MALANG KOTA –Pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) betul-betul berimbas terhadap pembangunan di Kota Malang. Tahun depan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak mengalokasikan anggaran untuk proyek mercusuar.
APBD 2026 diproyeksikan fokus untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satunya program RT Berkelas. Nantinya, setiap RT akan mendapat insentif Rp 50 juta. Program tersebut diperkirakan akan menghabiskan dana Rp 219 miliar untuk 4.081 RT.
Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji mengatakan, proyek dengan anggaran besar tidak menjadi prioritas tahun depan. Pada 2026, Pemkot Malang dan DPRD Kota Malang sepakat merealisasikan program RT Berkelas. ”Tidak ada pengajuan proyek dengan anggaran besar dari Pemkot Malang.
Sejauh ini program RT berkelas yang menyedot anggaran cukup besar,” ujar Bayu kemarin. Dia lantas membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bayu mengungkap, tahun ini terdapat beberapa proyek mercusuar. Pembangunan parkir bertanggal untuk pengunjung Kajoetanganheritage misalnya, menelan biaya Rp 9 miliar.
Kemudian medio 2020-2023 terdapat beberapa proyek mercusuar. Di antaranya pembangunan Jembatan Kedungkandangmenelan biaya Rp 75 miliar, Gedung Islamic Center menghabiskan Rp 95 miliar, dan Malang Creative Center (MCC) menyedot anggaran hingga Rp 98 miliar.
”Tidak adanya proyek besar dalam APBD 2026 juga dipengaruhi oleh penurunan transfer ke daerah,” terang politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. Dia mengatakan, program insentif RT menjadi prioritas lantaran janji politik Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dalam Pilkada 2024 lalu.
Sebenarnya ingin direalisasikan tahun ini, namun keterbatasan anggaran sehingga diproyeksikan tahun depan. Dana insentif RT nantinya disalurkan melalui perangkat kecamatan. Di Kecamatan Kedungkandang misalnya, akan mendapat bantuan per RT total Rp 48,1 miliar.
Kemudian Blimbingdialokasikan Rp 47,9 miliar,Sukun Rp 40 miliar, dan Lowokwaru Rp 40,9 miliar. Sedangkan Klojen dijatah Rp 38,8 miliar. Terpisah, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nurakhmadi menambahkan, sejauh ini belum ada proyek besar yang direncanakan tahun 2026.
Karena keterbatasan anggaran, perangkat daerah mitra Komisi C fokus pada operasional atau pemeliharaan saja. ”Pembangunan parkir Kajoetangan hanya tahun ini saja.Tahun depan tidak dianggarkan lagi. Tahun depan anggaran dishub habis untuk operasional,” jelas Dito yang membidangi komisi pembangunan itu.
Beberapa perangkat daerah yang menjadi mitra komisi C adalah dinas perhubungan (dishub) dinas lingkungan hidup (DLH) dan dinas pekerjaan umum penataan ruang perumahan dan kawasan permukiman (DPUPRPKP).
Di lain pihak, Kepala DPUPRPKP Kota Malang R.DandungDjulharjanto menyampaikan bahwa proses penghitungan anggaran masih berlangsung. Sehingga dia belum bisa memastikan terkait proyek yang menjadi prioritas pada 2026."Salah satunya Jembatan Sonokembang,” ungkap Dandung, kemarin (30/10).
Pihaknya sedang menganggarkan dana perbaikan jembatan yang mencapai Rp 5 miliar.Sebab jembatan di Jalan Simpang Sulfat Utara itu harus diperbaiki secara total. Tidak bisa hanya perbaikan insidental.
Selain jembatan, dia mengatakan, ada pula beberapa proyek strategis yang perlu direalisasikan. Misalnya pembangunan drainase di Jalan Bondowoso sampai Jalan Tidar dan drainase di Jalan Jaksa Agung Suprapto sampai Jalan Letjen Sutoyo.
Namun pembangunan di dua titik itu rencananya dilakukan menggunakan pendanaan dari program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).”Drainase lainnya menggunakan APBD 2026, tapi sekadar pemeliharaan dan pembangunan drainase baru secara kecil," ucap Dandung.
Selebihnya, pemkot belum memiliki rencana pembangunan proyek mercusuar.Selain infrastruktur, ada pula proyek di bidang kesehatan. Salah satunya adalah relokasi Puskesmas Bareng."InsyaAllah untuk relokasi dilaksanakan pada 2026," terang Husnul.
Relokasi dilakukan dalam rangka memindahkan Puskesmas Bareng yang semula di Jalan Bareng Tenes ke Jalan Bondowoso.Dengan demikian, Puskesmas Bareng akan lebih representatif. Selama ini lokasi puskesmas berada di gang sempit.
Mobil seperti ambulans kesulitan untuk mengangkut pasien, sehingga harus menunggu di ujung gang.Sementara di Jalan Bondowoso dinilai representatif karena berada di tepi jalan raya. Nantinya, pemkot akan membangun puskesmas baru di sana dengan kapasitas dua lantai. (adk/mel/dan)
Editor : A. Nugroho