Hasilkan Penulis Skenario Film Pangku yang Sedot Perhatian Publik
BELASAN remaja berkumpul di salah satu kafe di Malang, pekan lalu. Umumnya adalah penggiat sastra yang tergabung dalam Pelangi Sastra. Sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, para calon sastrawan itu membahas sekaligus mempelajari sastra.
Meski berupa forum kecil dengan obrolan non-formal, Pelangi Sastra sudah melahirkan beberapa sastrawan kondang. Dua di antaranya adalah Felix K. Nesi dan Royyan Julian. Felix merupakan penulis skenario Film Pangku. Namanya makin dikenal setelah film tersebut berhasil menyedot perhatian publik.
Pada 2018, alumnus Universitas Merdeka (Unmer) Malang itu juga dinobatkan sebagai peraih Manuskrip Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tiga tahun kemudian, tepatnya 2021, dia meraih penghargaan sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Lantas siapa Royyan Julian? Dia penulis beberapa novel dan puisi yang pernah menjuarai Sayembara Manuskrip Puisi dan Kritik Sastra DKJ. Royyan juga menerima Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur, serta penghargaan sastra dari Dewan Kesenian Jawa Timur dan Gubernur Jawa Timur.
Alumnus Universitas Negeri Malang itu menjadi penulis mukim di program Residensi Penulis Indonesia (Komite Buku Nasional) dan Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T (Badan Bahasa). Selain Felix dan Royyan, ada sastrawan kondang lainnya yang terlahir dari Pelangi Sastra.
Komunitas yang berdiri sejak 7 Juli 2010 itu dibidani dua penggiat sastra, Denny Mizhar dan Ragil Supriyanto. Kelahiran Pelangi Sastra didasari atas kegelisahan kedua sahabat tersebut. Sebelum mendirikan Pelangi Sastra, keduanya lebih dulu aktif di salah satu komunitas seni di Kota Malang. Namanya Mozaik.
Komunitas itu dulu bergerak di bidang teater, sastra, dan berbagai seni lainnya. Pada 2009, Mozaik membuat subprogram bernama Pelangi Sastra on Stage. Kegiatan perdananya bertajuk Membaca Wahyu Prasetya, salah satu penyair asal Malang. Kemudian dilanjutkan kegiatan Membaca Ratna yang digelar di Rumah Budaya Ratna.
Dari dua gelaran sederhana itulah, benih Pelangi Sastra tumbuh. ”Waktu itu kami merasa sastra butuh wadah yang lebih fokus, lebih luas, dan lebih lentur untuk mengajak banyak orang,” kenang Denny.
Setahun kemudian, Pelangi Sastra resmi berdiri. Membawa filosofi sederhana namun kuat. Dipilih nama pelangi dengan makna keberagaman. Menerima siapa saja dengan latar belakang apa saja, asal minat di bidang sastra.
Meski tak memiliki sekretariat tetap, Pelangi Sastra tetap hidup dan terawat lewat pertemuan-pertemuan rutin dari kafe ke kafe. Inilah ciri khas mereka. Ruang belajar tidak dibatasi dinding, meja kayu, atau papan nama. Kadang di kafe kecil, sesekali di ruang terbuka. Tidak jarang meminjam sudut-sudut kota.
Dua program utama yang masih berjalan hingga kini adalah Rabu Nyastra, digelar dua minggu sekali. Sebelumnya juga ada Kelas Belajar Sastra setiap tiga minggu. Rabu Nyastra sering menghadirkan pegiat, penulis, atau anggota komunitas yang baru meluncurkan buku untuk dibedah bersama.
Selain itu, kegiatan insidental seperti festival dan program belajar juga jadi makanan sehari-hari bagi mereka. Bagi Denny, Pelangi Sastra bukan sepenuhnya tempat kelahiran sastrawan muda. Tetapi menjadi rumah yang mempertemukan serta mencintai dan menabur ilmu bagi mereka.
“Kalau lahir sastrawan muda, itu karena kemampuan dan usaha mereka sendiri. Kami hanya menyediakan ruang,” kata dia. Komunitas ini mendapat dukungan dari para sastrawan senior Malang. Di antaranya Profesor Djoko Saryono, Tengsoe Tjahjono, Nanang Suryadi, dan Yusri Fajar.
Penulis besar Indonesia seperti Dee Lestari, Okky Madasari, Sasti Gotami, dan berbagai tokoh lain pernah memberi materi dalam forum Pelangi Sastra. “Semua terlaksana berkat relasi yang baik. Banyak penulis besar bersedia hadir,” ujar Denny.
Namun perjalanan komunitas tak selalu mulus. Salah satu yang paling berat adalah regenerasi. Denny yang sejak awal menjadi motor penggerak, hingga kini masih dipercaya memimpin. “Tidak bisa memaksa orang untuk tinggal. Banyak yang kembali ke kampung halaman atau bekerja di luar Malang,” tuturnya.
Selain program reguler, Pelangi Sastra juga aktif menggelar festival sastra. Pada tahun 2018 digelar Pekan Sastra untuk kali pertama. Program berlanjut sampai 2020, kemudian pertemuan digelar virtual akibat pandemi Covid-19. Tahun 2023 mereka menerima bantuan dari Badan Bahasa Kemendikbud dan menggelar Festival Sastra Kota Malang.
Tahun berikutnya menggelar festival dengan tema Gastronomi Sastra. Meski tahun ini bantuan tidak turun, festival tetap berjalan. “Tahun ini Festival Sastra Kota Malang digelar pada 21–23 November dengan tema Simpang Kata, Simpang Kota. Terbuka untuk umum,” kata Denny.
Tahun ini pula, Pelangi Sastra dipercaya mengoordinasikan program Kementerian Kebudayaan RI, Manajemen Talenta Nasional (MTN) Asah Bakat dan MTN Ikon Inspirasi selama tiga hari dengan menghadirkan tokoh-tokoh seperti Yusi Avianto, Sasti Gotami, Yohan Fikri, dan Dee Lestari. Komunitas ini juga terhubung dengan Konsorsium Festival Sastra Nasional.
Dalam perjalanannya Pelangi Sastra pernah meraih penghargaan Komunitas Sastra dari Balai Bahasa Jawa Timur. Lahir dari ruang kecil, tumbuh dengan semangat bersama, Pelangi Sastra kini menjadi rumah yang pernah melahirkan sekaligus mengawal banyak sastrawan beken.(*/dan)
Editor : A. Nugroho