Sejak 2017 lalu, SD Muhammadiyah 9 Kota Malang sudah menerapkan program makan sehat bersama. Orang tua diberi kebebasan menyiapkan bekal atau menggunakan jasa katering. Syaratnya harus higienis dan memenuhi empat sehat lima sempurna.
SETIAP pukul 12.00, seluruh siswa SDN Muhammadiyah 9 Kota Malang menyantap menu makan siang. Ini merupakan program wajib setelah lembaga pendidikan tersebut menerapkan full day school.
Siswa mulai masuk sekolah pukul 07.00, kemudian pembelajaran berlangsung hingga pukul 16.00. ”Penerapan full day school merupakan instruksi dari Pak Muhadjir saat menjadi Mendikbud (menteri pendidikan dan kebudayaan) dulu. Kebetulan cucunya sekolah di sini, kami diminta full day dan akhirnya diterapkan,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 9 Kota Malang Arip Hidayat kemarin.
Ada dua opsi penyediaan makanan untuk makan siang. Pertama, wali murid bisa membuat bekal untuk anak mereka. Opsi kedua adalah dengan katering. "Katering merupakan rekanan sekolah, kami tidak mengelola katering tersebut. Ada empat wali murid yang biasa menyiapkan katering," terang Arip.
Jumlah siswa yang memanfaatkan fasilitas katering cukup banyak. Mencapai 145 orang, dari total 712 siswa di SD Muhammadiyah 9 Kota Malang.
”Biasanya yang ikut katering orang tuanya itu tidak sempat menyiapkan bekal. Bisa jadi dua-duanya bekerja, sehingga lebih praktis dengan jasa katering," imbuhnya.
Jika menggunakan jasa katering, Arip menyampaikan, pihaknya mengatur menu makanan. Harus dipastikan higienis dan mencakup empat sehat lima sempurna.
Sedangkan untuk siswa yang dibuatkan bekal orang tua, pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing wali murid.
"Kalau itu orang tua sudah mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya," kata guru yang mulai bertugas sejak 2009 itu.
Arip mengatakan, penggunaan katering ini akan terus berjalan hingga pihak sekolah mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.
Sejauh ini, orang tua siswa setuju jika lembaga pendidikan tersebut mendapatkan MBG. ”Sampai saat ini, kami masih didata saja. Belum dipastikan mendapat MBG mulai kapan,” jelas Arip.
Tapi nanti setelah mendapat MBG, katering dan bekal dari orang tua akan ditiadakan.
”Kalau dari orang tua sementara ini khawatir dengan pemberitaan keracunan di beberapa daerah. Kami berharap nanti SPPG lebih baik, sudah mengantongi sertifikat agar menu yang disajikan lebih aman,” pungkas Arip. (adk/dan)
Editor : A. Nugroho