MALANG KOTA - Pergantian di pucuk pemerintahan kerap dibarengi dengan perubahan kebijakan. Salah satu contohnya, hadirnya Kampus Berdampak yang merupakan transformasi dari program Kampus Merdeka.
Politeknik Negeri Malang (Polinema) jadi salah satu kampus yang menyikapi hal itu dengan positif. Dalam menerapkan Kampus Berdampak, Polinema mengacu pada kebutuhan masyarakat dan industri.
Direktur Polinema Ir Supriatna Adhisuwignjo ST MT mengungkapkan, karena sudah dikonsep pemerintah, maka Kampus Berdampak harus dimaknai secara positif. ”Kampus tidak boleh menjadi satu menara gading yang terpisah dari masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya, wajib ada kolaborasi bersama masyarakat. Sebelumnya, melalui Kampus Merdeka, upaya itu bisa terbentuk. Kampus tidak hanya sekadar menghasilkan lulusan yang memiliki soft skill maupun hard skill mumpuni.
Kebijakan Kampus Berdampak diyakini Supriatna akan memberi efek positif yang signifikan. Tak hanya sekadar berubah secara istilah. ”Ke depan mahasiswa tidak hanya memiliki pengalaman di luar kampus. Namun juga akan mengeksplor pengalaman agar bisa memberikan dampak di masyarakat,” tegasnya.
Bagi Polinema, berbicara mengenai Kampus Berdampak harus disertai transformasi. Aspek yang menjadi prioritas dalam perubahan itu, tri dharma perguruan tinggi. ”Agar poin-poin yang ada dalam tri dharma tidak hanya berhenti menjadi program. Melainkan terdapat outcome dan impact,” imbuhnya.
Transformasi yang dilakukan Polinema untuk Kampus Berdampak antara lain di kurikulum. Kurikulum yang ada disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Dengan adanya penyesuaian itu, perkuliahan harus bisa menjawab problematika masyarakat.
Setelah penyesuaian kurikulum, Polinema akan melihat minat dan bakat mahasiswa. Hal tersebut, biasanya dilakukan saat awal masuk kuliah melalui talent mapping. Satu tujuannya, memperkuat identitas mahasiswa dan lulusan ke depan.
Polinema menerapkan adanya mata kuliah khusus yang menjadi ciri khas atau pembeda dengan mata kuliah umum. Biasanya mata kuliah penciri memiliki beban 2 SKS. Selain itu, Polinema juga meningkatkan kualitas SDM. Baik dosen maupun tenaga pengajar lainnya.
Bentuk peningkatan itu melalui magang hingga penelitian, sehingga dosen bisa memiliki jejaring di masyarakat maupun industri. Upaya lain, dengan menerapkan penyusunan skripsi atau tugas akhir mahasiswa yang mengangkat permasalahan dari masyarakat.
Polinema juga menggandeng dan menetapkan mitra-mitra strategis. UMKM atau pengusaha kecil hingga perusahaan, misalnya. Dari mitra-mitra itu, mahasiswa bisa menemukan permasalahan yang perlu mendapat jalan keluar.
Supriatna ingin, transformasi yang dilakukan harus menjadikan Polinema menjadi kampus yang memiliki daya saing. Baik di tingkat lokal maupun global. Hal tersebut sesuai rencana induk pengembangan kampus. ”Melalui upaya transformasi ini, saya berharap agar Polinema lebih baik, maju, unggul, bermanfaat, dan berdampak untuk masyarakat,” tandasnya. (mel/gp)
Editor : Aditya Novrian