MALANG KOTA - Setelah sempat tertunda, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memastikan Bus Trans Jatim beroperasi tahun ini. Rencananya mulai mengaspal akhir November depan. Transportasi umum yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur itu akan melintasi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
Titik awal Bus Trans Jatim dari Terminal Hamid Rusdi, kemudian berlanjut ke Terminal Landungsari dan berakhir di Terminal Kota Batu. Harga yang dipatok untuk transportasi massal tersebut hanya Rp 5 ribu per penumpang.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, penentuan beroperasi akhir November depan merupakan hasil pertemuan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Selasa (14/10). Setelah itu pemkot menyosialisasikan ke paguyuban angkot.
Seperti diberitakan, penundaan operasional karena bus Trans Jatim menuai penolakan dari sopir angkot di Kota Malang. Alasannya karena jalur bus tersebut bersinggungan dengan sejumlah trayek angkot.
”Arahan dari Dishub Jatim, kami diminta sosialisasi kepada para sopir angkot,” kata Wahyu. ”Sudah kami lakukan dan Alhamdulillah mereka menyetujui Trans Jatim,” tambah alumnus Institute Teknologi Nasional (ITN) itu.
Persetujuan itu, lanjut dia, memperhatikan beberapa syarat. Di antaranya, pemkot dan pemprov harus memberdayakan sopir angkot, agar mereka tidak semakin tenggelam dengan keberadaan Trans Jatim.
Wahyu menjelaskan, pihaknya menyiapkan tiga skema dalam pemberdayaan sopir angkot. Mulai dari jangka pendek, menengah, dan panjang. Skema jangka pendek, mereka bakal dipekerjakan di Bus Trans Jatim. Bisa menjadi sopir bus, teknisi, atau kernet. ”Pemberdayaan ini juga merupakan instruksi langsung dari gubernur,” tegas mantan Sekda Kabupaten Malang itu.
Skema lain adalah menjadikan angkot sebagai feeder bus Trans Jatim. Namun untuk tahun ini, Wahyu mengatakan, hanya sebagian trayek yang akan dijadikan feeder. Alasannya keterbatasan anggaran. ”Kami lihat dulu yang prioritas mana dijadikan feeder. Nanti diupayakan menggunakan BTT (Belanja Tidak Terduga)," paparnya.
Penataan feeder angkot untuk Bus Trans Jatim akan dilanjutkan tahun depan. Pada 2026, anggaran yang disiapkan bakal lebih besar. Hal ini merupakan langkah jangka menengah yang disiapkan Pemkot Malang. "Tahun depan sekaligus rerouting (penataan ulang) trayek dan akan disesuaikan dengan Trans Jatim," imbuh Wahyu.
Sedangkan langkah jangka panjang adalah menerapkan Buy The Service (BTS), yakni mengubah armada angkot lebih nyaman. Misalnya dilengkapi AC, jadwal yang tetap dan tidak mangkal. ”Dengan berbagai skema yang sudah kami sosialisasikan kepada sopir angkot, akhirnya mereka setuju,” tandas pria yang akrab disapa Pak Mbois tersebut.
Di lain pihak, Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanngani Siraduhitta menekankan pentingnya pemberdayaan angkot. Legislator tidak ingin keberadaan transportasi baru seperti Bus Trans Jatim merugikan angkot. ”Mereka juga warga Kota Malang. Jadi nasib sopir angkot harus diperhatikan," tegasnya.
Setelah Bus Trans Jatim terealisasi, Amithya mendorong pemkot memenuhi janjinya, terutama untuk realisasi BTS. "Rancangan BTS sudah disampaikan ke kami, tetapi masih sebatas wacana. Kami harap dengan Bus Trans Jatim, bisa menjadi jalan pemkot memperbaiki sistem transportasi," tutur politisi PDIP itu.
Sementara itu, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang Purwono Tjokro Darsono menjelaskan, hingga kini pihaknya masih menunggu mekanisme operasional Bus Trans Jatim dan solusi untuk angkot yang masih beroperasi. ”Ada selentingan bahwa sebagian angkot akan dilibatkan menjadi feeder. Jumlahnya sekitar 100 armada," ucapnya.
Padahal dari perhitungan paguyuban angkot, dia melanjutkan, ada sekitar 800 angkot yang masih aktif beroperasi. 200 angkot di antaranya yang tersebar di 7 trayek berpotensi bersinggungan dengan Bus Trans Jatim. Di antaranya angkot di trayek ADL (Arjosari - Dinoyo - Terminal Landungsari) dan AL (Arjosari - Terminal Langdungsari).
”Artinya, sisa 100 angkot yang bersinggungan dengan trayek maupun 700 angkot lain di luar trayek yang bersinggungan kan juga harus dipikirkan," tegas lelaki yang akrab disapa Ipung itu.
Menurut dia, upaya yang harus dipikirkan untuk angkot yang berpotensi terdampak seperti rerouting atau penataan ulang terhadap rute-rute yang dilalui. Apalagi trayek angkot tidak pernah berganti sejak 1980 lalu. "Perlu penataan karena tidak semua angkot di trayek-trayek yang masih aktif," imbuhnya.
Selain rerouting, dia mengatakan, bisa saja ada upaya dalam bentuk peremajaan angkot. Terutama angkot yang mesinnya sudah rusak. Lalu, kemudahan dan pendampingan dalam pembayaran pajak.
Di samping itu, paguyuban angkot juga mengusulkan agar pemkot menerapkan angkutan untuk pelajar. "Saya pikir, adanya angkutan pelajar seperti di Kota Batu sangat strategis, mengingat tidak semua sekolah di Kota Malang bisa dimasuki bus," ucap Ipung.(adk/mel/dan)
Editor : A. Nugroho