MALANG KOTA – Air hujan di Blimbing paling tercemar dibanding empat kawasan lain di Malang raya. Hal itu terungkap dari hasil penelitian Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton).
Peneliti Ecoton Alayka Ramatullah mengatakan, sampel mikroplastik dikumpulkan pada 7-9 November 2025. Pihaknya melakukan pengujian di lima titik, yakni Blimbing, Sudimoro, Gadang, Merjosari, dan Singosari. "Kandungan mikroplastik Blimbing tertinggi dengan 95 partikel per liter. Sedangkan di Singosari 32 partikel per liter, kemudian posisi ketiga Merjosari dengan 30 partikel,” ujar Alaik di Gedung Malang Creative Center (MCC), kemarin.
Dia menerangkan, posisi keempat dan kelima berturut-turut adalah Gadang dan Sudimoro. Kandungan mikroplastik yang tinggi salah satunya karena kebiasaan masyarakat membakar sampah. Ketika sampah plastik dibakar, masih tersisa partikel-partikel kecil yang kemudian mencemari udara di sekitar.
Selanjutnya faktor kedua adalah banyaknya timbunan sampah plastik. Hampir sama seperti dibakar. Ketika timbunan sampah plastik terkena panas terus-menerus, lama kelamaan akan memuai dan partikel-partikel kecil dari sampah itu mencemari udara.
Terkait batas minimal mikroplastik yang terkandung dalam air hujan, Alaik mengatakan, belum ada ketentuan baku mutu. Namun menurut jurnal kesehatan, lanjut dia, mikroplastik di air hujan jika terus masuk ke tubuh manusia bakal menimbulkan efek negatif jangka panjang. ”Seperti meningkatnya risiko kanker dan gangguan hormonal kepada laki-laki dan wanita," ungkapnya.
Untuk menekan kandungan mikroplastik, Alaik menyarankan stop penggunaan plastik sekali pakai. Di antaranya sedotan, sterofoam dan kresek. "Kami juga meminta pemkot mengesahkan perda pembatasan sampah plastik. Agar udara maupun air tidak terus tercemar," tandasnya. (adk/dan)
Editor : A. Nugroho