Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gedung SD di Kota Malang Jadi Tempat Persembunyian Ulama dari PKI

Bayu Mulya Putra • Selasa, 18 November 2025 | 16:01 WIB
SD Muhammadiyah 1 Kota Malang
SD Muhammadiyah 1 Kota Malang

KIPRAH Muhammadiyah di Kota Malang sudah diabadikan dalam buku. Judulnya ’Sejarah Dinamika Dakhwah Persyarikatan Muhammadiyah Kota Malang pada 1926-2020’. Buku itu ditulis Tim Penulis Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang yang diterbitkan tahun 2023.

Selain buku, ada banyak catatan sejarah pada masa lampau. Salah satu catatan sejarah yang memuat tentang Muhammadiyah adalah surat kabar Belanda. Yakni surat kabar De Indische Courant yang terbit 12 Maret 1932. Di salah satu artikelnya, pernah ditulis bahwa persyarikatan Muhammadiyah di Malang sudah melakukan banyak hal yang berjasa.

Mulai dari mendirikan sekolah, klinik rawat jalan untuk masyarakat kurang mampu, panti asuhan, hingga kegiatan-kegiatan lainnya. Sekolah menjadi wadah syiar Islam pertama dari Muhammadiyah.

MILAD KE-98: Perjalanan panjang SD Muhammadiyah 1 Kota Malang diawali dari tahun 1927. Nama awalnya yakni Hollandsch Indlansche School (HIS) Met de Qur’an. Foto bawah, dokumentasi gedung SD
MILAD KE-98: Perjalanan panjang SD Muhammadiyah 1 Kota Malang diawali dari tahun 1927. Nama awalnya yakni Hollandsch Indlansche School (HIS) Met de Qur’an. Foto bawah, dokumentasi gedung SD

Ada beberapa sekolah yang didirikan Muhammadiyah seperti Wustha’ Muballighin’, sekolah Mualimin Muhammadiyah di Kauman yang sekarang menjadi sekolah di dekat Masjid Jami’. Serta Hollandsch Indlansche School (HIS) Met de Qur’an.

Beberapa lembaga pendidikan itu pernah diulas dalam De Indische courant yang terbit pada 14 November 1932. Meski tidak tercantum waktu pastinya, disampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki rencana pendirian sekolah dan pesantren bagi guru agama pribumi.

Sebelumnya, Muhammadiyah juga sudah memiliki wustha’ atau lembaga pendidikan yang setara dengan SMP. Untuk melengkapi wustha’, perlu sekolah yang setara dengan tingkat dasar. Karena itu, Muhammadiyah membentuk Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Pada masa Hindia Belanda, HIS sebenarnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak kalangan elite yang merupakan keturunan Belanda, keturunan Eropa, serta pegawai Belanda. Kondisi pendidikan yang diskriminatif saat itu membuat para penggerak Muhammadiyah berinisiatif membentuk sekolah berbasis Islam yang tidak melihat strata sosial.

Lahirlah HIS Met de Qur’an yang diinisiasi Ronodihardjo, perintis sekaligus wakil ketua pengurus cabang Muhammadiyah di Kota Malang. Dirintisnya HIS versi Muhammadiyah dibuktikan dengan piagam pembangunan.

Dalam piagam itu, tertulis bahwa HIS sudah ada sejak 1927. Ada pula bukti pengurusan IMB pada 1978. Dalam sejarahnya, HIS Met de Qur’an semula berada di Gandekan. Itu merupakan permukiman padat penduduk di kawasan Kauman.

Lalu, pindah ke Jalan Talun. Setelah pindah ke sana, HIS Met de Qur’an kemudian berganti nama jadi HIS Muhammadiyah pada 1928. Sekolah itu hendak dipindahkan kembali. Tujuannya agar memiliki bangunan sendiri. Kawasan yang disasar untuk menjadi lokasi baru adalah Kawistraat atau sekarang Jalan Kawi.

Seperti yang ditulis De Indische Courant pada 15 Agustus 1932. Namun, karena lokasi lahan yang dinilai terlalu kecil oleh pemerintah kotapraja, permohonan pembangunan HIS sempat ditolak. Setelah melalui perjuangan panjang, pengurus cabang akhirnya bisa mendirikan HIS di lahan yang sekarang menjadi Jalan Kawi Nomor 7.

Dalam perjalanannya, di lokasi yang digunakan sampai sekarang itu, HIS Muhammadiyah atau SD Muhammadiyah 1 banyak mengalami pergantian kepala sekolah. ”Dari cerita yang saya dengar, salah satunya adalah Almarhum Bapak Dimyati,” cerita mantan Formasi Pengurus Cabang Muhammadiyah periode 1990-1999, Muh. Hadi.

Menurut Hadi, Dimyati adalah ayah dari almarhum artis kenamaan Laili Dimyati. Sejumlah informasi menyebut bahwa keluarga Dimyati dulunya bertempat tinggal di Jalan Semeru. Demi mengenalkan keberadaan sekolah, Dimyati kerap menggelar seni pertunjukan. Seni pertunjukan yang semula hanya digelar untuk internal sekolah, akhirnya dibawa ke luar.

Dari seni pertunjukan itu, terkumpul dana untuk pengembangan sekolah. Seiring berjalannya waktu, SD Muhammadiyah 1 semakin berkembang. Menjelang tahun 2000, bangunan lama sekolah hendak dibangun yang baru. Pembangunannya didanai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

”Namun saat pihak UMM siap dengan tenaga pembangunan dan dana, pembangunan malah terhambat IMB,” kenang Hadi. Alhasil, lelaki berusia 71 tahun itu pun segera bergegas menuju Kantor Kelurahan Kauman.

Di sana, Hadi menemui almarhum Sumardi yang merupakan Lurah Kauman. Dia meminta bantuan Sumardi untuk mencari dokumen-dokumen lama untuk pengurusan IMB. Seperti patok D, sertifikat, gambar bangunan, hingga bukti pajak. Beruntung semua ditemukan.

Perjalanan HIS Muhammadiyah atau SD Muhammadiyah 1 tidak lepas dari masa perjuangan. Dari informasi yang disampaikan turun temurun, gedung SD Muhammadiyah 1 pernah menjadi lokasi persembunyian para ulama Muhammadiyah. ”Tepatnya tahun 1965. Saat itu para ulama menjadi sasaran pencarian PKI,” kata Kepala SD Muhammadiyah 1 Rizka Silvia.

Selain menjadi tempat persembunyian ulama, SD Muhammadiyah 1 juga menjadi lokasi cikal bakal organisasi Muhammadiyah lain. Seperti Hizbul Wathan dan tim drum band. Sementara secara akademis, dulunya para pelajar yang menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah 1 didominasi warga sekitar.

Mulai warga yang tinggal di kawasan Bareng, Talun, hingga Kauman. Namun sekarang banyak dari luar Kecamatan Klojen. Cerita lain datang dari Agustina. Agustina sudah menjadi guru sejak 1997 di SD Muhammadiyah 1. Selama tahun 90-an, SD Muhammadiyah 1 sempat mengalami beberapa kali re-grouping.

Pertama dengan SD Muhammadiyah 4 yang lokasinya berada tepat di belakang. Kedua dengan SD Muhammadiyah 2. Itu dilakukan untuk menyiasati persaingan antara sekolah negeri dengan swasta yang cukup ketat pada awal 1990-an. Arif Efendi yang saat itu menjabat Kepala SD Muhammadiyah 1 membuat inovasi baru.

Mereka menggunakan pendekatan studi di luar kelas untuk menggaet kepercayaan masyarakat lagi. Metode itu mengantarkan kedekatan murid, guru, dan orang tua semakin erat.

Sehingga promosi dari mulut ke mulut makin gencar tanpa diminta. ”Jadi secara tidak langsung wali murid mengajak saudaranya ikut sekolah di SD Muhammadiyah 1 waktu itu,” ujar Arif yang kini berusia 60 tahun itu.

Menurut Arif, kunci utama menjalankan lembaga pendidikan adalah dengan terus berinovasi. Apalagi sekolahnya berdiri di kawasan perkotaan yang masyarakatnya sudah melek pendidikan. Otomatis sekolahnya harus memiliki nilai tambah yang tidak ada di sekolah lain untuk bisa bersaing.

Salah satu nilai yang menjadi daya tarik sekolahnya adalah keseimbangan dunia dan akhirat yang sama-sama diajarkan di sana. Waktu pembelajaran untuk keagamaan bisa sampai enam jam per pekan.

”Kami juga perbanyak praktik ibadah, bahkan salat duhur berjamaah sudah ada sejak awal berdiri hingga kini,” papar guru yang kini mengajar di SMK Muhammadiyah 1 Kota Malang itu. (mel/aff/by)

Editor : A. Nugroho
#PDM #UMM #malang #his