MALANG KOTA - Proses perakitan jembatan darurat atau bailey di Jalan Simpang Sulfat Utara, Blimbing dimulai sejak hari Minggu (9/11). Selama proses tersebut, akses jalan akan ditutup total. Proses pengerjaannya kurang lebih dua pekan.
Jembatan yang akan dipasang memiliki panjang 30 meter dan lebar 5 meter. Fasilitas itu sebagai solusi sementara setelah jembatan lama ambrol pada 10 Oktober lalu akibat hujan deras dan tingginya debit air sungai.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-PKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto menyampaikan, jembatan itu tiba pada Sabtu dini hari (8/11). Keesokan harinya langsung dilakukan perakitan awal dan pengerjaan fondasi tahap akhir.
”Saat ini mulai perakitan jembatan di lapangan dan akan berlangsung dua minggu,” ujar Dandung. Selama perakitan, pihaknya akan menutup total jembatan bambu yang sebelumnya digunakan warga. Itu dilakukan demi keselamatan pekerja dan warga yang melintas.
Setelah bailey terpasang, Pemkot Malang bakal membongkar jembatan bambu yang dibangun swadaya oleh masyarakat. Itu sudah mendapat persetujuan warga sekitar. ”Dari awal kami tidak rekomendasi dengan jembatan bambu karena cukup membahayakan. Dengan bailey ini lebih aman dan dimensinya lebih besar,” jelas Dandung.
Dia menjelaskan, jembatan nailey dipilih karena memiliki sistem konstruksi modular berbahan baja yang kuat, stabil, dan mudah dibongkar pasang. Jembatan itu ideal digunakan sebagai akses sementara di atas bentang sungai yang cukup lebar.
”Pembangunan jembatan permanen butuh waktu karena menunggu proses anggaran. Jadi, selama masa transisi, jembatan bailey menjadi sarana vital penghubung antar-wilayah,” ungkapnya.
Dandung menekankan, tidak ada biaya sewa dalam penggunaan bailey tersebut. Sebab, bahannya merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Pemkot Malang hanya perlu menyediakan anggaran untuk mengangkut dan memasang jembatan. ”Anggarannya tidak sampai miliaran seperti yang beredar. Sekitar Rp 350 juta,” beber dia.
Ketua RT 04/RW 05 Khotib Hambali berharap perakitan bailey bisa dipercepat. Sebab, selama proses penutupan, warga harus mencari akses baru. Banyak kerugian yang dialami warga. Baik dari segi waktu hingga biaya untuk bahan bakar.
”Kalau jembatan bambu dibongkar, kami dari awal tidak masalah, karena itu memang sementara. Kami malah menunggu jembatan yang lebih layak dari Pemkot Malang,” terang Khotib. (adk/by)
Editor : A. Nugroho