Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menelusuri Sisa Rel dan Stasiun Trem di Daerah Singosari Malang

Aditya Novrian • Kamis, 13 November 2025 | 16:14 WIB
TAK BERBEKAS: Kondisi terkini bekas emplasemen Stasiun Trem Singosari di Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari.
TAK BERBEKAS: Kondisi terkini bekas emplasemen Stasiun Trem Singosari di Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari.

Sempat Dibongkar Pejuang pada Masa Agresi Militer I

DI ANTARA deru kendaraan dan hiruk-pikuk jalur utama Malang–Surabaya, khusunya di balik deretan rumah di Kelurahan Losari, Singosari, pernah berdiri sebuah stasiun kecil yang sibuk oleh lokomotif uap. Bangunannya sederhana, berdinding kayu, beratap seng, dan berfondasi tipis dari beton.

Dari foto udara lawas milik Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Belanda, stasiun itu tampak mungil. Tak lebih dari 7x5 meter. Namun, bagi masyarakat Malang tempo dulu, di sinilah ujung utara dari jaringan trem legendaris Malang Stoomtram Maatschappij (MS) berakhir. Yakni Stasiun Trem Singosari.

Jejak sejarahnya terurai dalam buku De Tramwegen op Java bagian V terbitan M.M. Couvee tahun 1907. Di sana disebutkan jalur trem ke arah Tumpang telah beroperasi sejak 27 April 1901. Dua tahun kemudian, tepatnya 15 Januari 1903, jalur menuju pusat Kota Malang dibuka.

PERNAH JAYA: Penumpang berpose dengan latar belakang stasiun trem milik MS di Singosari pada masa Hindia Belanda awal abad ke-20.
PERNAH JAYA: Penumpang berpose dengan latar belakang stasiun trem milik MS di Singosari pada masa Hindia Belanda awal abad ke-20.

MS berdiri sejak 1897. Mula-mula trem menghubungkan Malang Jagalan dengan kawasan selatan. Di antaranya Bululawang, Gondanglegi, Turen, hingga Dampit dan Kepanjen. Jalur Gondanglegi–Kepanjen mulai beroperasi 10 Juni 1900.

Barulah ekspansi ke timur dan utara dilakukan. Membuka akses industri dan pertanian yang kala itu berkembang pesat di sekitar Singosari.

Menurut penghobi sejarah kereta api Endiarto Wijaya, Singosari kala itu memiliki dua stasiun. Satu milik MS dan satu lagi milik Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara Hindia-Belanda yang masih eksis hingga kini.

Menariknya, dua jalur itu bersilangan di titik yang kini menjadi Stasiun KA Singosari. ”Ada diamond crossing di perlintasan sebidang. Jalur trem dari utara ke selatan menimpa rel SS yang mengarah dari barat ke timur,” ujarnya.

Trem MS bahkan memiliki halte di kompleks Stasiun SS. Bukti bahwa Singosari menjadi simpul penting jaringan transportasi masa itu.

Stasiun Trem Singosari MS berada sekitar 2,6 kilometer dari stasiun SS di Desa Pagentan. Di baratnya, berjajar rumah-rumah dinas pegawai trem yang kini masih berdiri menjadi saksi bisu zaman ketika trem adalah urat nadi ekonomi Malang Raya.

Dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera (1926), disebutkan ada empat perjalanan pulang pergi setiap hari antara Malang Jagalan dan Singosari.

Trem pertama berangkat pukul 05.40. Sementara perjalanan terakhir tiba pukul 17.15. Menandakan betapa padat aktivitas transportasi saat itu.

Jalur trem ke Singosari selamat dari pembongkaran besar-besaran oleh Jepang pada 1942. Ketika sebagian besar lintasan trem di selatan Malang seperti Kepanjen–Gondanglegi dan Gondanglegi–Dampit dibongkar. Namun, nasib jalur ini berubah pada masa agresi militer Belanda I.

”Pejuang membongkar jembatan di Kali Mewek, dekat patung Kendedes agar tak bisa dilalui,” cerita Endiarto. Meskipun demikian, trem Singosari tetap beroperasi hingga awal 1950-an.

Tanda-tanda surutnya era trem mulai tampak pada 1953. Jalur dari Jagalan ke Kajoetangan hingga Blimbing ditutup disusul kemudian rute ke Singosari. Lokomotif-lokomotif MS dipindahkan ke depo lain seperti Pare (Kediri) dan Bangil.

Bus dan oplet mulai menggantikan peran trem. Sementara Djawatan Kereta Api (DKA) yang baru terbentuk kesulitan merawat jaringan lama. Sejak itu, jejak rel pelan-pelan lenyap ditelan waktu.

Kini, jika menelusuri RT 1/RW 4 Kelurahan Losari, bekas stasiun trem itu hanya tinggal lahan kosong di samping pabrik kulit peninggalan Belanda. Di tanah itu berdiri patok bertuliskan ”Tanah Milik PT KAI” yang menjadi satu-satunya penanda bahwa di sini pernah berdiri terminal kecil yang sibuk 100 tahun lalu.

Namun, masih ada yang mengingat jelas aktivitas sibuk trem di sana. Samiaji, perempuan 70 tahun yang tinggal di rumah dinas eks pegawai trem di tepi jalan raya, punya kenangan tersendiri.

”Dulu bangunan stasiun itu di tepi jalan, sekarang sudah jadi rumah. Di dalamnya masih ada bekas loket karcis, tapi sudah ditutup,” katanya sambil menunjuk ke arah rumah di sampingnya.

Ketika ia pindah ke Losari pada 1970, stasiun dan emplasemen sudah rata dengan tanah. ”Waktu saya datang, area belakang sini sudah sawah. Tapi kalau digali sekitar satu setengah meter, masih bisa nemu rel besi bekas trem,” tuturnya.

Sisa kejayaan trem kini hanya tinggal empat sumur tua yang masih tersisa di sekitar bekas emplasemen. Beberapa masih digunakan warga, sebagian ditutup. Samiaji menduga sumur-sumur itu dahulu dipakai untuk memasok air bagi lokomotif uap.

”Dulu ada tandon dan pipa besar untuk isi air lokomotif. Sekarang entah ke mana, mungkin diambil atau dijual,” ujarnya lirih. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#ms #SS #malang #KITLV