Perusahaan Listrik Umum Belanda berdiri pada 1909 dengan kantor pusat di Amsterdam. Perusahaan ini membuka kantor cabang pertamanya di Surabaya pada 26 April tahun yang sama. Dari sanalah, jaringan listrik kemudian merambah ke sejumlah kota lain, termasuk Malang.

Hannu Ayodya Mamola, penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang menyebut dahulu kawasan Jalan Aries Munandar masih lengang. Hanya ada beberapa rumah dan perkantoran. Di lokasi itulah ANIEM mendirikan pusat kelistrikan. Mereka bahkan membangun kantor urusan pembayaran listrik di lokasi yang sekarang ditempati Hotel Aliente. Sayang, bekas bangunannya sudah tak tersisa.

Kantor administrasi ANIEM ditempatkan di Kajoetangan. Gedung yang dibangun tahun 1930 itu, menurut buku Managemen Digital Bangunan Bersejarah di Kota Malang karya Dr Eng Ir Herry Santosa dan rekan-rekan (2021), sampai sekarang masih berdiri gagah dan difungsikan sebagai kantor PLN UP3 Malang.

Ayodya mengungkapkan, pembangkit pertama di Jalan Aries Munandar menggunakan mesin diesel. Bukti itu terlihat dari foto lawas 1909 yang menunjukkan generator tua di sebuah ruangan seluas 50 x 15 meter. Di belakang bangunan tampak sebuah kolam besar. ”Kolam itu berfungsi sebagai pendingin mesin, airnya dialiri pakai pipa besar dari sungai di belakangnya,” imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, mesin itu dua kali diganti. ”Pada awal pendiriannya, mesin diesel itu memiliki tenaga 200 tenaga kuda, tapi tahun 1924, sudah diganti lagi dengan tenaga yang lebih besar, 1.800 tenaga kuda,” jelas Ayodya.

Perubahan itu sejalan dengan pembangunan kota lewat Bouwplan atau rencana besar perluasan Malang yang membuat kebutuhan listrik melonjak. Bangunan pembangkit tetap berfungsi melewati masa-masa genting, termasuk pendudukan Jepang. Tahun 1942, ANIEM berganti nama menjadi Shobu Denki Sha.

Meski berkedudukan di Surabaya, perusahaan itu tetap mengatur urusan listrik di Jawa Timur. Termasuk mengelola PLTD Aries Munandar. Kala Agresi Militer Belanda I dan II, gedung itu kembali selamat.

”Ada foto udara yang menunjukkan bahwa fasilitas kantor dan PLTD-nya masih utuh, tapi bangunan kiri kanannya terbakar. Karena waktu itu yang dibom cenderung di tengah kota, sedangkan yang di pinggiran hanya sedikit,” kata Ayodya.

Pasca-kemerdekaan, bangunan itu terus beroperasi hingga 1970-an. Setelah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Selorejo dan Karangkates beroperasi, keberadaan PLTD Aries Munandar mulai tersisih. ”Karena seiring waktu ada pembangunan PLTA di Bendungan Selorejo dan Karangkates, otomatis tenaga yang dihasilkan lebih banyak,” ujar Ayodya.

Kini, gedung tua itu berganti fungsi menjadi gudang perlengkapan PLN UP3 Malang. Cat putih khas Belanda berganti biru, mengikuti nuansa Kampung Biru Arema di sekitarnya. Kolam pendingin mesin yang dulu jadi jantung pembangkit sudah dibeton. Berubah menjadi tempat menaruh kabel dan trafo.

”Bagian dalamnya itu juga dipakai jadi gudang, bagian bawahnya jadi kantor gudang,” kata Ari Darianto, 41, warga setempat.

Meski berubah rupa, ingatan warga tetap hidup. Ari menceritakan, para sesepuh sering berkisah bahwa tentara Jepang pun enggan merusak bangunan ini. Alasannya, karena di sana adalah pembangkit listrik sebagai salah satu sumber kehidupan.

Cerita lain, ketika PLTD masih beroperasi, getaran mesinnya terasa hingga ratusan meter ke kiri dan kanan bangunan. Gedung ini juga diyakini sarat kisah mistis. Beberapa warga menyebut adanya penampakan dari dalam bangunan.

”Cerita yang saya dengar ada petinggi PLN yang melakukan pengecekan ketersediaan ke sana diganggu penunggu gedung. Setelah itu dia lari,” tandas Ari.

Hari ini, gedung itu berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang listrik di Malang. Dari raungan mesin diesel, selamat dari perang, hingga cerita angker yang masih hidup di tengah warga. Setiap dinding birunya seakan menyimpan fragmen sejarah tentang bagaimana cahaya pernah lahir di tepian Sungai Brantas lebih dari seratus tahun lalu. (*/adn)

 

Editor : A. Nugroho
#Aniem #PLN #Kota Malang #bangunan tua