Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Kelam Tragedi Mergosono pada 1947 Tewaskan 30 Warga Tionghoa

Aditya Novrian • Jumat, 3 Oktober 2025 | 17:15 WIB
BERUBAH WUJUD: Kondisi bekas pemakaman massal warga Tionghoa korban Tragedi Mergosono di Jalan Kolonel Sugiono kini jadi rumah.
BERUBAH WUJUD: Kondisi bekas pemakaman massal warga Tionghoa korban Tragedi Mergosono di Jalan Kolonel Sugiono kini jadi rumah.

Bekas Pemakaman Massal Kini Jadi Rumah.

Masa bersiap pada 1947 silam di Kota Malang memakan korban 30 warga Tionghoa. Mereka dituding pro-Belanda lalu digiring dari rumah dan dibantai di daerah Mergosono. Tragedi itu tercatat sebagai salah satu peristiwa paling kelam setelah Indonesia merdeka.

AKHIR Juli 1947, Kota Malang masih berada dalam bayang-bayang masa bersiap. Situasi kota tak sepenuhnya aman. Agresi Militer Belanda I baru saja meletus, sementara kecurigaan terhadap siapa saja yang dianggap dekat dengan Belanda masih begitu kuat.

Dari lorong-lorong sempit di Kebalen Wetan hingga Pasar Besar, keresahan tumbuh dan berubah menjadi tragedi. Orang-orang Belanda mulai diungsikan ke kamp internees di sekitar Jalan Ijen dan Simpang Balapan. Sebagian bahkan datang dari Lawang dan Singosari.

”Beberapa catatan menyebut ada juga orang Tionghoa yang memiliki kedekatan dengan Belanda ikut diungsikan ke Malang,” tutur Hannu Ayodya Mamola, penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang.

CATATAN HITAM: Jenazah warga Tionghoa dimakamkan di kuburan massal dengan latar belakang terdapat pabrik pengalengan yang dibakar di daerah Mergosono.
CATATAN HITAM: Jenazah warga Tionghoa dimakamkan di kuburan massal dengan latar belakang terdapat pabrik pengalengan yang dibakar di daerah Mergosono.

Namun sebagian besar orang Tionghoa tetap tinggal di rumahnya masing-masing. Mereka menempati kawasan selatan kota, dekat dengan klenteng Eng An Kiong atau tersebar di Jalan Semeru dan Kawi. Di tengah situasi tegang itu, satu peristiwa kecil memantik bara.

Peristiwa itu kini dikenal sebagai Tragedi Mergosono. Semua bermula dari sebuah toko di Kidul Pasar yang dikenal dengan nama Toko Kediri. Seorang perwira Belanda meminta soda limun di toko tersebut.

”Dalam hal ini dia (perwira Belanda) melakukan pemalakan. Kemudian dari sana muncul sentimen bahwa orang Tionghoa itu membantu Belanda,” cerita Ayodya.

Kabar itu menyebar cepat, memperkuat kecurigaan lama dari para pejuang. Orang Tionghoa dianggap diuntungkan pada masa kolonial. Karena mereka menyimpan uang Belanda dan tidak selalu sejalan dengan perjuangan republik.

Tuduhan itu masih belum jelas. Tapi cukup untuk menyalakan amarah. Pramoe, bekas anggota Stadswatch bentukan Belanda disebut sebagai dalang dari peristiwa berdarah.

Pada 31 Juli 1947, massa dari golongan bumiputera bergerak. Toko Kediri dijarah. Orang-orang Tionghoa dari Kebalen Wetan, Kotalama, Jalan Semeru, dan Kawi digiring menuju sebuah pabrik pengalengan di Mergosono. Total ada 30 orang dituduh sebagai kaki tangan Belanda.

Jurnal penelitian Geza Surya Pratiwi dari Arsip Nasional RI (2022) menyebut, dasar tuduhan itu antara lain ditemukannya uang NICA saat penggerebekan. Padahal, penyimpanan uang itu lebih karena alasan ekonomi. Nilai Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) jauh lebih rendah, 5,45 berbanding 100 dengan NICA. Namun dalam suasana penuh curiga, bukti itu dipakai untuk menjerat.

Eksekusi berlangsung singkat dan kejam. Orang-orang itu dibantai secara massal, sebagian dibakar bersama. ”Jenazahnya dikuburkan secara massal di halaman belakang pabrik,” kata Ayodya.

Lima hari kemudian, seorang aktivis Tionghoa Kwee Thiam Tjing turun tangan. Ia memastikan jenazah-jenazah itu dimakamkan secara lebih layak, lalu menuliskan tragedi ini dalam buku Indonesia Dalam Api dan Bara bersama Yayasan Panca Budi.

Dari 30 korban, 24 di antaranya berhasil diidentifikasi. Ada nama pesepak bola Sie Bian Kiet atau Freddy Sie, juga keluarga Tan, Yap, Koo, hingga Go. Sosok-sosok yang sebelumnya hidup berdampingan dengan warga Malang, hilang dalam satu malam.

Ayodya menyebut, keturunan korban tragedi Mergosono masih ada. ”Salah satunya ada yang tinggal di Jalan Halmahera (Comboran), kakek buyutnya menjadi korban,” jelas dia. Namun keluarga itu enggan bersuara, memilih menyimpan ingatan itu sebagai bagian kelam sejarah keluarga.

Hingga memasuki 1990-an, bekas pabrik pengalengan di Mergosono masih menyisakan jejak. Di tanah belakangnya berdiri bong, nisan khas Tionghoa penanda makam massal. Namun menjelang pergantian abad, lahan itu dijual. Makam dibongkar, jenazah dikremasi, lalu abunya dilarung keluarga. Kini, lokasi itu hanya menyisakan rumah kosong tanpa penghuni.

Tragedi Mergosono menjadi salah satu catatan pahit revolusi. Sebuah peristiwa yang lahir dari masa bersiap, ketika kecurigaan berubah menjadi amarah, dan amarah menjelma jadi pembantaian. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Militer belanda #Tionghoa #Kota Malang #Pemakaman