SELAIN lewat pendidikan, Muhammadiyah juga melakukan syiar Islam dengan mendirikan klinik kesehatan. Klinik kesehatan milik Muhammadiyah pertama ada di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Muhammadiyah Malang. Lokasinya di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 26, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen.
Pada awal didirikan tahun 1927, RSIA Muhammadiyah masih berupa balai pengobatan dengan nama Balai Kesehatan Muhammadiyah (BKM). ”Saat itu, perkembangannya masih belum baik dan laporan pelayanan tidak terekam,” kata Direktur RSIA Muhammadiyah Malang dr Farida Rozany MMRS.
Kendati demikian, dokter-dokter dari BKM atau yang juga dikenal dengan nama Polikliniek verg Moehammadiah tidak ragu menolong masyarakat. Mereka tidak membeda-bedakan suku, ras, dan agama dari masyarakat yang membutuhkan pertolongan kesehatan.
Seperti saat terjadi dua ledakan di Kota Malang. Ledakan pertama terjadi di perkampungan Tionghoa di pusat kota. Tidak lama kemudian terjadi ledakan di pabrik kembang api baru milik Sie Twan Hin di Gadang.
Dua insiden itu ramai diberitakan di beberapa surat kabar Belanda pada 1928. Seperti diberitakan Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, Bataviaasch nieuwsblad, dan Nieuwe Venlosche Courant.
Akibat dua ledakan yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan itu, tim penyelamat seperti polisi, pemadam kebakaran, hingga dokter harus diterjunkan dalam jumlah banyak. Saat itu ada 11 orang yang menjadi korban jiwa. Salah satu dokter yang datang adalah dokter dari BKM Muhammadiyah.
Bersama dokter lainnya, dokter tersebut membantu beberapa korban luka yang masih bisa diselamatkan. Masih dari surat kabar Belanda, pada awal dibuka, animo masyarakat yang datang untuk memeriksakan diri di BKM juga cukup tinggi. Itu diulas dalam De Indische Courant yang terbit 9 Desember 1927.
Di surat kabar tersebut, disampaikan bahwa jumlah pasien yang berkunjung ke BKM melonjak signifikan. Pada bulan Oktober 1927, tercatat ada 428 pasien. Kemudian bulan Desember pada tahun yang sama ada 1.551 pasien.
Ada yang berobat untuk penyakit mata dengan jumlah 333 pasien, 28 pasien penyakit dalam, 123 pasien penyakit kelamin, 971 pasien penyakit kulit, dan 7 pasien yang membutuhkan pembedahan.
Mereka ada yang berasal dari kalangan pribumi, Arab, hingga Tionghoa. Memasuki tahun 1980-an, pelayanan BKM semakin berkembang. Gedung BKM yang semula disewa dari Umar Farouk, dibeli oleh dua dokter pada masa itu. Keduanya adalah Prof Dr dr Soetomo Soewarto SpOG (KFM) dan Dr dr Samsul Islam SpMK MKes.
”Dulu beliau berdua yang beriktikad membeli bangunan. Sampai sertifikat milik dr Samsul dimasukkan ke bank,” kenang Musrifah yang pernah bekerja sebagai perawat RSIA Muhammadiyah pada 1980 sampai 2023.
Sejak 1980-an, BKM perlahan-lahan meningkatkan status menjadi Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Lalu naik status menjadi Rumah Bersalin Muhammadiyah hingga akhirnya menjadi RSIA Muhammadiyah.
Musrifah sendiri sudah mengikuti perjalanan RSIA Muhammadiyah sejak 1980-an. Kala itu, dia duduk di jenjang SMP. Dia merupakan warga asli Kecamatan Sumberpucung. Namun oleh tetangga yang biasa dipanggil Bu Ning, Musrifah diajak untuk bekerja di RSIA Muhammadiyah.
Semula, Musrifah ditempatkan di bagian gizi selama dua tahun. Selanjutnya baru diperbantukan untuk merawat ibu dan bayi yang baru dilahirkan. Padahal, Musrifah sebenarnya tidak pernah menempuh pendidikan di bidang gizi atau kesehatan. Mau tidak mau dia akhirnya harus beradaptasi.
Pada periode awal bekerja, Musrifah menyebut kalau jumlah dokter di RSIA Muhammadiyah masih terbatas. Jika ditotal hanya ada empat dokter tetap, satu dokter tamu, lima tenaga non-medis, dan empat tenaga medis. Padahal dalam satu bulan, mereka bisa mendapat 30 sampai 35 pasien yang hendak melahirkan.
”Saking padatnya, saya harus jaga 12 jam. Terkadang saya harus menjemput dokter menggunakan bemo pada dini hari jika ada pasien yang hendak melahirkan,” cerita Musrifah. Namun kondisi semakin membaik.
Meningkatnya pasien juga diiringi dengan perbaikan manajemen dan fasilitas. Banyak pasien yang merasa puas dengan pelayanan dari RSIA Muhammadiyah. Tidak jarang, yang melahirkan dari generasi ke generasi. (mel/by)
Editor : A. Nugroho