RADAR MALANG – Festival kuliner “Malang rasa Bangkok” yang berlangsung pada 4–14 September 2025 sukses menarik perhatian ribuan orang. Bertempat di Living Plaza, Sawojajar, acara ini menghadirkan aneka makanan khas Thailand, mulai dari mango sticky rice, thai tea, oyster, hingga makanan viral dancing shrimp. Tak hanya itu, beberapa tenant juga menawarkan makanan lokal seperti pentol bakar, es jeruk, hingga jajanan khas Nusantara lainnya. Festival ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, sehingga pengunjung leluasa datang di siang maupun malam hari.
Setiap harinya, area festival tampak padat oleh pengunjung yang datang bersama keluarga, pasangan, maupun teman-teman. Banyak yang terlihat sibuk mengabadikan suasana lewat kamera ponsel, berfoto dengan latar dekorasi khas Thailand, hingga mencoba makanan yang jarang ditemui di Malang. Antusiasme ini menunjukkan tingginya minat masyarakat pada event kuliner internasional, apalagi dengan nuansa yang sengaja dikonsep seperti sedang berada di Bangkok.
Namun, di balik ramainya pengunjung, komentar warganet di media sosial justru banyak membahas soal harga makanan dan minuman yang dinilai cukup mahal. Beberapa di antaranya merasa harga menu terlalu tinggi jika dibandingkan dengan harga makanan serupa di luar acara.
“Over price di sana menurutku, makanya sedikit yang datang untuk makan, rata-rata hanya melihat. Kalau bisa harga diturunkan dikit lah, apalagi banyak juga panganan dari Indonesia,” tulis akun @ari***** di video Diary Vetty.
Hal senada juga diungkapkan warganet lain. “Es jeruk Rp 48 ribu, es klengkeng Rp 50 ribu, rajungan Rp 40 ribu, mango sticky rice Rp 59 ribu,” sebut akun @yesi** di unggahan review Om Manu.
Komentar tersebut sontak membuat banyak pengguna lain terkejut. Sebagian merasa harga yang disebutkan memang tidak sebanding dengan ekspektasi mereka terhadap festival makanan.
“Gak jadi pingin ke sana, mehong,” tulis akun @yusi** disertai emotikon tertawa.
Meski begitu, tetap ada pengunjung yang menilai harga tersebut wajar. Menurut mereka, acara ini bukan hanya soal makanannya, tetapi juga soal pengalaman.
Fenomena ini memperlihatkan kontras antara ramainya pengunjung dengan keluhan soal harga. Banyak orang tetap antusias datang untuk menikmati suasana, tetapi tak sedikit pula yang lebih memilih jalan-jalan dan sekadar melihat-lihat tanpa membeli makanan. Perdebatan di media sosial pun semakin ramai, menandakan bagaimana masyarakat kini semakin kritis terhadap harga kuliner di festival atau acara besar.
Bagi sebagian pengunjung, “Malang rasa Bangkok” tetap menjadi ajang menarik untuk melepas penat sekaligus merasakan suasana luar negeri tanpa harus terbang jauh. Namun bagi yang mengutamakan isi dompet, harga-harga di festival ini memang terasa menguras kantong. (alf)
Editor : A. Nugroho