MALANG KOTA - Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi sorotan utama dalam The 6th International Conference on English Language Teaching (ICON-ELT) 2025 di Universitas Islam Malang (Unisma) pada 19–20 November lalu. Forum ini mengajak pendidik meninjau kembali posisi manusia di tengah derasnya inovasi digital yang ikut mengubah pola belajar bahasa Inggris.
Ketua pelaksana Ika Hidayanti SPd MPd menyebut konferensi tahun ini dirancang untuk merespons perubahan tersebut. Menurut dia, AI memberi peluang besar dalam pembelajaran, namun tidak sepenuhnya dapat menggantikan peran pendidik.
”AI memang alat bantu yang membuka ruang baru, tapi wilayah sentuhan manusia, intuisi, dan kepekaan tak bisa digantikan mesin,” ujarnya.
ICON-ELT 2025 juga menetapkan standar publikasi yang ketat. Naskah peserta diarahkan menuju jurnal bereputasi, mulai Studies in English Language and Education (Q1) hingga jurnal terakreditasi Sinta. Semua tulisan melewati blind review, sementara naskah yang belum lolos tetap dihimpun dalam prosiding ber-ISSN.
Rektor Unisma Prof Drs H Junaidi MPd PhD mengingatkan peserta bahwa sumber belajar kini tersebar luas. Karena itu, kemampuan mengembangkan diri harus menjadi prioritas. ”Capacity to know more is more critical than what is currently known,” ujarnya.
Konferensi itu menghadirkan pembicara dari lima negara. Antara lain Dr Willy A. Renandya (NTU Singapore) dan Dr Finita Dewi (UPI Bandung) tampil secara langsung. Sementara pakar dari Australia, Amerika Serikat, Thailand, Taiwan, dan Malaysia bergabung daring. (llk/adn)
Editor : Aditya Novrian