Pada Masa Pemerintahan Belanda Dijadikan Kebun Binatang
Jejak Terminal Sawahan tidak bisa dipisahkan dari Kota Malang setelah masa kemerdekaan. Operasionalnya hanya bertahan 22 tahun. Dimulai pada 1955 sampai 1977. Pada masa pemerintahan Belanda, lokasi itu sempat dijadikan kebun binatang.
Posisi Terminal Sawahan cukup strategis. Berlokasi di jantung Kota Malang. Dekat dengan pusat ekonomi dan keramaian masyarakat. Di sebelah timur terminal, ada Pasar Besar Malang. Satu kilomoter ke utara, ada Alun-Alun Merdeka.
Untuk ke sana, warga harus melewati kawasan Embong Arab, yang pada era 1950-an masih ada jalur trem. Operasional jalur itu terbentang hingga Stasiun Jagalan. Kini, tanda-tanda operasional terminal tak lagi terlihat. Hanya menyisakan kendaraan keluar masuk untuk membeli bahan bakar di SPBU.
”Sekitar tahun 1992 sudah jadi SPBU, yang punya Pak Yoso, seorang perwira ABRI waktu itu. Terminal Sawahannya sudah tutup tahun 1977,” kata Zainul Arifin, salah seorang warga sekitar. Sebagai warga asli Sawahan, pria berusia 64 tahun tersebut masih ingat bagaimana keadaan terminal kala masih beroperasi.
Dahulu, segala PO bus seperti NV Adam, NV Batoe Omnibus Maatschappij (B.O.M) dengan chasis buatan Eropa dan Amerikanya melayani penumpang di sana. Melayani rute Sawahan ke Tumpang, Batu, Gondanglegi, Dampit, Surabaya, dan beberapa Kota lain. Saat itu, masih ada tiga terminal di Kota Malang.
Selain di Sawahan, ada di Dinoyo dan Gadang. Semua berstatus terminal bayangan. ”Sebenarnya depan Stasiun Jagalan itu juga dijadikan tempat mangkal bus tujuan ke Dampit,” imbuh Zainul. Termasuk juga menjadi tempat mangkalnya bemo dan dokar berkumpul semua di kawasan seluas 50 x 60 meter persegi tersebut.
Tarif naik bemo dari Sawahan ke Blimbing saat itu sekitar 50 rupiah. Dulu, terminal itu memiliki kanopi beton untuk menutupi peron dan ruang tunggu penumpang. ”Di atasnya itu cukup luas. Kadang-kadang dibuat anak-anak main layangan kalau pas musimnya,” kenang Zainul.
Lansia yang bekerja sebagai tukang sol sepatu di seberang SPBU itu menyebut, saat masih jadi terminal, sudah ada cikal bakal tempat itu menjadi SPBU. Sebab, saat itu sudah ada dua mesin pompa bensin lama di pojok utara terminal. Tepat di sudut pertemuan antara Jalan Sulawesi dan Yulius Usman.
Seiring berjalannya waktu, keadaan terminal makin ramai. ”Lama-lama bus makin banyak, sampai parkir di luar terminal. Akhirnya tahun 1977 dipindah ke Terminal Pattimura (Kecamatan Klojen),” ujar dia. Antara tahun 1977 sampai 1992, bekas bangunan terminal dipakai menjadi penampungan sementara kala Pasar Comboran sedang dibangun.
Setelah pasar selesai, baru semuanya diboyong keluar lagi. Sejarah Terminal Sawahan sebenarnya bisa ditarik sampai masa kolonial Belanda. Kala terminal pusat di Kota Malang masih berada di kawasan Pecinan atau di belakang Pasar Besar. ”Tahun 1932, di tempat yang dulu jadi Terminal Sawahan itu jadi kebun binatang,” kata Hannu Ayodya Mamola, penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang.
Kebun binatang tersebut masuk dalam perencanaan pembangunan pemerintah kolonial pada tahun 1931. Dalam waktu satu tahun, bangunannya sudah berdiri. Mereka menerima sumbangan hewan-hewan pada tahun 1932 setelah bangunannya jadi. Tapi, tidak ada koleksi hewan-hewan besar seperti gajah, harimau, dan singa yang menjadi tontonan pengunjung.
Hanya ada hewan kecil seperti menjangan, terenggiling, ayam, dan bebek hias di sana. ”Kemungkinan karena hewannya tidak menarik, akhirnya di sana menjadi sepi pengunjung,” ucap Hannu. Akhirnya binatang-binatang itu pun dilelang pada tahun 1936. Dan beberapa tahun setelahnya, semua rata dengan tanah.
Dari foto udara Angkatan Udara Belanda kala menjalankan agresi militer tahun 1947, tampak bahwa kebun binatang tersebut hanya berupa tanah kosong. Saat itu, terminal bus masih berada di Pecinan. Baru tahun 1955 Pemkot Malang mulai membangun Terminal Sawahan karena Terminal Pecinan sudah dinyatakan tidak layak.
Semua yang awalnya jalan dari belakang Pasar Besar dipindah ke Sawahan. Perkembangan kota terus bergerak sampai akhirnya terminal pusat di Kota Malang ditempatkan di Arjosari. (*/by)
Editor : A. Nugroho