MALANG KOTA – Kinerja perhotelan di Kota Malang kembali goyah. Setelah sempat tertekan kebijakan efisiensi pada semester pertama 2025, kini tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada Agustus lalu turun lagi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPK Agustus hanya 50,15 persen, merosot 4,74 persen dibanding Juli.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin menyebut turunnya okupansi hotel tak lepas dari situasi politik yang memanas akhir Agustus. Demo besar yang terjadi di beberapa titik kota membuat wisatawan menunda rencana liburan. ”Penurunan okupansi hotel terlihat karena kondisi politik yang memanas bulan Agustus. Wisatawan akhirnya berpikir dua kali untuk berkunjung,” ujarnya, kemarin (3/10).
Dari total TPK, hotel berbintang mendominasi dengan angka 60,87 persen. Sedangkan hotel non-bintang hanya 37 persen. Mayoritas tamu yang menginap adalah wisatawan domestik.
Di hotel bintang, porsi tamu lokal mencapai 93,42 persen, sementara turis asing hanya 6,58 persen. Untuk hotel non-bintang, turis asing bahkan lebih kecil, hanya 2,98 persen. Rata-rata lama menginap tercatat 1,41 hari.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki mengakui tren penurunan itu. Menurutnya, okupansi Agustus memang hanya berkisar 60–70 persen. ”Padahal bulan sebelumnya sudah di atas 80 persen. Berbeda dengan hotel di kawasan wisata, masih bisa bertahan di angka 80 persen,” terangnya.
Meski begitu, ia optimistis tren kunjungan bakal membaik menjelang akhir tahun. Saat ini, hotel yang dikelolanya sudah mencatat okupansi 80 persen dengan dominasi tamu mancanegara.
”Akhir tahun biasanya lebih banyak turis asing datang. Kami terus berbenah dengan menyiapkan kamar yang nyaman dan harga sesuai kebutuhan tamu,” pungkasnya. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho