MALANG KOTA – Enam bulan lagi, Calon Jamaah Haji (CJH) yang masuk kuota 2026 diberangkatkan. Dengan sisa waktu enam bulan, mereka harus menyiapkan berkas administrasi hingga pemeriksaan kesehatan.
Hasil cek kesehatan menentukan berangkat atau tidaknya para jamaah ke tanah suci. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang mengungkap ada beberapa penyakit yang dapat menggagalkan jamaah berangkat. ”Aturan untuk tahun 2026, ada lima penyakit yang membuat CJH tidak bisa berangkat,” ujar Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Kota Malang Subhan kemarin.
Dia lantas menyebut beberapa penyakit tersebut. Di antaranya penyakit kronis seperti gagal ginjal, gagal hati, dan gagal jantung. Kondisi kesehatan lain yang menghambat keberangkatan adalah kehamilan pada trimester pertama, demensia, mengidap tuberkulosis atau penyakit menular lainnya, hingga pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi atau pengobatan. Masuknya daftar penyakit tersebut memperketat keberangkatan CJH mulai tahun depan. Hal itu dilakukan untuk meminimalkan jamaah haji yang meninggal di tanah suci Makkah.
Meski jadwal keberangkatannya sudah keluar, Subhan menambahkan, pihaknya belum mengetahui kuota haji Kota Malang untuk tahun depan. ”Namun porsi yang turun baru 80 persen," terang dia.
Porsi yang turun baru 788 CJH. Berdasar kuota haji tahun-tahun sebelumnya, biasanya Kota Malang mendapat porsi 1.100 sampai 1.200 CJH. Angka tersebut belum termasuk mutasi dari daerah lain.
Dari 788 CJH tersebut, 32 di antaranya adalah porsi prioritas lansia. Untuk porsi prioritas lansia terdiri atas CJH usia paling muda berusia 85 tahun dan paling tua 98 tahun. Meski demikian, pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap CJH porsi prioritas lansia. ”Karena dari pihak keluarga ada yang menyampaikan bahwa CJH yang bersangkutan sudah wafat,” ungkap Subhan.
Jumlah yang terkonfirmasi meninggal dunia sampai sekarang mencapai 30 CJH. Selain itu, dia melanjutkan, ada CJH dari porsi reguler. Untuk CJH porsi reguler adalah mereka yang mendaftar mulai Juli sampai Oktober 2012 lalu. Satu lagi, CJH porsi batu.
Subhan menjelaskan, porsi batu berarti CJH yang belum berangkat sejak dulu. Bisa karena menunda atau karena kondisi lainnya. "Jadi sampai sekarang kami masih terus melakukan konfirmasi kepada masing-masing CJH," imbuhnya.
Konfirmasi dilakukan melalui media sosial (medsos) maupun WhatsApp. Setelah dikonfirmasi, para CJH yang bisa berangkat diimbau untuk melakukan cek kesehatan di 16 puskesmas. Data mereka juga dikirimkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur.
Tujuan pengiriman data itu untuk menentukan CJH yang berhak melunasi biaya Haji. Sementara jika ada CJH yang tidak bisa berangkat akan diganti CJH nomor urut porsi berikutnya. Bisa juga CJH porsi cadangan.
Disinggung mengenai Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2026, CJH mengeluarkan biaya Rp 88,4 juta per jamaah. Turun dibandingkan tahun ini yang mencapai Rp 89 juta per jamaah. Pengusulan BPIH tahun 2026 didasarkan atas besaran nilai manfaat pengelolaan dana haji dan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih).
Subhan berharap pelaksanaan haji tahun depan bisa berjalan lebih baik. Tahun ini, pelaksanaan Haji sempat diwarnai perbedaan penempatan syarikah yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi.
Syarikah adalah perusahaan swasta Arab Saudi yang memiliki izin resmi untuk mengatur dan melayani jamaah dari seluruh dunia. Pelayanan yang diberikan mencakup transportasi, akomodasi, hingga konsumsi. Sistem syarikah mulai diterapkan sejak 2025.
Akibat dari perbedaan penempatan syarikah, dia mengatakan, ada 48 jamaah yang berpotensi terpisah penempatan maupun penerbangan. Lalu menjelang keberangkatan tersisa 25 jamaah. "Untuk tahun 2026 tetap ada syarikah, tapi hanya ada lima," beber Subhan. Sementara tahun lalu ada 8 syarikah.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif menambahkan, persiapan CJH berupa cek kesehatan sudah berlangsung di seluruh puskesmas sejak 6 Oktober lalu. "Sampai sekarang ada 290 CJH yang sudah melakukan pemeriksaan kesehatan," ucap dia.
Namun hasil dari CJH yang sudah melakukan pemeriksaan belum bisa diketahui. Sebab, situs resmi yakni Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes) belum dibuka oleh pemerintah pusat. Selain pemeriksaan kesehatan, CJH nantinya juga mendapat vaksin meningitis dan vaksin polio. (mel/dan)
Editor : A. Nugroho