Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Salah Satu Rumah Warga Terdampak Longsor, Maksimal Dua Pekan Perbaiki Jembatan Embong Brantas

Aditya Novrian • Selasa, 25 November 2025 | 17:39 WIB

 

DIBERSIHKAN: Salah satu rumah warga terdampak longsoran dari Jembatan Embong Brantas di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing.
DIBERSIHKAN: Salah satu rumah warga terdampak longsoran dari Jembatan Embong Brantas di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing.

MALANG KOTA - Sunarsih hanya bisa duduk sembari melihat relawan dan warga membersihkan rumahnya, kemarin (24/11). Perempuan berusia 55 tahun itu masih terkejut karena rumah miliknya di Jalan Temenggungan Ledok RW 12, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, terkena material Jembatan Embong Brantas yang longsor.

 

Sunarsih bercerita, longsor di Jembatan Embong Brantas terjadi pada Minggu malam (23/11) sekitar pukul 18.00. Saat itu di rumah ada dia, suaminya yang bernama Dasuki, dan dua cucunya. Saat pergi ke dapur, Sunarsih mendengar suara reruntuhan dan suara mirip petir yang menyambar.

 

Belum sempat mengecek kondisi, tubuh Sunarsih tertimpa reruntuhan material dan air di dapur. Beruntung dia masih selamat. ”Kalau bapak (Dasuki) dan cucu-cucu tidak kena apa-apa,” sambung Sunarsih. Sementara itu, ada beberapa barang di dapur yang rusak karena terkena material.

 

Selanjutnya, Sunarsih dan keluarga berencana mengungsi ke rumah salah satu kerabatnya yang berada di dekat Sungai Brantas. Selain rumahnya, rumah tetangga Sunarsih yang bernama Suma juga terkena material. Namun hanya mengalami rusak sedang karena material tertahan pohon nangka.

 

Ada pula rumah milik warga bernama Fudoli yang juga rusak sedang. Di rumah tersebut, Fudoli tinggal dengan empat anggota keluarga lainnya. Jika ditotal berdasar pendataan sementara, total ada 61 jiwa yang terdampak longsor Jembatan Embong Brantas. Mereka tersebar di 15 rumah. Didominasi oleh warga RT 1. Namun ada 4 warga yang berasal dari RT 2.

 

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama jajaran pemkot dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) sudah melakukan peninjauan kemarin. Dari hasil peninjauan itu, diketahui bahwa Jembatan Embong Brantas sebenarnya pernah diperbaiki. Perbaikan tersebut dilakukan di bagian trotoar pada September 2024.

 

Tidak hanya trotoar, perbaikan juga dilakukan pada saluran di bawahnya. Setelah diperbaiki, tinggi trotoar menjadi hampir sejajar dengan jalan. Setelah adanya bak kontrol, aliran air justru menuju ke permukiman warga di sisi timur. Karena di sisi timur belum terdapat plengsengan seperti di sisi barat, warga membangunnya secara swadaya agar air tidak mengalir lagi ke permukiman.

 

Air pun tertahan di atas karena tinggi trotoar dan jalan hampir sejajar. Diduga karena air yang menggenang di atas, ditambah jembatan yang kerap dilintasi kendaraan berat, plengsengan dan jalan tidak kuat menahan beban dan berakibat longsor.

 

”Dari BBPJN sudah siap untuk melakukan penanganan sementara. Paling cepat berlangsung satu minggu, paling lambat dua minggu,” tegas Wahyu. Agar kejadian serupa tidak terulang, dia meminta OPD terkait duduk bersama BBPJN untuk melakukan kajian.

 

Hasil kajian itu diharapkan bisa menghasilkan penanganan permanen. Pemkot juga perlu berkomunikasi dengan PT KAI karena status lahan di sekitar sana milik PT KAI. ”Kalau tidak ada penanganan permanen, cepat atau lambat akan berdampak lagi,” imbuhnya.

 

Reza Maulana Hermawan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) wilayah Gempol-Pandaan-Malang-Kepanjen BBPJN menyampaikan, untuk penanganan sementara pihaknya akan memasang terpal dan sand bag. Selain itu juga cerucuk demi mengantisipasi longsor susulan.

 

”Untuk penanganan permanen akan segera kami laksanakan. Caranya dengan memasang dinding penahan tanah,” terang Reza. Selain penanganan pada plengsengan, pihaknya juga akan memperbaiki bagian jembatan yang keropos.

 

Karena longsor dan rencana perbaikan sementara, arus lalu lintas di Jembatan Embong Brantas akan direkayasa. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang R Widjaja Saleh Putra mengatakan, jembatan hanya bisa dilintasi di satu sisi. Tepatnya sisi yang berada di depan Kampung Biru.

 

”Tetap dibuka seperti biasa, tapi mungkin nanti terjadi bottle neck dan kendaraan besar tidak boleh melintas dulu,” sambung Jaya. Kendaraan besar bisa mencari alternatif lain melalui Kabupaten Malang seperti Kecamatan Pakis atau Kecamatan Bululawang.

 

Dishub akan memasang pemberitahuan di pintu masuk Kota Malang. Seperti yang berbatasan dengan Kecamatan Bululawang, yakni Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Laksda Adi Sucipto yang berada dekat dengan Kecamatan Pakis, dan Jalan Ranugrati. (mel/by)

Editor : Aditya Novrian
#longsor #Embong Brantas #Kota Malang #Kecamatan Blimbing #jembatan