MALANG KOTA - Besok (29/9) bakal ada peringatan Hari Jantung Internasional. Peringatan itu menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya penyakit kardiovaskuler yang kasusnya cenderung meningkat setiap tahun. Seperti yang terjadi di Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir (selengkapnya baca grafis).
Untuk diketahui, ada tiga jenis penyakit kardiovaskuler yang didata Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Yakni penyakit jantung koroner (PJK), hipertensi primer, dan gagal jantung. Jumlah penderita jantung koroner dan gagal jantung lah yang terpantau terus meningkat.
Pada 2024 lalu, penderita jantung koroner tembus 5.185 orang. Sementara penderita gagal jantung tercatat ada 5.822 orang. Bila ditotal, ada 11.007 warga yang menderita dua jenis penyakit jantung tersebut. Sementara jumlah penderita hipertensi primer yang menjadi pemicu penyakit jantung cenderung menurun. Pada 2024 lalu terdata 73.028 penderita.
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif mengakui bahwa tren untuk penyakit jantung memang mengalami peningkatan setiap tahunnya. ”Ada berbagai penyebab yang membuat jumlah penderita penyakit jantung meningkat. Mulai dari gaya hidup, penyakit penyerta, hingga skrining kesehatan yang semakin digalakkan,” kata dia.
Dilihat dari gaya hidup, saat ini banyak orang yang memiliki kebiasaan begadang. Kemudian jarang berolahraga, merokok, pola makan yang tidak seimbang, dan sering mengonsumsi minuman beralkohol. Ada pula penyakit penyerta atau faktor risiko yang memicu munculnya penyakit jantung. Seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan riwayat genetik dari keluarga.
Di luar gaya hidup dan penyakit penyerta, tingginya penderita penyakit jantung juga terjadi karena tenaga kesehatan (nakes) semakin menggiatkan skrining. ”Skrining dilakukan sejak di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atau puskesmas hingga rumah sakit. Namun dengan adanya skrining, penyakit jantung bisa dideteksi lebih awal,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Husnul menyebut, saat ini 16 Puskesmas di Kota Malang sudah bisa melakukan skrining untuk mengetahui adanya penyakit jantung. Skrining tersebut menggunakan Elektrokardiogram (EKG) atau alat medis untuk merekam aktivitas listrik jantung.
Dengan EKG, dokter bisa mengetahui kondisi jantung seperti aritmia, serangan jantung, dan kondisi lainnya. Jika EKG menunjukkan grafik yang tidak biasa, nakes Puskesmas akan memberikan rujukan ke rumah sakit. Tujuannya untuk mengetahui diagnosis yang lebih akurat. ”Pengecekan menggunakan EKG hanya bisa dilakukan di tempat. Sebenarnya ada EKG portable yang bisa dibawa-bawa, tapi harganya sekitar Rp 50 juta dan kami belum punya,” ucap Husnul.
Jika sudah terbukti menderita penyakit jantung, penderita bakal mendapat obat. Obat tersebut disesuaikan dengan kondisi penderita dan penyakit penyerta. Sebagai contoh, untuk penyakit jantung yang dipicu oleh hipertensi, ada obat antihipertensi dengan dosis long-term emptying yang sekarang diresepkan kepada penderita.
”Dengan obat yang sifatnya long-term emptying, penderita tidak perlu mengonsumsi obat sampai tiga kali sehari. Namun, untuk pemberian obat tetap harus sesuai resep dari dokter yang menangani,” tegas Husnul.
Di samping pengobatan, penderita penyakit jantung juga harus menjaga pola hidup sehat. Misalnya dengan rajin berolahraga, mengontrol pola makan, dan istirahat yang cukup.
Di tempat lain, Kepala Instalasi Pelayanan Jantung dan Vaskuler Terpadu RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) dr Novi Kurnianingsih SpJP(K) menjelaskan bahwa penanganan terhadap pasien jantung berbeda-beda. Pada pasien anak, jenis yang sering ditemukan kebanyakan adalah penyakit jantung bawaan.
Pada penyakit jantung bawaan yang dialami anak, biasanya ditemukan kondisi seperti klap atau katup jantung yang bermasalah. Jika klap tidak menutup sempurna, maka bakal mengganggu kinerja jantung. Ada pula anak yang mengalami masalah pada bagian sekat jantung. Padahal, sekat berfungsi untuk memisahkan jantung bagian kanan dan jantung bagian kiri.
”Kalau sekat jantung tidak berfungsi, darah kotor yang berada di jantung kanan akan bercampur dengan darah bersih di jantung kiri,” jelas Novi. Bercampurnya darah bersih dengan darah kotor menyebabkan Sindrom Eisenmenger pada anak. Hal tersebut membuat jantung harus bekerja lebih keras. Dampaknya, penderita bisa mengalami kelelahan, sesak napas, hingga kulit yang membiru.
Penyakit jantung bawaan pada anak bisa dideteksi melalui skrining. Seperti yang pernah dilakukan tim dokter RSSA pada 2024 lalu di beberapa sekolah di Kota Malang. ”Hasilnya, ada tiga anak yang diketahui mengidap penyakit jantung bawaan. Gejalanya diketahui dari riwayat anak semasa kecil yang sering mengalami kondisi seperti berat badan yang sulit naik, kaki bengkak, batuk, pilek, sekaligus infeksi berulang,” terang Novi.
Untuk menangani penyakit jantung bawaan pada anak, dokter akan melakukan metode endovaskuler. Yakni perawatan minimal invasif untuk meminimalkan luka sayat menggunakan kateter. Sementara pada usia dewasa, penyakit jantung biasanya timbul karena pola hidup yang tidak sehat atau penyakit penyerta. Untuk kasus berat, pemberian obat-obatannya bisa dilakukan seumur hidup. Selain pemberian obat, ada pula penanganan melalui pemasangan ring jantung pada penderita jantung koroner yang sudah parah. (mel/by)
Editor : A. Nugroho