MALANG KOTA – Pawon pernah dipandang sebagai pusat peradaban. Sebab, alat memasak menggunakan tungku api itu juga menjadi tempat masyarakat saling berkomunikasi. Poin itu diangkat dalam kegiatan bertajuk Nguri-uri Budoyo Pawon: Revitalisasi Pawon di Kampung Lingkar Kampus Universitas Brawijaya yang berlangsung di Kelurahan Ketawanggede mulai kemarin (5/11).
Ada berbagai rangkaian kegiatan yang digelar sampai hari ini (6/11). Mulai diskusi sejarah pawon, penampilan tari kreasi Bapang, penampilan Tari Sajojo, sosialisasi keamanan pangan, hingga demo masak oleh perwakilan ibu-ibu di Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru.
Redy Eko Prasetyo, ketua pelaksana kegiatan menyampaikan, kegiatan nguri-uri budoyo pawon itu merupakan kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti kelurahan, Universitas Brawijaya, dan Ditjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.
”Selama ini pawon tidak pernah diulik sebagai tempat yang strategis. Hanya sekadar pawon sebagai tempat untuk menghadirkan makanan,” ucapnya. Padahal, pawon atau dapur sebenarnya memiliki makna filosofis. Alat juga kaya akan fungsi. Yakni bisa membangun keharmonisan keluarga, mengurangi stunting, bahkan menjadi faktor kesejahteraan di masyarakat.
”Sekarang paradigmanya berubah. Yang menjadi penting justru ruang tamu,” imbuhnya. Karena itu, pihaknya ingin menyampaikan filosofi lain dari pawon. Penyampaian filosofi dilakukan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya demo memasak dari ibu-ibu.
Mereka menghadirkan hidangan yang banyak menggunakan rempah-rempah. Seperti urap-urap, mendol, hingga lodeh. Kemudian, ada juga diskusi seputar pangan. Melibatkan BPOM dan Prodi Gizi Universitas Brawijaya yang menyampaikan seputar keamanan pangan.
Total ada 30 UMKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut. ”Intinya, kami ingin menghadirkan kembali pawon sebagai ruang perjumpaan dan komunikasi,” imbuh Redy. Bahkan lebih lanjut, juga menjadi untuk ruang menyusun ide. (mel/by)
Editor : A. Nugroho